Aqidah Ahlussunah wa jama’ah

AQIDAH AHLUS-SUNNAH

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada taqdir baik dan buruk.

Tujuh puluh dua kelompok telah menyelisihi dan menyimpang dari prinsip-prinsip ini. Tetapi, ahli kebenaran dan orang-orang yang tetap di atas kebenaran yang selalu menghadapi ujian dan tekanan dari manusia yang diarahkan kepada mereka, tetap kokoh di atas kebenaran itu dan mereka tidak menginginkan ada suatu pergantian bagi kebenaran tersebut.

MAKNA IMAN KEPADA ALLAH
Iman kepada Allah, yaitu meyakini dengan pasti tentang ke-Esaan pencipta, Pemilik dan pengatur alam (rububiyah), sesembahan, dan nama-nama, serta sifat-sifat bagi Allah Yang Maha Suci.

Maksudnya adalah tiga macam tauhid:
1. Tauhid Rubbudiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Asma wa Sifat (nama-nama dan sifat Allah subhanahu wa ta’ala)

1. Tauhid Rubbubiyah

Hal itu telah terpatri dalam fitrah dan tidak ada makhluk yang menentangnya, meskipun Iblis yang menjadi kepala kekufuran. Dia (Iblis) berkata:

“Ya Tuhanku! Oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat.” (QS. Al Hijr: 39)

Dia (Iblis) juga berkata:

“Maka demi kekuasaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semua”. (QS. Shad: 82)

Jadi, sesungguhnya Iblis telah menetapkan rubbubiyatullah, dan dia telah bersumpah dengan kemuliaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, seluruh kaum kafir menetapkan hal ini, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, serta seluruh pemimpin kekufuran menetapkan tauhid rububiyah di atas kekurufan dan kesesatan yang ada pada mereka. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Az Zukhrud: 87)

Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah: Siapkah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Asry yang agung? Mereka akan menjawab: “Kepunyan Allah” (QS. Az Zukhruf: 87)

Dia yang memiliki urusan yang agung berfirman:

“Katakanlah: “Siapkah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui”? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. (QS. AL Mukminum: 88-89).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan”? Maka mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Yunus: 31)

Lihatah! Mereka menetapkan ini semua dan ketika mendapati berbagai kesempatan mereka memurnikan doa kepada Allah karena mereka mengetahui sesungguhnya tidak ada yang menyelamatkan dari berbagai kesulitan kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, serta mengetahui bahwa tuhan-tuhan dan berhala-berhala mereka tidak mampu menyelamatkan dari kebinasaan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih”. (QS. Al Isra: 67).

Sesungguhnya, orang yang telah mempunyai (baca: meyakini) tauhid (rububiyah) ini, belumlah masuk Islam dan tidak selamat dari neraka. Sebagai contoh adalah orang-orang kafir yang telah menetapkan tauhid rububiyah, tetapi penetapan mereka itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam dan Allah ‘Azza wa Jalla tetap menemukan mereka dengan orang musyrik dan kafir, serta menetapkan mereka sebagai orang-orang yang kekal dalam mereka, Padahal mereka telah menetapkan tauhid rububiyah ini.

Dari sini, nampaklah kesalahan sebagian para Penulis tentang Aqidah di atas Metode ahli kalam, ketika mereka menafsirkan tauhid dengan: Pengikraran wujud Allah dan sesungguhnya Dia adalah Pencipta, Pemberi Rezeki dan selain itu.

Maka, kita katakan kepada mereka bahwa ini bukanlah Aqidah yang dibawa para nabi sebagai utusan Allah ‘Azza wa Jalla karena orang-orang kafir dan musyrik, bahkan Iblispun mengikrarkan tauhid rubbubiyah in.

Jadi, semuanya telah mengikrarkan dan mengetahui macam tauhid ini. Sedangkan, diutusnya para rasul tidaklah menuntut manusia untuk mengikrarkan sesungguhnya Allah adalah Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, yang menghidupkan dan mematikan. Karena, pengikraran tauhid ini tidak cukup dan tidak bisa menyelamatkan mereka dari adzab Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, tauhid Al Iradah dan Al Qasdu (keinginan dan tujuan). Jenis tauhid ini merupakan tujuan Perjalanan dan tempat persengkatan antara para rasul dan umat mereka. Setiap rasul datang dan berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! karena tidak ada Tuhan selain-Nya untuk kalian”.

