Pakaian seorang muslim

Kajian ini akan menjelaskan kepada kita bagaimana seharusnya seorang muslim dalam berpakaian, agar Allah tidak mengadzabnya pada hari kiamat disebabkan dia melalaikan perkara ini. Serta dalam kajian ini juga akan dijelaskan mengenai Haramnya menggambar mahluk, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya siksaan Allah yang paling keras (berat) pada hari kiamat nanti, yaitu terhadap orang-orang yang suka menggambar” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemateri:

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah
Dan kedua murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah
Al Ustadz ‘Abdul Mu’thi
Al Ustadz ‘Abdul Haq
—————————————————————————–

Pemateri pertama:
Syaikh Muhammad bin shalih al ‘Utsaimin rahimahullah

Segala puji milik Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunannya. Dan kita berlindung pada Allah dari keburukan jiwa kita dan kejahatan perbuatan kita, barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tak ada yang dapat menunjukinya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam hamba dan utusannya. Hamba, tidak untuk disembah dan utusan, tidak untuk didustakan, yang menunaikan ibadah Rabbnya dan menyampaikan risalah-Nya memberi kemanfaatan bagi umatnya dan berjuang dijalan Allah dengan sebenar-benarnya. Semoga shalawat Allah serta salam-Nya terlimpah untuknya serta atas keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka sampai hari pembalasan.
Kemudian dari pada itu:

Sungguh Allah ‘Azza wa jalla telah berfirman:

“Wahai anak adam sungguh telah kuturunkan atas kalian pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian yang indah dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik demikian itu adalah bagian dari tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Ya, itulah dari tanda kekuasaan Allah, Dia jadikan jasad anak adam telanjang tidak ditutupi bulu, rambut, wool dan tidak pula pakaian yang indah supaya manusia tahu bahwa mereka akan telanjang tanpa adanya pakaian, sehingga dengan pakaian itu dia senantiasa mengingat-Nya, dia butuh pakaian lahir dan batin, butuh pakaian lahir untuk menutupi auratnya buth pakaian batin untuk menutupi kesalahannya. Maka di ayat yang mulia ini Allah menerangkan apa yang Dia anugerahkan atas hambanya ketika Dia menurunkan tiga jenis pakaian: Dua jenis lahir (dapat diindra) dan satu jenis batin. Adapun yang jenis lahir adalah [pertama] pakaian darurat, dengannya manusia menutupi auratnya dengannya dia menyandangi badannya, harus ada, tidak boleh tidak. Dan pakaian kedua adalah riys disebut juga riyasy yaitu pakaian keindahan dan perhiasan sebagai tambahan dari pakaian darurat. Adapun jenis yang batin adalah pakaian taqwa, taqwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menjalani perintahnya dan menjauhi larangan-Nya, pakaian ini lebih baik dari dua jenis yang dapat diindra tadi, hal itu karena dia menutupi aurat manusia di dunya dan diakhirat.

“Dan siapa yang bertaqwa pada Allah akan diberikan jalan keluar dan rizki dari sumber yang tidak diduga”

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah akan dia jadikan urusannya menjadi mudah. Itulah urusan Allah yang diturunkan atas kalian.

“Dan abrangsiapa yang bertaqwa kepada Allah akan dihapus kesalahan-kesalahannya dan diagugkan pahalanya.

“Wahai orang-orang yang beriman jika kaian bertaqwa kepada Allah niscaya akan diberikan furqan (pembeda antara haq dan bathil). Dan akan dihapuskan kesalahan-kesalahanmu dan akan mengampuni dosamu. Dan Allah itu Maha pengampun lagi penyayang.

Dan karena pakaian batin ini khusus bagi mukmin yang bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla adapun pakaian lahir dengan kedua jenisnya sama memilikinya orang mu’min dan kafir, orang baik-baik dan orang jahat, orang fasik dan orang ta’at. Bahkan sering orang kafir, orang jahat dan orang fasik diberinya sedangkan orang beriman tidak diberi sebagianpun.

