Sejumlah kesalahan yang bisa menghapus pahala shalat jumat bagian keempat

SEJUMLAH KESALAHAN YANG BISA MENGHAPUS PAHALA SHALAT JUMAT

BAGIAN KEEMPAT : YANG DIMAKSUD DENGAN DIAM ADALAH BERPALING DARI PEMBICARAAN MANUSIA SECARA MUTLAK.

Oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman
Alqaulul Mubiin fi akhta’il Mushallin

Al Laknawi rahimahullah berkata:
“Ibnu Khuzaimah berkata bahwa yang dimaksud dengan diam adalah berpaling dari pembicaraan manusia secara mutlak, bukan berpaling dari dzikrullah. Pendapat ini membolehkan untuk membaca Al qur’an dan dzikir ketika sedang khutbah. Sedangkan yang kuat adalah diam secara mutlak.”[1]

Sebagian Ahli Ilmu membolehkan menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin ketika imam sedang khutbah. Tapi dhahir hadits diatas melarangnya.

Menurut asy syafi’iyah ada tiga sisi. An Nawawi menyebutkannya dalam Al majmu’: (4/524) dan ia berkata: “Yang benar lagi tertera dalam nash adalah diharamkan mendoakan orang yang bersin dan menjawab salam.”

Saya berkata: “yang demikan ini menjadi jelas jika engkau telah mengetahui bahwa perkataan orang yang berkata kepada kawannya: “Diamlah engkau”, dimana ucapan itu masuk dalam perkara amar ma’ruf dan Nahi Mungkar, tapi beliau menamakan itu sebagai perbuatan sia-sia. Demikian juga ucapan itu merupakan perkara yang mengokohkan suatu yang sangat penting dia atas yang lebih penting yaitu menyuruh diam untuk mendengarkan nasihat khatib, dan itu adalah bab memrintahkan kebaikan di tengah-tengah khutbah.”

Jadi jika perkaranya seperti itu, maka setiap sesuatu yang setingkat dengan amar ma’ruf, seperti mendoakan orang bersin, menjawab salam, mengikuti khatib dengan dzikrullah, bershalawat atas Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atau sejenis itu, maka hukumnya seperti hukum amar ma’ruf. Sedangkan perbuatan yang tidak setingkat dengannya maka lebih pantas dilarang.

Bisa diambil suatu faidah dari hadits Aus yang lalu, yang berbunyi: “Dia mendekat keposisi imam, lalu mendengarkan dan tidak berbuat sia-sia.” Tentang adanya tambahan peringatan tentang orang yang mendengar khutbah itu. Yaitu dia dan semua jamaah bersama imam, dengan mengikuti apa yang dia katakan serta memahaminya dan tidak lalai atau melalaikan.

[Dikutip dari : Koreksi atas kekeliruan praktek ibadah shalat oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah masyhur bin Hasan bin Salman. Penerbit Maktabah Salafy Press, halaman 439 – 440]

Download kajian ini

Foot note:
[1]. At Ta’liq Al Mumajjid (1/139)

By Abu Bakrah Posted in Fiqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s