Mereka tidak berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku ! Ikrarkanlah sesungguhnya Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemilik, dan Pengatur) kalian”, sebab mereka telah mengikrarkannya.

Tetapi, para rasul menuntut mereka agar beribadah kepada Tuhan yang telah mereka ikrarkan rububiyah-Nya, yakni sesungguhnya hanya Dia saja sebagai pencipta, pemberi rezeki, serta mengatur segala sesuatu. Demikianlah, para rasul menuntut mereka mengesakan peribadatan kepada-Nya saja, sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya sebagai pencipta dan pengatur. Jadi, para rasul itu (menuntut) hujjah pada mereka atas apa yang telah mereka ikrarkan.

Al Qur’an yang mulai menyebutkan tauhid rububiyah dalam rangka membantah orang-orang kafir dan menuntut mereka dengan sesuatu yang mengharuskan mereka.

Wahai orang-orang kafir! Selama kalian mengakui bahwa hanya Allahlah yang mencipta, yang memberi rezeki, dan yang menyelamatkan dari kebinasaan, serta yang menyelamatkan dari berbagai macam kesulitan, lalu mengapa kalian berpaling kepada selain-Nya yang tidak bisa mencipta, memberi rezeki, dan sedikitpun tidak memiliki kemampuan mengurusi perkara, serta tidak memiliki kemampuan mengurusi ciptaan.

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil Pelajaran? (QS. An Nahl: 17)

Oleh karenanya, tauhid uluhiyah adalah tauhid yang telah diserukan oleh para rasul dan mereka menuntut kaumnya untuk menegakkan tauhid itu. Senantiasa terjadi permusuhan antara ahli tauhid dengan kaum yang menyimpang dari dulu hingga sekarang disebabkan jenis tauhid ini. Orang-orang yang berAqidah yang selamat menuntut kepada orang-orang yang menyimpang dari tauhid uluhiyah yang kembali kepada agama musyrikin dengan melakukan peribadatan kepada kubur-kubur dan mensucikan orang-orang, serta Memberikan kekhususan rubbubiyah kepada mereka agar kembali kepada Aqidah yang selamat dan mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan ibadah, serta meninggalkan perkara yang membahayakan yang ada pada diri mereka. Ini adalah agama jahiliyah, bahkan penyimpangan mereka lebih dari agama jahiliyah itu karena kaum jahiliyah memurnikan doa untuk Allah dalam kesempatan dan menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan lapang.

Adapun kaum yang menyimpang, mereka selalu dalam kesyirikan baik ketika lapang maupun sempit, bahkan kesyirikan mereka dalam keadaan sempit lebih parah lagi tatkala merasakan kesempatan kamu akan mendengar mereka meminta bantuan kepada para wali, orang-orang yang dikubur, dan orang-orang yang mati. Sedangkan kaum musyrikin (dahulu) tatkala ditimpa suatu bahaya, mereka memurnikan doa kepada Allah.

Inilah macam tauhid kedua, yaitu tauhid yang diserukan oleh para rasul kepada semua umat agar mereka mengikhlaskan agama bagi Allah dan itulah yang menjadi tempat perselisihan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam memerangi kaum musyrikin sehingga mereka meninggalkan (kesyirikannya)nya.

Demikianlah makna “La ilaha illallahu”. Karena “Al Ilah” maknanya “yang disembah”, jadi “La ilaha illallahu” maknanya adalah “tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”.

Al llah tidak memiliki makna sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang-orang yang sesat tatkala mereka berkata: “Sesungguhnya makna Al llah adalah yang mampu membuat dan mencipta” Ini tidak benar, sebaliknya Al llah bermakna “yang disembah” (Al Ma’bud) karena ia dari kalimat “Alaha yaklahu” yang berarti dicintai dan disembah.

3. Tauhid Asma dan Sifat

Artinya, kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menetapkan untuk diri-Nya, serta meniadakan sifat-sifat cacat dan kurang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tiadakan dari diri-Nya, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menanyakan hakekatnya, dan menyamakan dengan makhluk-Nya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy Syura: 11)

Dalam ayat yang lain:

“Maka janganlah kalian membuat permisalan-permisalan untuk Allah, sesungguhnya Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui”. (QS. An Nahl: 114)

Demikian pula, firman-Nya yang terdapat dalam Kursi, surat Al Ikhlas, dan keumuman surat-surat Makiyah dan Madaniyah menyebutkan nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifatNya bahkan hal itu terkandung dalam mayoritas surat-surat dalam Al Qur’an.