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya pakaian ini adalah perhiasan yang Allah keluarkan untuk hambanya, dan dihalalkan bagi mereka dan Dia mengingkari orang yang mengharamkannya tanpa bukti dan dalil. Allah ta’ala berfirman:

“Katakanlah, siapa yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan Allah unutk hamba-hamba-Nya dan mengharamkan rizki yang baik?katakan itu semua untuk orang yang beriman di kehidupan dunia dan khusus bagi mereka dihari kiamat.

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya pada penyandaran nama perhiasan ini kepada Allah dan pensifatannya bahwa Dia keluarkan itu semua untuk mereka, merupakan bukti terbesar bahwa bukan hak kita untuk kita membuat hukum sendiri mengenainya dengan penghalalan atau pengharaman, hanya saja hukumya dikembalikan kepada Allah semata.. karena Dia sendiri yang mengeluarkannya untuk hamba-Nya, dan bukan hak kita pula untuk menggunakan perhiasan ini sesuka hati kita. Hanya saja kita menggunakannya sesuai sisi peraturan-Nya yang ditentukan atas kita tanpa kita melampaui batas, itulah peraturan Allah maka jangan kau langgar. Dan siapa yang melanggar peraturan Allah mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.

Dan Allah telah membuat peraturan dalam hal pakaian ini dan telah membatasi kita dalam penggunaannya dari segi jenis dan cara memakainya serta dari segi penghalalan dan pengharamannya. Supaya kita tidak melampauinya sampai batas yang tidak sepantasnya.

Adapun yang halal. Maka halal adalah hukum asal di dalam pakaian-pakaian ini, karena Allah berfirman:

“Dialah yang menciptakan untuk kalian seluruh yang ada di bumi”

Maka siapapun mengharamkan suatu pakaian maka kita katakan kepadanya, tunjukkan dalilnya, kalau tidak maka itu adalah ciptaan Allah untuk kita dan halal bagi kita sampai ada dalil pengharamannya.

Karena itu yang halal dari pakaian ini jauh lebih banyak dari yang diharamkan dan yang haram sedikit bila dibandingkan dengannya karena pemberian Allah lebih luas dari pencegahannya. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kecuali karena hikmah balighah yang mengharuskan pelanggaran.

Wahai kaum muslimin. Diantara pakaian yang diharamkan yang sekarang ini masyhur dan tersebar adalah pakaian yang ada gambar [mahluk]nya atau pakaian yang dibuat diatas gambar. Karena ‘Aisyah radhiyallahu’anha membeli numruqah, numruqah adalah bantal atau tirai yang bergambar-gambar kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam datang, ketika beliau melihatnya, [beliau] berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk. Kata ‘Aisyah: “Aku melihat ketidaksenangan diwajahnya” maka aku berkata: “Wahai Rasulullah saya bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa salah saya.” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Bagaimana dengan numruqah ini? Kata ‘Aisyah: “Saya membelinya agar anda duduk diatasnya dan berbantalan dengannya” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penggambar gambar ini disiksa di hari kiamat, dikatakan pada mereka hidupkan apa yang kamu ciptakan.” Kemudian bersabda: “Sesungguhnya rumah yang ada gambar[mahluk]nya tidak dimasuki malaikat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya hadits ini termasuk diantara hadits paling shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan kalian telah mendengarnya bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berdiri didepan pintu dan tidak mau masuk karena dirumah ada tirai yang bergambar dan tampak ketidak sukaan itu dari raut wajahnya-semoga shalawat dan salam terlimpah atasnya- sampai Ummul Mu’minin ‘Aisyah terang-terangan bertaubat karena apa yang ia lihat pada raut wajahnya.

Wahai kaum muslimin. Ini adalah bila di tirai yang terpisah dari tubuh lalu bagaimana dengan gambar yang ada pada pakaian? Bagaimaan pendapat kalian tentang gambar ini, bila gambar itu gambar seorang pemimpin kekafiran atau seorang pemimpin kejahatan atau gambar orang fasik atau seorang kafir, walau kekafirannya tidak dijelaskan, apa pendapat kalian bila gambar ini ada di pakaian kita, pakaian keluarga dan anak kita.

