Shalat Dhuhur setelah shalat jumat

Shalat Dzuhur setelah shalat jumat

Oleh : Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman

Tidak boleh melakukan shalat dhuhur setelaj melakukan shalat jumat. Sebab suatu perkara dari agama Islam yang telah diketahui oleh setiap orang yakni Allah subhanahu wa ta’ala tidak mungkin akan mawajibkan melakukan dua shalat fardhu dalam satu waktu kepada para hambanya.

Orang yang ada disuatu tempat yang disana terdapat masjid dan ditegakkan shalat jumat didalamnya, maka dia wajib melakukan shalat jumat bersama kaum muslimin. Kecuali jika dia meyakini bahwa shalat jumat yang ditegakkan didalamnya adalah bathil secara syariat, disebabkan sebagian syarat-syaratnya tidak ada. Maka ketika itu dia tidak boleh melakukan shalat jumat karena dengan itu dia telah melakukan ibadah yang bathil yang tidak disyariatkannya menurut keyakinannya, meskipun dia keliru dan bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia bermaksiat dan melakukan shalat jumat dengan meyakini bahwa shalat jumat tersebut adalah bathil, maka kewajiban melakukan shalat dhuhur dan tetap menjadi tanggungannya. Jadi dia harus melakukan shalat dhuhur dan tidak menegakkan jamaah lain bersama yang lainnya. Karena yang demikian itu memecah belah mereka dan antara saudara-saudara mereka sesama muslim yang telah menegakkan shalat jumat sebelum mereka.

Adapun jika dia melakukan shalat jumat dengan meyakini bahwa shalat tersebut adalah sah, maka setelahnya tidak boleh melakukan shalat dzuhur. Baik melakukannya secara sendirian maupun secara berjamaah. Sebab jika dia melakukannya, maka dia menyelisihi perkara agama yang telah diketahui oleh setiap orang dan itu adalah sesuatu yang pasti, berdasarkan dugaan sebagian fuqaha!!

Tidak ada yang menukilkan kepada kita bahwa sesungguhnya ada seseorang dari kalangan sahabat dan ulama salaf yang telah mampu berijtihad, melakukan shalat dzuhur setelah shalat jumat. Sesungguhnya Asy Syafi’i ketika datang ke baghdad yang disana terdapat beberapa masjid, tidak ada seorangpun yang menukilkan kepada kita bahwa dia melakukan shalat dzuhur setelah melakukan shalat jumat. Kalau seandainya dia melakukannya maka perbuatan tersebut tidak menjadi syariat yang harus diikuti.

Orang-orang yang melakukan shalat dhuhur setelah melakukan shalat jumat janganlah mengira bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang mudah. Karena melakukan shalat berarti menambah kebaikan. Maka perkara tersebut mengandung bahaya yang besar, dari sisi bahwa dengan hal itu dia telah mensyariatkan suatu ibadah, yang tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan Allah Yang Mahasuci yang berhak menetapkan syariat.

Jadi barangsiapa yang membuat sesuatu dalam syariat, maka dia telah menjadikan dirinya sekutu bagi Allah dalam perkara penyembahan (Uluhiyah) atau pengaturan (Rububiyah). Barangsiapa yang menyetujui hal ini, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai sekutu. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syura : 21)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan makna bahwa ahli kitab telah menjadikan para tokoh dan pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah dengan ungkapan : “Sesungguhnya ahli kitab tidak menyembah para tokoh dan pendeta itu, akan tetapi jika para tokoh dan pendeta mereka telah menghalalkan sesuatu untuk mereka maka mereka menganggap halal perkara tersebut. Dan jika para tokoh dan pendeta mereka mengharamkan sesuatu atas mereka, maka merekapun mengharamkannya.”[1]

Kemudian mereka tidak menetapkan hukum-hukum itu kecuali hal itu menyerupai syubuhat (permahaman yang rancu, membingungkan), sehingga dengan itu terjadi bid’ah-bid’ah agama dalam Islam, karena dia telah menambah kebaikan atau ibadah.

Al-Bujairami telah emnulis tentang perkataan Asy Syaikh Zakaria al-Anshari dalam al-Minhaj :
“Agar dia tidak mendahului jumat dengan sesuatu yang terlarang dan tidak mengiringkannya dengan jumat ditempat menegakkan shalat jumat itu, kecuali jika orang-orangnya banyak, dan mereka mendapati kesulitan untuk berkumpul ditempat. “Teks pernyataannya : “Maksudnya jumlah mereka banyak, dimana mereka mendapati kesulitan untuk berkumpul. Dalam arti mereka mendapati kesulitan dengan sebab adanya orang-orang yang ikut berkumpul, yang tidak bisa ditahan untuk mendatanginya, yaitu yang dibolehkan menghadiri jumat dantidak diwajibkan menghadirinya.