Ayat-ayat Al Qur’an yang mulai tidak meninggalkan penyebutan nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla dan sifat-sifatNya, seperti pada permulaan setiap surat: “Bismillahirrahmannirrahim” maknanya adalah menetapkan nama untuk Allah ‘Azza wa Jalla, dan menetapkan bahwa Dia adalah Dzat yang memiliki rahmat yang luas (Ar Rahman) lagi pemurah (Ar Rahim), demikian pula sifat-sifat Allah yang lain.

Allah ‘Azza wa Jalla telah mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat dan menamakan diri-Nya dengan nama-nama. Maka, kita wajib menetapkan itu semua dan meyakininya sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memasukkan akal-akal kita, mena’wilkan dengan pemahaman-pemahaman dan pengertian-pengertian kita, serta tidak menetapkan hukum atas Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, karena Allah ‘Azza wa Jalla lebih tahu tentang diri-Nya daripada selain-Nya. Allah berfirman:

“Dia mengetahui apa yang ada dihadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaha: 110)

Dia berfirman lagi:

“Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus [mahluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang dilangit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dihendaki-Nya”. (QS. Al Baqarah: 255)

Allah ‘Azza wa Jalla melarang kita membuat permisalan-permisalan dan menjadikan tandingan-tandingan, pembantu-pembantu, dan penyerupa-penyerupa bagi-Nya. Karena tidak ada yang menyerupai, menyamai, sekutu, dan sebanding dengan-Nya. Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Sesungguhnya, kita beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dia ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Hanya milik Allah asmaul husna [nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah], maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al A’raf: 180).

Allah Yang Maha Suci telah menjelaskan kepada kita suatu perkara sebagai berikut:
1. Dia ‘Azza wa Jalla telah menetapkan nama-nama bagi dirinya (hanya milik Allh asmaul husna).
2. Dia ‘Azza wa Jalla telah mensifati nama-nama tersebut dengan keagungan (husna), maka semua nama-nama Allah adalah agung.
3. Dia ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-namaNya.
4. Dia ‘Azza wa Jalla melarang kita menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya.

Makna “Ilhad”, yakni menyimpang/miring. Jadi, menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-namaNya) adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifatNya dari apa yang telah ditunjukkan-Nya, dengan mengubah dan menakwikannya kepada sesuatu yang tida dikandungnya dan tidak diinginkan oleh Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sebagaimana dilakukan oleh Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan golongan-golongan sesat yang berjalan di atas kesalahan mereka.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka berjalan di atas garis yang lurus dalam perkara ini dan semua perkara agama mereka, -alhamdulillah-. Tetapi dalam bab Aqidah, mereka Memberikan perhatian yang lebih karena kesesatan dalam perkara ini merupakan kesesatan yang nyata dan kesalahan yang sangat besar. Ketergilinciran langkah, kesesatan dan kesalahan pemahaman dalam perkara Aqidah tidak seperti kesalahan dalam perkara agama yang lainnya. Sebab, jika terjadi kesalahan dalam Aqidah, maka dikhawatirkan pelakunya akan terseret dalam kekufuran, penyimpangan yang besar, dan kesesatan yang jauh.

Adapun orang yang salah dalam perkara selain itu maka kesalahannya lebih ringan. Meskipun demikian, kesalahan dalam semua perkara tidaklah diperbolehkan. Seseorang tidak boleh terus menerus berada dalam kesalahan atau taklid terhadap orang yang salah, akan tetapi sebagian kesalahan itu lebih berat atas sebagian yang lainnya.

Kesalahan dan penyimpangan dalam perkara Aqidah merupakan kesalahan dan penyimpangan yang sangat berat karena kesalahan dalam perkara tersebut tidak ada tambalnya. Adapun kesalahan dalam perkara yang lainnya maka hal itu di bawah kehendak (masyiah)-Nya.

“Sesungguhnya, Allah tidak mengampungi dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya dan Dia mengampuni dosa-dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiap yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisa: 116).

Dalam ayat lain:

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah akan sungguh itu telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisa: 48).

