KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA

Duduk di masjid-masjid Allah, menghadiri majelis untuk mempelajari ilmu agama, sangat besar nilainya disisi Allah dan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda:

“Tidak ada suatu kaum pun, yang duduk di rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, saling mempelajarinya antara sesama mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka akan diliputi oleh rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan allah akan menyebut orang yang hadir di majlis itu didepan para malaikatnya.” (HR. Muslim)

Dan ini adalah keutamaan yang sangat besar, seorang yang berada di masjid Allah, duduk mempelajari agama Allah, bersama-sama mempelajari kitab Allah, seakan-akan ia berada di taman sorga, dan pasti membawa keberuntungan, sebab Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda:

“Mereka itu (penuntut ilmu) adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan merugi.”

Oleh karena itu, mempelajari ilmu agama adalah merupakan suatu ibadah yang sangat agung khususnya di zaman ini, tatkala ilmu agama mulai dianggap aneh dan asing oleh sebagian kaum muslimin sendiri.

Padahal tuntunannya kadang dia baca pada sebuah ayat, kadang ditemukan dalam hadits-hadits, tertera tuntunannya, namun karena keterasingan agama ini, manusia jauh dari tuntunan agamanya, sehingga tiap kali ada permasalahan agama tersebut yang dinampakkan, dimunculkan, atau diamalkan, maka sebagian orang menganggapnya sebagai perkara yang asing.

Dan tentunya fenomena ini, mengharuskan kita untuk kembali mempelajari agama kita, sebab letak kejayaan umat islam, adalah dengan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-.

Jika ingin dikokohkan oleh Allah dimuka bumi, maka hendaknya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah serta beramal dengannya, Allah –سبحانه و تعالى- berfirman:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

“Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan orang yang beramal shalih, mereka akan di jadikan penguasa di muka bumi sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (An Nur: 55)

Kejayaan dan kemuliaan islam hanya bisa diraih dengan berpegang teguh dengan Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-, inilah yang disebutkan oleh Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- dalam hadits riwayat Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin Umar –رضي الله عنه-:

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah[1], dan kalian telah sibuk dengan peternakan, dan kalian telah ridho dengan pertanian[2], dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan, tidak akan dicabut kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian”

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa, jalan untuk kembali kepada kejayaan ummat yaitu dengan cara kembali mempelajari agama, dan agama kita adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-, karena itu kita dituntut untuk melatih diri kita mempelajari ilmu agama yang sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-, kemudian mengamalkannya. Serta saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda:

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu adalah nasehat.” (HR. Muslim)


[1]     Salah satu bentuk jual beli dengan cara riba. Misal: Si A membeli barang dari si B dengan harga kredit (tidak kontan), Si A membeli barang dari Si B seharga Rp.1000, Si A membayar Rp.500 lalu sisanya nanti di bayar bulan depan, karena si B tau bahwa si A yang membeli barangnya sebenarnya tidak butuh barang, si A membeli barang tersebut hanya untuk di jual kembali agar mendapat modal lebih banyak, maka si B kembali membeli barang tersebut dengan harga lebih rendah dan dengan kontan Rp.800. Sehingga barang itu kembali kepada si B, dan si A masih berhutang kepada si B sebanyak Rp.500. Dan praktek ini banyak dilakukan disebagian kota-kota besar.

[2]     Sibuk mengurusi dunia, sehingga lupa dengan kewajibannya dalam agama.

Sumber: Di transkrip dari muqaddimah dauroh ilmiyah yang disampaikan oleh Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi dalam acara dauroh membahas kita Qawa’idul Arba’

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s