Mereka itu berasal dari kalangan para budak, anak-anak dan wanita. Berdasarkan pendapat ini, maka dibolehkan menegakkan beberapa shalat jumat dalam satu kota karena ada kebutuhan atau kepentingan. Maka ketika itu tidak diwajibkan melakukan shalat dhuhur, sebagaimana yang telah dinukilkan oleh Ibnu Abdul Haq.”[2]

Sedangkan orang yang berkata dari kalangan orang-orang yang hidup dimasa akhir : bahwasanya disunnahkan menegakkan shalat dhuhur setelah jumat!! Dalam rangka menghindar dari penyelisihan orang yang melarang menegakkan beberapa jumat secara mutlak, maka perkataan ini tidak benar.

Kesimpulannya bahwa larangan melakukan shalat jumat dua kali dalam satu kota, jika dikaitkan dengan syarat menegakkan shalat jumat yakni tidak melakukan shalat lagi yang semisalnya dalam satu tempat atau lebih banyak, maka yang demikian ini dari mana? Dan dalil apa yang menunjukkan atasnya?!

Jika engkau berkata bahwa dalilnya adalah hadits tentang “Jumat bagi orang yang dahulu.”

Maka saya menjawab : “Ini bukan hadits dan tidak ada asalnya dari sunnah melainkan perkataan tersebut adalah pendapat sebagian orang-orang yang hidup dimasa akhir dari kalangan syafi’iyah, yang merupakan dugaan orang yang tidak memiliki pengetahuan hadits Nabawi!”[3]

Jika engkau berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengizinkan menegakkan shalat jumat selain shalat jumatnya di madinah dan desa yang bersambung dengan kotanya.”

Maka saya katakan : “Perkataan ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa sikap beliau itu menjadi syarat yang menghendaki pembatalan bahkan tidak juga menunjukkan hukum wajib yang nilainya dibawah syarat tersebut.”

Berdasarkan perkiraan dalam kebenaran pembicaraan yang telah lalu yakni : “Bahwa hukum seperti ini juga terdapat dalam seluruh shalat lima waktu, sehingga menegakkan shalat berjamaah disuatu tempat yang tidak diijinkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk ditegakkan berjamaah didalamnya adalah tidak sah, maka pendapat ini adalah suatu kebathilan yang paling bathil.”

Jika shalat yang terakhir dari dua jumat itu dihukumi batil, karena ada yang melarang, sedangkan menegakkan dua jumat itu hukumnya masih samar, lalu apa yang melarang tiu? Pada dasarnya hukum-hukum peribadahan disetiap tempat dan masa adalah sah kecuali ada dalil yang menunjukkan larangan. Sedangkan disini sedikitpun tidak ada larangan terhadap amalan tersebut.[4]

Benar, menegakkan beberapa kali shalat jumat bukan dalam keadaan darurat adalah menyelisihi sunnah. Maka seyogyanya dipisahkan tempat shalat tersebut dengan tidak memperbanyak jamaah dan berusaha untuk menyatukannya jika memungkinkan. Sehingga demikian itu hikmah dan faidah-faidah disyariatkan shalat jumat itu benar-benar terealisir dengan sempurna. Demikian juga akan menghapus perpecahan yang terjadi dengan sebab shalat jumat itu ditegakkan disetiap masjid yang besar maupun yang kecil, sehingga sebagiannya hampir saling bersambung, dimana orang yang telah mencium bau fiqih yang benar tidak mungkin mengatakan bahwa amalan itu diperbolehkan.[5]

Pemilik kitab al mubdi’ menyebutkan bahwasanya tidak khilaf dalam masalah larangan menegakkan shalat jumat dan ‘Ied lebih dari satu tempat didalam kota tanpa ada keperluan kecuali ‘Atha’.[6]

As Subki rahimahullah berkata :
“Banyaknya tempat yang menegakkan shalat jumat tanpa ada udzur adalah suatu kemungkaran yang telah diketahui oleh setiap orang dalam agama Islam.[7] Sesungguhnya Al Qashim telah menyelesaikan suatu pembahasan yang berjudul “Menegakkan jumat diluar tempatnya disebabkan jumlah pelaksanaan jumat yang banyak” sampai kepada kalimat : “Harus meninggalkan pelaksanaan jamaah jumat disetiap masjid yang kecil, baik yang ada di rumah-rumah atau dijalan-jalan dan disetiap masjid yang besar juga, yang tidak dibutuhkan disebabkan cukup dengan masjid yang lainnya.”