Wahai kaum muslimin. Sungguh aku heran, bagaimana seorang muslim mati masih dalam keadaan seperti ini sampai tidak membedakan antara yang merugikan dan yang bermanfaat antara yang haram dengan yang mubah. Aku sangat heran bagaimana kita membiarkan hal ini semakin membesar di zaman yang sedikit ini. Dan kita –Alhamdulillah- bersama kita kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan bersama kita ada ulama yang menfatwakan itu bagi kita dan menjelaskan bagi kita hukum Allah dan rasulNya

Maka aku katakan: Wahai kaum muslimin. Sungguh yang wajib atas kita untuk memutus peredaran pakaian ini, hendak kita memutusnya sesempurna mungkin dan tidak membelinya satupun karena jual belinya itu haram, memakainya juga haram, menjadi saksi jual belinya haram, mencatat jual belianya juga haram. Karena Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan.”

Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu juga mengharamkan harganya”

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya musuh-musuh islam mendatangkan kita hal-hal semacam ini, sungguh telah mendatangi kita dari segala penjuru dan melempari kita dari segala arah, mereka taruh gambar-gambar pada pakaian sehingga di sebagian pakaian ada gambar hewan yang besar, gambar hewan yang kecil, terkadang dengan warna-warna dan terkadang dengan menaruh potongan kain atau stiker bergambar binatang dan dengan membuat perhiasan yang berbentuk kuda atau ikan atau singa atau ular dan selain itu dari bentuk-bentuk binatang atau dari gambar laki-laki atau gambar perempuan. Semua ini kita semua memakainya, hingga memilih agar malaikat meninggalkan rumahnya, agar malaikat meninggalkannya. Musuh-musuh kita telah berbuat banyak dalam hal ini atas kita mereka menjauhkan kita dari perintah Allah dan Rasul-Nya dan agar kiat melupakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan agar kita bermudah-mudahan atas perintah Allah dan Rasul-Nya dan sungguh aku katakan dan aku ulang-ulang bahwa memakai gambar-gambar ini atau pakaian yang ada gambar-gambarnya sungguh adalah haram dan bahwa menjualnya haram, membelinya haram, karena merupakan tolong-menolong atas dosa dan permusuhan. Dan sungguh Allah ‘azza wa jalla telah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah sungguh Allah Maha keras siksaan-Nya”

Dan sebagaimana tidak boleh bagi seorang muslim memakai gambar atau apa yang bergambar dia juga tidak boleh memakaikannya pada bayi kecilnya baik laki-laki atau perempuan. Dan sungguh para ulama rahimahumullah mengatakan, diantara mereka ulama Hanabilah, diharamkan memakaiakan pada bayi sebagaimana diharamkan atas orang dewasa, dan ringkasnya ini semua wahai muslimin, bila sekarang ini ada pada manusia sesuatu dari pakaian-pakaian ini atau berupa perhiasan yang ada padanya gambar binatang maka hendaknya dia memotong kepalanya, adapun jika ada pada baju bila merupakan tempelan merekat, dengan mencabutnya atau mencabut kepalanya dan bila merupakan gambar berwarna, dengan mewarnai kepalanya dengan warna yang membuat kepalanya tidak nampak.

Dan di dalam Shahih Muslim dari Abi Al Hayyaj radhiyallahu’anhu bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan di Shahih Muslim dari Abi Al Hayyaj Al Asadi bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata padanya: Maukah engkau ku utus sebagaimana dulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutusku, jangan biarkan patung kecuali kau ratakan dan jangan biarkan gambar kecuali kau hapus dan jangan biarkan kubur yang ditinggikan keculai engkau ratakan, ini bila dinisbatkan pada apa yang kita beli dan kita miliki. Adapun yang tidak kita beli maka obatnya, hendak kita putus peredarannya dengan sebenar-benarnya dan tidak kita beli serta kita peringatkan saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita dari membelinya, sampai bila orang-orang kafir yang mendatangkan barang-barang itu kepada kita mengetahuinya atau orang islam yang belum tahu. Bila mereka tahu bahwa kaum muslimin yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya memboikot produk-produknya, mereka tidak akan mendatangkannya setelah itu atau tidak mendatangkannya kecuali dalam jumlah yang sedikit sampai urusannya berhenti. Kita memohon agar Allah mencukupi kita dari kejahatan mahluknya.