BERIMAN TERHADAP POKOK-POKOK AGAMA YANG LAIN

Adapun beriman terhadap pokok-pokok agama yang lain, yakni beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir serta terhadap taqdir baik dan buruk, maka ini semua mengikuti keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan semua itu merupakan cabang dari keimanan kepada-Nya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, karena Dia ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada kita tentang Wujud para malaikat, perkara-perkara ghaib yang telah berlalu, pengutusan para rasul, dan tentang hari akhir serta Kejadian didalamnya.

Kita wajib mengimani semua itu dan keumumannya menjadi bagian dari keimanan terhadap perkara yang ghaib.
– Kita beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikatNya dan ini menjadi bagian dari keimanan yang paling agung terhadap perkara ghaib.
– Kita juga beriman kepada para rasul meskipun tidak pernah melihat mereka, tetapi kita mengimaninya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Dia ‘Azza wa Jalla mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan Peringatan. Rasul yang pertama adalah Nuh dan terakhir adalah Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam shallallahu’alaihi wa sallam.
– Kita beriman kepada para malaikat dalam keadaan kita tidak melihat mereka, tetapi kita beriman terhadap kabar Allah Yang Maha Suci dan kabar Rasul-Nya.
– Seperti itu juga kita beriman kepada hari akhir dan tidak datang dari setelahnya. Keimanan kita dalam hal ini bersandar atas kabar Allah dan RasulNya dan itulah keimanan yang benar.

BERIMAN KEPADA TAKDIR
Demikian pula, kita beriman kepada takdir baik dan buruk. Beriman kepada takdir mengandung empat tingkatan.

Tingkatan pertama; mengimani bahwa Allah mengetahui sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak ada sesuatupun yang ada di bumi dan di langit yang samar bagi-Nya, juga tidak ada perkara ghaib baik yang telah berlalu dan yang akan datang yang samar bagi-Nya. Semuanya sama, berada dalam pengetahuan Allah.

Tingkatan kedua; mengimani bahwa Allah telah menulis (takdir) itu dalam lembaran-lembaran yang terjaga (Lauhul Mahfud) dimana didalamnya telah tertulis takdir segala sesuatu. Sebagaimana kabar yang ada dalam hadits:

“Sesuatu yang pertama diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena) dan Dia berkata kepadaNya: “Tulislah”! Qalam itu berkata kepada-Nya: “Apa yang saya tulis”. Dia berkata: “Tulislah sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat”.

Maka, kita mengimani bahwa segala sesuatu yang sedang berjalan dan sedang terjadi adalah diketahui oleh Allah. Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi telah menulisnya dalam Lauhul Mahfudz, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. AL Hadid: 22)

Jadi, segala sesuatu telah tertulis dalam lauh mahfudz dan tidak ada sesuatupun tentang takdir segala sesuatu yang tertinggal dirinya, serta tulisan tersebut telah ada lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit-langit dan bumi. Sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Nabi:

“Tidak ada sesuatu kecuali dia telah terekam dalam lauh mahfudz”.

Allah berfirman:

“Di sisi Kami ada tulisan (kitab) yang memelihara (mencatat)”. (QS. Qaff:4)

Tingkatan ketiga; kita mengimani kehendak Allah yang sempurna dan mencakup segala sesuatu. Jika Allah menginginkan sesuatu yang dicintai dan dibenci (iradah kauni) dan Dia menghendakinya, maka hal itu harus terjadi. Sesungguhnya, sesuatu tidak terjadi di alam kecuali dengan keinginan, kehendak, dan aturan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Tingkatan keempat; tingkatan yang paling akhir, yaitu kita mengimani bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”. (QS. Az Zumar: 62).

Segala sesuatu yang ada di alam, baik yang terjadi maupun yang akan terjadi merupakan ciptaan Allah dan Dialah yang mengadakannya. Tidak ada seorangpun selain-Nya yang mengadakan dan menciptakan di alam ini.

Keinginan manusia tidak keluar dari keinginan Allah.

Yang demikian ini tidak meniadakan adanya kehendak dan keinginan seorang hamba. Sesungguhnya manusia memiliki seorang hamba. Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan memilih dan berbuat sehingga dia dapat melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan, serta mampu memilih mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat.