Setiap penduduk suatu tempat yang besar bergabung kemasjid yang paling besar daya tampungnya (Masjid Jami’). Kemudian hendaklah kita membuat suatu batasan untuk setiap penduduk suatu tempat yang besar seperti kota. Maka denganitu tidak membutuhkan banyak masjid. Sehingga syi’ar-syi’ar dalam masjid-masjid jami’ yang menghimpun jamaah tersebut tampak sangat indah, sehingga dia keluar dari pelaksanaan jamaah jumat yang banyak itu.[8]

Al Albani mengomentari tentangnya dengan perkataannya :
“Inilah yang benar, yang telah dipahami oleh setiap orang yang mengerti tentang sunnah dan yang memperhatikan keadaan jumat serta jamaah di masa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam[9]

Ringkas kata dan inti sarinya :
Sesungguhnya orang-orang yang berkata boleh mengulangi dhuhur setelah shalat jumat adalah bersandar dengan hadits yang tidak ada asalnya dari sunnah. Serta mereka menambah beberapa syarat atasnya dengan tanpa dalil dan syubhat itu tidak menjadi dalil. Wahai kaum muslimin, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam beragama. Sesungguhnya ada kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah yang tetap dalam al kitab dan as sunnah, berdasarkan nash yang terang, yang tidak membutuhkan lainnya. Yang demikian itu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda kepada orang badui yang bersumpah bahwa sesungguhnya dirinya tidak akan menambahi atau mengurangi shalat lima waktu dan seluruh kewajiban-kewajiban dari rukun-rukun Islam : “Dia beruntung jika dia benar.” Atau : “Dia akan masuk surga jika dia benar.”

Dihai, seandainya golongan yang besar dari kaum muslimin melakukan semua kewajiban-kewajiban yang pasti, dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, serta menghabiskan usia untuk melaksanakan amalan-amalan sunnah yang disyariatkan.”[10]

Foot note :

[1]. Dikeluarkan oleh At Turmudzi didalam al Jami’ (5/278) nomer (3095), Ibnu Jarir di dalam At Tafsir (1/81), Ibnu Sa’d, Abdun bin Hamid, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ayh Thabrani, Abu Asy Syaikh dan Ibnu Mardawaih sebagaimana di dalam Ad Durarul mantsur (3/230). Dan untuk hadits ini mempunyai jalan-jalan dan syawahid yang menyambungkan dengannya kederajat hasan, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Taimiyah didalam Al Iman (hal 64).

[2]. Hasyiyah al Bujairami ‘Alal Minhaj (1/423)

[3]. Al Ajwibah An Nafi’ah (hal 46) dengan singkat.

[4]. Al Mau’idzah al Hasanah (hal 15-16)

[5]. Al Ajwibah An Nafi’ah (hal 47)

[6]. Lihat Kasful Qana’ (1/351).

[7]. Al I’tisham bil wahidil ahad min Iqamati Jumatain fi baladin (1/190 – masuk dalam kandungan fatawa-nya).

[8]. Ishlahul Masajid (hal 51).

[9]. Al Ajwibah An Nafi’ah (hal 74)

[10]. Lihat bid’ahnya shalat dzuhur setelah shalat jumat dalam Ishlahul masajid (hal 49-52), Fatawa Muhammad Rasyid ridha (3/942) (4/1550-1551) (5/1965-1966), As Sunan wal mubtada’at (hal 10, 123), Al Ajwibah An Nafi’ah (hal 46, 47), Majalah Al Manar (hal 23/259, 497) (34/120), Ad Dinul Khalish (4/175-182), Al-Mau’idzah al hasanah (hal 15-16) dan kitab kami I’lamul ‘Abid fi Hukmi Tikraaril Jama’ah fil Masjidil Wahid.

(Sumber : “KOREKSI ATAS KEKELIRUAN PRAKTEK IBADAH SHALAT” penerbit : Maktabah Salafy Press, halaman 488 – 494)

About these ads
By Abu Bakrah Posted in Bid'ah