Sejumlah kesalahan yang bisa menghapus pahala shalat jumat Bagian kedua


SEJUMLAH KESALAHAN YANG BISA MENGHAPUS PAHALA SHALAT JUMAT

BAGIAN KEDUA : TIDAK MANDI, BERHIAS, MEMAKAI MINYAK DAN BERSIWAK

Oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman
Alqaulul Mubiin fi akhta’il Mushallin

Ibnu Hajar berkata sambil menghitung faidah-faidah yang didapatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu

“Barangsiapa yang mandi pada hari jumat sebagaimana mandi janabah, kemudian dia berangkat (shalat jumat), maka seskan-akan dia telah menyedekahkan onta yang gemuk…”

“faidah-faidah yang terkandung dalam hadits itu: Anjuran dan keutamaan mandi pada hari Jumat, keutamaan berangkat pagi-pagi untuk shalat jumat. Sesungguhnya keutamaan tersebut hanya bisa diraih oleh orang yang melakukan keduanya. Sedangkan makna mutlak yang terkandung dalam sebagian riwayat tentang diperolehnya keutamaan atas orang yang berangkat pagi-pagi tanpa dibatasi dengan mandi adalah dikaitkan dengan makna tersebut di atas.”[1]

Menurut sebagian ahli hadits dari kalangan ulama, orang yang meninggalkan mandi bukan hanya tidak mendapatkan pahala tersebut, melainkan mengantarkannya kedalam dosa dan keharaman.
Sekelompok ulama berpendapat tentang wajibnya mandi jumat karena kebanyakan hadits yang tetap menyebutkan pendapat ini.
Diantara sebagian hadits tentang hal ini adalah:
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian hendak shalat jumat, hendaklah ia mandi.”[2]

Yang dipahami dari hadits ini menunjukkan bahwa mandi itu untuk shalat jumat dan barangsiapa melakukannya untuk yang lain, maka berarti dia tidak memperoleh sesuatu yang disyariatkan. Baik melakukannya diawal hari atau di tengahnya atau diakhirnya.

Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Abu ‘Uwanah secara marfu’:

“Barangsiapa mendatangi jumat dari kalangan laki-laki dan wanita, hendaklah dia mandi.”

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ada tambahan:

“Barangsiapa yang tidak mendatanginya, maka tidak ada kewajiban mandi atasnya.”[3]

Hadits dari Abu Said radhiyallahu’anhu
Dari Amr bin Sulaim Al Anshari, dia berkata: saya bersaksi bahwa Abu Said berkata: Saya bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Mandi pada hari jumat itu wajib atas orang yang baligh kemudian membersihkan gigi, dan menaburi badannya dengan parfum jika ia mendapatinya.”

Amr berkata: “Mandi hukumnya wajib, sedangkan membersihkan gigi dan memakai parfum, Allah-lah yang lebih tahu. Tetapi seperti inilah yang diberitakan.”[4]

Perkataannya: an yastanna maksudnya menggosok gigi dengan siwak. Dalam riwayat Abu Nuaim dalam kitab As Siwak disebutkan: “Siwak itu wajib dan mandi jumat wajib atas setiap muslim.”[5]

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sering bersiwak dihadapan ummat dan berlebih-lebihan dalam bersiwak. Bahkan sampai menjelang wafat dan hendak terpisah jiwanya yang mulia. Demikian juga beliau telah menjelaskan bahwa siwak itu sebab-sebab untuk meraih keridhaan Allah Yang Maha Suci dan telah menguatkan syariatnya amalan itu pada hari jumat sebagaimana yang telah disebutkan tadi.