Akan tetapi, telah terjadi bahwa pakaian-pakaian ini telah memenuhi pasaran kita lalu bagaimana tindakan kita? Maka jawabannya. Kita katakan, sebagaimana pakaian siap pakai telah memenuhi pasaran dan –Alhamdulillah- telah memenuhi pula dengan pakaian-pakaian belum siap pakai, sebisa mungkin orang membeli yang diinginkannya, kain bakal baju, kemudian menyerahkannya ke tukang jahit, betapa banyak tukang jahit yang kita punya.

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan obatnya. Tetapi inti semua itu pada tekad yang jujur, niat yang jujur, kuatnya iman dan pada keberanian dan pada pengalahan jiwa yang memerintahkan keburukan. Maka barangsiapa yang jiwa mutma’innahnya mengalahkan jiwa amarotubissu’nya sungguh beruntung, dan barangsiapa yang jiwa ammarotubissu’nya mengalahkan jiwa mutma’innahnya sungguh binasa. Dengarkan firman Allah ‘azza wa jalla:

“Wahai jiwa yang tenang (nafsumutmainnah) kembalilah kepada Rabbmu dalam keadaan ridha dan diridhai maka masuklah kekumpulan hambaku, masuklah surgaku.”

Apakah kalian ingin termasuk yang diajak bicara dengan kata-kata ini atau ingin termasuk yang diajak bicara selain dengannya. Tentu saja kita ingin termasuk yang diajak bicara dengan kata-kata ini. Wahai jiwa yang tenang berpulanglah keharibaan Rabbmu dengan ridha dan diridhai.

Wahai kaum muslimin. Dan termasuk pakaian yang haram, yang khusus diharamkan atas laki-laki yaitu berpakaian yang melampaui mata kaki baik celana, baju atau misdah atau selainnya. Karena sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sarung yang lebih rendah dari mata kaki tempatnya dineraka” (HR. Al Bukhari)

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengatakan sarung kecuali yang dimaksud adalah pakaian.

Maka tidak halal bagi laki-laki menurunkan pakaiannya sedikit dibawah mata kaki karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengancamnya dengan neraka. Dan tidak ada ancaman neraka kecuali atas perbuatan haram bahkan tidak ada ancaman dengan neraka kecuali atas macam dosa besar. Sebagian orang menyangka bahwa hadits ini mengenai orang yang menurunkan pakaiannya dengan ‘Huyala’ Dan huyala adalah bila seseorang menghayalkan dirinya berada dikedudukan tinggi, merasa angkuh dan ujub. Aku katakan: sebagian orang menyangka bahwa hadits ini tentang yang menurunkan pakaiannya karena huyala. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dan barangsiapa yang menurunkan pakaiannya karena huyala, Allah tidak akan memandangnya”

Maka penyangka ini ingin membawa yang hukumnya mutlak itu (umum) atas yang hukumnya terikat ini (khusus) akan tetapi ini tidaklah benar.
Pertama: Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memisahkan antara keduanya. Dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu’anhu katanya: Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Kain seorang muslim adalah pertengahan betis, tidak mengapa bila diantara pertengahannya dengan mata kaki dan yang dibawah mata kaki maka dia dineraka. Dan barangsiapa yang menjururkannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat” {HR. Malik, Abu Dawud, An Nasaa’i dengan sanad yang shahih)

Dihadits ini Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam membagi pakaian menjadi empat macam. Pertama, sampai tengan betis dan ini pakaiannya seorang mu’min. Kedua boleh, yaitu yang diantara tengah betis dengan mata kaki maka ini boleh, dan ini termasuk amalan sahabat radhiyallahu’anhum. Sebagaimana Abu Bakr radhiyallahu’anhu berkata: “Salah satu ujung pakaianku tergerai sehingga senantiasa kujaga.” Ini menunjukkan bahwa sarung Abu Bakr dibawah tengah betis yakni turun dari itu, kalau seandainya tidak sepeti itu kalau sampai menyentuh tanah tentu akan terbuka auratnya dan ini hal yang mustahil. Adapun bagian yang ketiga, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dan yang lebih rendah dari itu yaitu dari mata kaki, maka dia dineraka.” Adapun bagian yang keempat Rasulullah shallalahu’alaihi wa sallam bersabda: “Dan barangsiapa yang menjulurkan kainnya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat.

Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membedakan antara dua bagian ini membedakan antara keduanya dengan dua ancaman.

