Menghadap kiblat

1. MENGHADAP KEARAH KIBLAT KETIKA SHALAT

Oleh : Al Muhaddits Al ‘Allamah Abu ‘Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al Arnauth Al Albani rahimahullah.

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, apabila berdiri untuk mengerjakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah, beliau menghadap kearah ka’bah.[1] Rasulullah telah memerintahkan hal tersebut kepada orang yang shalatnya jelek, beliau bersabda :

“Apabila kamu berdiri untuk mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kearah kiblat, lalu bertakbirlah (takbiratul ihram).” [2] (HR Bukhari – Muslim)

“Dalam suatu perjalanan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat sunnah, dan shalat witir diatas kendaraannya dengan menghadap kearah manapun sesuai dengan arah yang dituju oleh kendaraannya.” [kearah timur dan barat].” [3]

Dalam perkara ini turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi :


“maka kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah.” (al Baqarah : 115)

Apabila hendak mengerjakan shalat sunnah diatas untanya, terkadang beliau mengarahkan untanya kearah kiblat, lalu beliau bertakbir, setelah itu beliau shalat kearah manapun sesuai dengan arah yang dituju oleh kendaraannya.[4] Beliaupun pernah rukuk dan sujud diatas kendaraannya dengan cara mengangguk-anggukkan kepalanya. Beliau menjadikan sujudnya lebih rendah dari pada rukuknya.[5] Apabila beliau hendak mengerjakan shalat fardhu, beliau turun (dari kendaraannya), kemudian beliau shalat dengan menghadap kearah kiblat.[6] Adapun dalam kondisi perang yang sedang berkecamuk, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah membimbing ummatnya agar mereka mengerjakan shalat sambil berjalan kaki atau sambil menaiki kendaraan, dengan menghadap kearah kiblat ataupun tidak.[7] Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila mereka sedang bertempur, maka sesungguhnya (shalat itu) hanyalah berupa takbir dan anggukan kepala.” [8]

Dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Antara arah timur dan Barat adalah kiblat.”[9] (HR Tirmidzi dan Hakim)

Jabir radhiyallallahu’anhu berkata :
“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan atau dalam suatu penyerbuan, lalu kami diselimuti kabut. Maka kami berusaha untuk mendapatkan arah kiblat. Setiap orang dari kami berselisih. Setiap orang dari kami mengerjakan shalat dengan membuat pembatas. Diantara kami ada yang membuat garis didepannya, agar bisa mengetahui posisi atau tempat kami masing-masing. Pada keesokan harinya kami melihat apa yang kami lakukan semalam, ternyata kami mengerjakan shalat tidak menghadap kearah kiblat. Lalu kami ceritakan kejadian itu kepada Nabi (maka beliau tidak memerintahkan kami untuk mengulangi shalat kami). Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Shalat kalian sah.”[10] Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengerjakan shalat menghadap baitul maqdis [sementara kakbah berada dihadapan beliau]. Hal itu terjadi sebelum turunnya ayat ini :

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh Kami akan memelingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram…”(Al Baqarah : 144)

Setelah ayat ini turun, beliau shalat menghadap kearah kakbah. Ketika orang-orang tengah menunaikan shalat subuh di masjid quba, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka, lalu dia berkata : “Sesungguhnya malam ini telah diturunkan al Qur’an kepada Rasulullah. Beliau telah diperintah untuk menghadap kearah ka’bah, maka menghadaplah –kalian semua- ke arah ka’bah.” Ketika itu wajah-wajah mereka tengah menghadap kearah negeri syam (Baitul Maqdis), lalu mereka berputar. [Imam shalat mereka berputar, sampai akhirnya mereka semua dapat menghadap kearah ka’bah]. [11]

Foot Note

[1]. Ini merupakan sesuatu yang qath’i karena riwayatnya mutawatir, sehingga tidak perlu lagi untuk ditakhrij. Dalil-dalil tentang hal ini akan disebutkan nanti.

[2]. Bukhari, Muslim dan Sirraj. Hadits yang pertama telah ditakhrij dalam Al-Irwa’ (298).

[3]. Idem.

[4]. Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat (1/21) dan Adh Dhiya dalam Al-Mukhtarah dengan sanad hasan. Dan dishahihkan oleh Ibnu Sakan dan Ibnu Mulaqqin dalam Khalashatul badril Munir (22/1). Sebelum mereka, hadits inipun telah dishahihkan oleh Abdul haq Al-Isybili dalam Ahkam beliau (no. 1394 dengan tahqiq yang saya berikan). Pendapat ini telah dipilih oleh Imam Ahmad, sebagaimana riwayat yang dinukil oleh Ibnul Hani dalam Masail-nya (1/67) dari beliau.

[5]. Ahmad dan Tirmidzi dan Dishahihkan olehnya.

[6]. Bukhari dan Ahmad.

[7]. Bukhari dan Muslim. Hadits telah ditakhrij dalam kitab irwaul Ghalil hadits no. 588.

[8]. Baihaqi dengan sanad Shahihain.

[9]. Tirmidzi dan Hakim dan telah dishahihkan oleh keduanya. Saya telah mentakhrij hadits ini dalam kitab Irwaul Ghalil Fii Tkhrij Ahadits Manaris Sabil. Hadits no. 292. allah telah melancarkan proses pencetakan kitab ini.

[10]. Daruquthni, Hakim dan Baihaqi. Hadits ini memiliki syahid (hadits pendukung) dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits pendukung lainnya diriwayatkan Thabrani. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab Irwaul Ghalil no. Hadits 296.

[11]. Bukhari, Muslim, Ahmad, Sirraj, Thabrani (3/108/2) dan Ibnu Sa’ad (1/243). Hadits ini tercantum dalam kitab Al Irwa’ no. Hadits 290.

By Abu Bakrah Posted in Fiqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s