Sesuai dengan perkara ini, maka saya peringatkan tentang faidah yang sangat berharga, yang telah dinukil oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, dimana mayoritas manusia itu membutuhkannya, ketika mereka menggunakan siwak dihari-hari ini. Dia berkata:

“Yang lebih utama saat bersiwak adalah dengan tangan kiri. Al Imam Ahmad telah menetapkan tentangnya dalam riwayat Ibnu Manshur Al Kausaj dan ia menyebutkan dalam Masaail-nya. Kami tidak mengetahui seorangpun dari para imam yang menyelisihi hal itu, yang demikian itu karena bersiwak merupakan bagian perkara menghilangkan kotoran. Ia seperti menyerot air kehidung lalu menyemburkannya, membersihkan ingus dan membersihkan kotoran-kotoran yang sejenisnya. Maka yang demikian itu lebih utama dengan tangan kiri. Sebagaimana menghilangkan najis-najis, seperti membersihkan dubur dan sejenisnya dengan tangan kiri. Jadi membersihkan kotoran itu disunnahkan dengan tangan kiri.”[6]
Sedangkan perkataan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits yang lalu:

“Dan ia memberi badannya dengan parfum jika mendapatinya.”
Dalam riwayat Muslim: “Dia memberi badannya semampunya dengan parfum.” Dan dalam satu riwayat: “Walaupun dengan parfum wanita.”

Kandungan-kandungan dalam riwayat-riwayat ini menguatkan perintah memakai parfum untuk shalat jumat di karenakan beberapa hal:
1. Mencukupkan dengan kata al massu (menggosok), maknanya mengambil dengan ringan. Didalamnya terdapat peringatan untuk bersikap lemah lembut.
2. Memberikan kemudahan memakai parfum. Yaitu mengambil seminimal mungkin, sehingga cukup mengoleskannya setelah mengambilnya dengan kadar yang tidak mengurangi parfum, dalam rangka untuk memberikan dorongan untuk melakukan perintah tentangnya.
3. Tentang perkataan Nabi “semampunya” yang beliau inginkan dalam perkataan itu untuk menguatkan, supaya orang itu melakukan semampunya. Atau mungkin juga beliau menginginkan supaya mengoleskan parfum yang banyak. Tetapi maksud yang pertama lebih kuat.
4. Apa yang sebutkan dikuatkan oleh riwayat: “meskipun dengan parfum wanita,” karena beliau tidak menyukai laki-laki memakai parfum perempuan, yaitu parfum yang warnanya mencolok dan baunya sangat lembut. Kemudian beliau membolehkan laki-laki untuk memakainya dikarenakan tidak ada parfum lain, maka yang demikian itu menunjukkan bahwa perintah mengoleskan parfum ini sangat ditekankan.[7]
Sedangkan pengampunan dosa yang terjadi diantara dua jumat yang terkandung dalam hadits Salman Al Farisi terkait dengan amalan mandi, rambut dikasih minyak, memakai parfum dan tidak memisahkan antara dua orang shalat. Kemudian berhias dengan pakaian disamakan dengan membersihkan gigi dengan siwak dan memakai parfum.

Ibnu Rusydi berkata:
“Adab-adab Jumat itu ada tiga macam: Memakai parfum, bersiwak dan berpakaian yang baik. Tidak ada perselisihan mengenai hal ini karena ada atsar-atsar yang menetapkannya.”[8]
Dari Ibnu Abbas bin Salam, sesungguhnya dia mendengan Nabi bersabda di atas mimbar pada hari Jumat:

“Alangkah baiknya salah seorang dari kalian kalau membeli dua pakaian untuk shalat jumat, selain dua pakaiannya untuk kerja.”[9]

Diantara hadits-hadits yang menunjukkan tentang wajibnya mandi untuk hari jumat: Dari Ibnu ‘Umar radhiyallallahu’anhu:

“Sesungguhnya Umar bin Khattab tatkala dia berdiri untuk berkhutbah pada hari jumat, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk dari kalangan muhajirin yang pertama masuk Islam dari golongan sahabat-sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu Umar memanggilnya: “Jam berapa ini?” dia menjawab: “Sesungguhnya saya sibuk, sehingga saya tidak bisa kembali kepada keluarga saya, sementara saya mendengar adzan, lalu saya berwudhu dan tidak lebih dari itu.” Maka Umar berkata: “Hanya wudhu?” Padahal engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk mandi.”[10]

Itulah pengingkaran umar di atas mimbar terhadap seorang sahabat yang agung dalam perkumpulan kaum muslimin tersebut. Demikian pula pengukuhan seluruh yang hadir dari kalangan sahabat dan lainnya terhadap pengingkaran itu.

