Berdiri ketika shalat

2. BERDIRI KETIKA SHALAT

Oleh : Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengerjakan shalat wajib dan shalat sunnah dengan posisi berdiri. Hal itu beliau lakukan dalam rengka merealisasikan firman Allah yang berbunyi :


“Berdirilah kamu karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al Baqarah : 238)

Adapun ketika bepargian, beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah diatas kendaraannya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah membimbing ummatnya, ketika mereka dirundung ketakutan yang mencekam untuk shalat sambil berjalan kaki atau berkendaraan, sebagaimana telah disebutkan diatas, yaitu didalam firman Allah subhanahu wa ta’ala :


“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha [1]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Al Baqarah : 238 – 239)

“Dalam sakit yang menyebabkan kematiannya, Rasulullah mengerjakan shalat dengan duduk.”[2]

Demikian pula dalam kesempatan lainnya sebelum itu. Saat beliau shallallahu’alaihi wa sallam menderita sakit (Beliau shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan duduk), sementara para sahabat di belakang beliau shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan berdiri, maka beliau memberikan isyarat kepada mereka agar duduk, lalu mereka pun duduk. Setelah shalat, beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Hampir saja tadi kalian melakukan perbuatan bangsa persia dan romawi, mereka berdiri dihadapan raja-raja mereka, sementara raja-raja mereka dalam keadaan duduk. Janganlah kalian melakukan itu, sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia ruku’ maka ruku’lah, jika ia bangkit maka bangkitlah. Jika ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian [semuanya] dengan duduk.”[3]

Foot note :

[1]. Pendapat yang benar menurut jumhur Ulama bahwa Shalat wustha adalah shalat ashar. Diantara mereka (yang berpendapat demikian) adalah Abu Hanifah dan dua muridnya. Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir telah membawakan banyak riwayat hadits yang membicarakan tentang shalat wustha ini.
[2]. HR. Tirmidzi beliau menshahihkannya dan Ahmad
[3]. HR. Bukhari dan Muslim. Hadits ini telah di takhrij dalam kitabku Irwaul Ghalil no. Hadits 394.

(Disalin dari “Sifat Shalat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam Dari Takbir Hingga Salam” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, terbitan Pustaka Sumayyah. Halaman : 93-95)

By Abu Bakrah Posted in Fiqih