Shalat dengan duduk bagi orang yang sakit

3. SHALAT DENGAN DUDUK BAGI ORANG YANG SAKIT

Oleh : Al Mudaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani

Imran bin Husain Radhiyallahu’anhu berkata : “Saya pernah mengidap penyakit bawasir (ambeien) [1], lalu saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda :

“Shalatlah dengan berdir. Bila tidak sanggup, shalatlah dengan duduk. Bila tetap tidak sanggup, maka shalatlah dengan berbaring.”[2]

Dia (Imran) juga berkata : “Saya pernah bertanya kepada Nabi tentang seseorang yang shalat dengan duduk.” Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab :
“Barangsiapa shalat dengan berdiri itu lebih utama. Barangsiapa shalat dengan duduk, maka ia hanya mendapatkan separuh dari pahala orang yang shalat dengan berdiri. Barangsiapa shalat dengan tidur (dalam riwayat lain : dengan berbaring), ia (hanya ) mendapatkan separuh dari pahala orang yang shalat dengan duduk.”[3]

Yang dimaksud dengan orang yang shalat sambil berbaring adalah orang yang sakit.
Ana radhiyallahu’anhu berkata : “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah keluar menemui beberapa orang yang tengah shalat dengan duduk, karena sebab sakit. Maka beliau bersabda :
“Orang yang shalat dengan duduk mendapatkan separuh pahala orang yang shalat dengan berdiri.”[4]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah membesuk orang yang sakit, beliau melihat orang tersebut shalat diatas bantalnya, maka beliau mengambil bantal itu, dan melemparkannya. Lalu orang itu mengambil Al Aud [5] agar bisa shalat diatasnya. Maka beliau mengambil dan melemparkannya kemudian beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Shalatlah diatas tanah, jika kamu sanggup. Jika tidak sanggup, shalatlah dengan isyarat. Jadikanlah posisi sujudmu lebih rendah dari posisi ruku’mu.[6]

Foot note :

[1]. Jama’ dari kata baasuur, ada yang membacanya dengan baasuur, dan ada pula yang membacanya dengan naasuur. Baasuur adalah infeksi pada dubur, sedangkan naasuur adalah luka bernanah yang membusuk dan sulit untuk disembuhkan selama luka tersebut dalam kondisi busuk. Demikian yang disebutkan dalam Al Fath.

[2]. HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad. Al Khitabi berkata : “Maksud hadits Imran ini adalah orang sakit yang mengerjakan shalat fardhu yang masih mungkin untuk berdiri, lalu dia berdiri denga susah payah. Maka orang yang duduk pahalanya separuh dari pahala orang yang berdiri. Hal ini beliau ucapkan dalam rangka memberikan motivasi kepada si sakit untuk shalat sambil berdiri, padahal shalat sambil duduk sebenarnya diperbolehkan. Al Hafidz (Al Fath 2/468) berkata : “Ini adalah penafsiran yang baik.”

[3]. Idem.

[4]. HR. Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad shahih.

[5]. Yaitu kayu (dalam kamus Lisanul Arab). Al ‘Aud adalah setiap kayu yang tipis, ada juga yang berpendapat bahwa ‘Aud adalah setiap kayu pohon, baik yang tipis (kecil) ataupun yang tebal (besar). Saya (Al Albani) katakan : “Hadits ini mendukung makna ‘Aud yang kedua karena menafsirkan dengan makna yang pertama jauh dari kebenaran.

[6]. HR. Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Sammak dalam kitab hadits beliau (2/67) dan Baihaqi. Sanadnya shahih sebagaimana yang telah aku jelaskan dalam kitab Ash Shahihah no. Hadits 323.

(Disalin dari “Sifat Shalat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam Dari Takbir Hingga Salam” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, terbitan Pustaka Sumayyah. Halaman : 95-97)

By Abu Bakrah Posted in Fiqih