Maka yang demikian itu merupakan dalil yang sangat agung yang memutuskan bahw hukum wajib tersebut telah diketahui oleh para sahabat. Kalau perkara itu menurut mereka tidak wajib, tentu sahabat menetapkan hukum itu sebagai alasan atas yang lainnya.

Maka pengukuhan mana yang lebih kokoh daripada pengukuhan Umar dan orang yang hadir setelah pengungkaran ini?![11] Mayoritas ulamamenganggap ganjil tentang pendapat yang mewajibkan mandi jumat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“barangsiapa yang berwudhu pada hari jumat, maka dengan itu dia telah melakukan sebaik-baik sunnah dan barangsiapa yang mandi maka mandi itu lebih utama.”[12]

Pendapat itu dibantah oleh Ibnu Hazm dengan perkataannya:
Jika hadits itu shahih, maka didalamnya tidak menetapkan dan tidak menjadi dalil bahwa mandi jumat itu tidak wajib. Melainkan padanya menunjukkan bahwa wudhu adalah sebaik-baik amalan, tetapi mandi itu lebih utama. Yang demikian ini tidak ada keraguan didalamnya. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.” (Ali Imran: 110)

Apakah lafadz ini menunjukkan bahwa sesungguhnya iman dan taqwa itu bukan perkara yang wajib?! Maha Suci Allah dari anggapan ini. Kemudian kalau dalam seluruh hadits diatas menetapkan bahwa mandi jumat itu tidak wajib, tentu hal tersebut tidak menjadi hujjah, karena yang demikian itu mencocoki dalam perkara ini sebelum perkataan Nabi ‘alaihis shalatu wasalam: “Mandi pada hari jumat itu wajib atas setiap orang yang baligh.” Atau atas “Setiap Muslim.”
Perkataan nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini menjadi hukum yang menghilangkan dan menghapus keadaan yang pertama dengan yakin dan tidak ada keraguan didalamnya. Oleh karena itu tidak halal meninggalkan dalil yang menghapus (nasikh) dengan yakin dan memegangi dalil yang dihapus(dimansukh).”[13]
Ibnu Taimiyah berkata dalam Iqtidhaus Shiratil Mustaqim:
“Disunnahkan mandi pada hari jumat, sesuai dengan pendapat sejumlah ulama hukumnya wajib. Sedangkan dalil yang mewajibkannya lebih kuat daripada dalil yang mewajibkan shalat witir, mewajibkan wudhu karena menyentuh wanita, tertawa terbahak-bahak, mimisan, berbekam dan karena muntah, serta lebih kuat daripada dalil yang mewajibkan bershalawat atas Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.”[14]

Kesimpulan uraian itu:
Sesungguhnya hadits-hadits yang menerangkan wajibnya mandi, mengandung hukum yang lebih atas hadits-hadits yang memberikan faedah bahwa hukumnya sunnah. Jaditidak ada pertentangan diantaranya. Sedangkan yang wajib mengambil hadits-hadits yang mengandung hukum yang lebih tentangnya. Untuk mengetahuinya secara rinci, silahkan merujuk ke Nailul Authar karya Asy Syaukani dan Al Muhalla karya Ibnu Hazm.[15]
Engkau mengetahui mayoritas manusia meremehkan mandi yang wajib ini pada hari jumat. Jadi orang yang mandi untuk hari ini sedikit. Jika mereka mandi pada hari itu tujuannya hanya untuk membersihkan, bukan untuk memenuhi hak jumat. Maka hanya Allah-lah yang dimintai pertolongan.[16]

[Dikutip dari kitab “Koreksi atas kekeliruan praktek ibadah shalat” Penerbit Maktabah Salafy Press halaman : 425 – 432]


Download kajian ini

Insya Allah bersambung …

By Abu Bakrah Posted in Fiqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s