Berdasarkan keinginan manusia, seorang hamba melakukan kebaikan-kebaikan, ketaatan-ketaatan, meninggalkan ketaatan-ketaatan dan kewajiban-kewajiban, serta melakukan kejahatan-kejahatan dan penyelisihan-penyelisihan dan dia akan diperhitungkan berdasarkan keinginan dan perbuatannya. Tetapi, keinginan dan kehendaknya tersebut tidak keluar dari kehendak Allah sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali Allah Tuhan semesta alam berkehendak”. (QS. At Takwir: 29)

Jadi, Allah menetapkan kehendak bagi seorang hamba, tetapi Dia mengikat kehendak tersebut dengan kehendak-Nya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Karena itu tatkala seseorang berkata kepada Nabi “Atas kehendak Allah dan kehendak engkau”!

Maka Beliau bersabda:
“Apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah, katakanlah: “Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu, atau katakana: “Atas kehendak Allah saja”.

Tafsiran sebagai golongan tentang makna takdir
Penyimpangan beberapa kelompok dalam manafsirkan Qadar, diantaranya:

1. Jahmiyah dan Jabriyah
Mereka berkata: “Sesungguhnya seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih, tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya. Seorang hamba seperti bulu yang terbang di udara dan seperti daun yang digerakkan oleh angin tanpa ada keinginan dan pilihan dirinya”. Inilah yang dikatakan oleh Jabriyah dan Jahmiyah dan selain mereka.

2. Berlawanan dengan yang pertama, mereka adalah Mu’tazilah.
Mereka berkata, “Setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dan tidak ada pengaturan dan kehendak Allah terhadap perbuatan seorang hamba. Sesungguhnya, seorang hambalah yang melakukan sesuatu berdasarkan pilihannya dan kekuatannya sendiri yang tidak ada kaitan dengan kehendak Allah”. sehingga, sebagian dari mereka ada yang ekstrim dan berkata: “Sesungguhnya, Allah tidak mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Seorang hambalah yang mengawalinya”. Karena itu, mereka berkata bahwa segala sesuatu itu sebelumnya tidak ada. Mereka adalah Mu’tazilah yang ekstrim dan mereka disebut sebagai para pengingkar dan penyangkal takdir (Qadariyah Nufah).

Kelompok yang pertama dinamakan Jabriyah, sedangkan yang kedua Qadriyah Nufah.

Kelompok yang pertama, menetapkan takdir dan mereka berlebih-lebihan dalam menetapkannya, serta meniadakan keinginan yang ada pada diri seorang hambar. Sedangkan, kelompok kedua adalah Mu’tazilah yang bertentangan dengan yang pertama. mereka berlebih-lebihan terhadap kehendak seorang hamba dan penetapan pada dirinya. Sehingga, mereka menyia-nyiakan kehendak dan keinginan Allah. kedua kelompok itu terperosok dalam kesesatan dan kesalahan yang sangat besar.

Sikap tengah (adil) ahlus sunnah wal jamaah
Sikap tengah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mereka menetapkan suatu kemampuan, pilihan, dan kehendak bagi seorang hamba, tetapi hal itu mengikuti kehendak, kemampuan dan keinginan Allah. sesungguhnya, seseorang tidak mampu melakukan sesuatu, kecuali dengan keinginan dan kehendak-Nya.

Qadariyah berhak mendapatkan kemurkaan dan celaan
Qadariyah disebut sebagai Majusinya umat ini, kenapa? Karena mereka menetapkan dua pencipta bersama Allah. mereka berkata: “Sesungguhnya setiap orang menciptakan perbuatannya sendiri dengan mandiri”.

Dengan demikian mereka tersesat dan berhak mendapatkan kemurkaan dan celaan dari ahli kebenaran karena mereka telah mengacaukan prinsip yang sangat agung, yaitu iman kepada takdir.

Iman kepada takdir bagian dari pokok-pokok keimanan

Iman kepada takdir bagian dari pokok-pokok keimanan sebagaimana yang terdapat dalam hadist Jibril bahwa sesungguhnya dia berkata kepada Nabi: “Katakanlah kepadaku tentang keimanan, maka Beliau berkata:

“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir dan kamu beriman kepada takdir baik dan buruk”.

Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya Yang Maha Tinggi:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. (QS. Al Qamar: 49)

Demikian juga terdapat dalam hadits:

“Berupayalah kamu dengan sungguh-sungguh terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah. Jika ada suatu musibah menimpamu maka jangalah kamu berkata: “Seandainya saya berbuat seperti ini, tentu hasilnya seperti ini”! Tetapi, ucapkan: “Allah telah menakdirkannya dan sesuatu yang telah dikendaki-Nya maka ia terjadi”! Sesungguhnya, kata-kata “seandainya” akan menbukakan perbuatan syetan”.

Hadits-hadits dan nash-nash dalam hal ini sangat banyak dan demikian adalah prinsip yang telah diketahui dan benar, serta masalah ini adalah sudah terang –alhamudillah-. Sedangkan, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jammah dalam hal itu sudah jelas dan terbangun di atas petunjuk-petunjuk yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah, Adapun, mereka yang menyimpang dari prinsip ini, sesungguhnya penyimpangan itu datang dari diri serta hawa nafsunya, dan dia telah berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Seperti inilah orang yang berupaya keluar dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Sesungguhnya, dia akan terjatuh ke dalam kesesatan, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. (QS. Al An’am: 153)

PENUTUP

Ini merupakan intisari Aqidah salaf dan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga dengan karunia dan anugerah Allah Dia menjadikan kita dan kalian bagian dari mereka dan menetapkan kita sebagai orang-orang yang berpegang dengan kebenaran, serta sabar dan kokoh diatasnya sampai di hari kita bertemu dengan-Nya.

Orang yang berpegang dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah maka dia di atas hujjah dan petunjuk, serta hatinya menjadi tenang dan kokoh. Karena dia hidup di atas Al Qur’an dan As Sunnah, serta hidup di atas dalil yang terang dengan mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan shahabatnya maka dia di atas ketenangan dan kekokohan dalam perkara agamanya.

Dia akan memperoleh kebaikan-kebaikan, kekokohan-kekokohan, dan keistimewaan-keistimewaan yang sangat agung yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang menyimpang, yaitu mereka yang senantiasa berada dalam kegelisahan dan kesedihan kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka berhenti.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah tetap di atas kebenaran, tidak goncang, dan tidak jauh, serta tidak ada hawa, Pemikiran dan penyelisihan-penyelisihan di sisi mereka, karena pedoman hidup (manhaj), jalan, dan dalil mereka satu.

Sesungguhnya, Allah telah menjanjikan kemulian dan surag, serta kekekalan dalam suatu kenikmatan yang tidak musnah dan tidak hancur bagi orang-orang yang berpegang dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Sesungguhnya jika datang petunjuk dari-Ku, (kemudian) barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak tersesat dan tidak celaka”. (QS. Thaha: 123)

Ibnu Abbas berkata: “Allah Memberikan jaminan bagi orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya sehingga tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat”.
Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al An’am: 82)

Mereka mendapatkan keamanan dari siksa di akherat dan mereka di dunia mendapatkan hidayah dari kesesatan. Jadi, mereka di dunia mendapat petunjuk, tidak sesat dan tidak menyesatkan. Di akherat mendapat keamanan di hari ketika manusia dalam ketakutan dan terkejut, serta di hari ketika hari-hari itu telah putus dari rasa keterkejutan. Maka, Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahli kebenaran berada dalam keamanan, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Mereka tidak disusahkan oleh kedasyatan yang besar (pada hari kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS. Al Anbiya: 103)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”! Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamila pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akherat: didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Fussilat; 30:32).

Demikianlah pengaruh-pengaruh Aqidah yang selamat di dunia dan di akherat, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Barang siapa yang beramal kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami benar-benar akan memberi kehidupan yang baik dan Kami benar-benar akan membalas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan”. (QS. An Nahl: 97)

Inilah jaminan-jaminan Allah di dunia dan di akherat bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahli kebenaran.

Semoga dengan anugerah dan kemuliaan Allah, Dia menjadikan kita dan kalian sebagai bagian dari mereka dan kita meminta kepadaNya Yang Maha Suci agar emperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran dan menjadikan kita sebagai orang yang mengikutinya dan menampakkan kebatilan kepada kita sebagai kebatilan dan menjadikan kita sebagai orang yang menjauhinya.

Saya katakan: “Perkataanku adalah ini dan saya meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian, serta semua kaum muslimin. Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salm atas Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, keluarga dan semua shahabat Beliau”.

[Dikutip dari Kitab Syarhu al Qawaa’idi al-Arba’ & Mujmal ‘Aqidati as-Salafu Ash-Shalih. Edisi indonesia : Mengapa Islam membenci syirik?. Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Alu Fauzan. Penerbit Cahaya tauhid press. Halaman 94-128]

By Abu Bakrah Posted in Aqidah