Kedua: Ancaman pada dua hadits ini berbeda dan sebabnya berbeda, ancaman bagi yang menjulurkan kainnya dengan huyala (sombong) yakni Allah tidak akan melihat padanya dan ancaman bagi yang menurunkan sarungnya melampaui mata kaki yakni dimasukkan ke neraka. Dan siksaan ini merupakan juz’iyah, bagian dan siksaan yang pertama Allah tidak akan melihat padanya dan ini lebih besar dari siksa bagian tubuhnya dengan neraka adapun sebabnya berbeda juga yang satu menurunkannya dibawah mata kaki, yang kedua menjulurkannya dengan sombong dan ini lebih besar, oleh karena itu siksaannya lebih besar. Ulama ushul Fiqih mengatakan jika berbeda sebab dan hukum pada dua dalil maka yang satu tidak dibawa kepada pengertian lainnya.

Dan atas ini tidak halal bagi laki-laki menurunkan pakaiannya sedikit dibawah mata kaki baik berupa celana atua baju atau misdah (jas) atau selainnya. Jika dia lakukan maka balasannya bagian yang turun itu diadzab dengan neraka dan tidak halal menjulurkannya sedikit dengan sombong, jika ia lakukan maka balasannya yakni Allah tidak mau melihatnya di hari kiamat. Juga di shahih Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga golongan, Allah tidak mengajak mereka bicara pada hari kiamat dan tidak mau Dia lihat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Tiga golongan, Allah tidak mengajak mereka bicara pada hari kiamat dan tidak mau Dia lihat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Tiga golongan, Allah tidak mengajak mereka bicara pada hari kiamat dan tidak mau Dia lihat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.” Beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengulanginya tiga kali.

Saking besar urusannya dan agar berhati-hati orang yang mendengarnya maka Abu Dzar berkata:

“Sungguh kecewa dan rugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ‘Musbil’ (menjulurkan kainnya dibawah mata kaki), ‘Al Mannan’ (Orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya) dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.”

Seorang pemuda Anshar masuk menemui ‘Umar radhiyallahu’anhu memujinya dihadapan manusia pada hari ketika beliau radhiyallahu’anhu ditusuk, ketika pemud aitu berpaling tiba-tiba sarungnya menyentuh tanah, kemudian beliau berkata: Panggil kembali pemuda itu, maka mereka memanggilnya kembali kepada ‘Umar. Kata beliau: “Wahai anak saudaraku, naikkan pakaianmu karena itu akan membuat pakaianmu lebih awet dan lebih bertaqwa kepada Rabbmu.”

Disini beliau menyebutkan dua faedah agung didalammengangkat pakaian.
Pertama: Awetnya pakaian karena bagian bawahnya tidak mengenai tanah.
Kedua: Taqwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan pakaian taqwa itu jauh lebih baik.

Orang dengan anggapannya terkadang berkata, saya tidak peduli bagian bawah pakaianku mengenai tanah. Maka jawabannya kita katakan: Bila kamu tak peduli hal itu, apakah juga tak peduli jika kamu menyepelekan taqwa kepada Allah. Kamu gunakan nikmat-Nya untuk memaksiati-Nya. Maka nikmat berubah menjadi siksa dan kesenangan menjadi kepedihan.

Wahai kaum muslimin. Bertaqwalah kepada Allah, dan gunakan nikmat-Nya untuk ketaatan pada-Nya, jaga peraturan-Nya, tegakkan kewajiban-kewajiban yang diberikan-Nya dan ibadahilah Dia dengan sebenar-benar peribadahan. Dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya. Beri kabar gembira kaum mu’minin. Demikian perkataanku dan aku mohon ampunan untukku dan untuk kalian serta seluruh kaum muslimin dari dosa-dosa. Dan minta ampunlah kepada-Nya sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya milik Allah, pujian yang banyak, baik dan berbarokah didalamnya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Persaksian yang kami mengharapkan dengannya kebahagiaan dihari perjumpaan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya semoga shalawat Allah terlimpahkan atasnya, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan benar serta salam yang melimpah. Kemudian dari pada itu.

Wahai saudara-saudara yang mulia. Apa yang tersirat pada pakaian-pakaian jadi, yang sampai kepada kita dari negeri-negeri kafir ini, merupakan ungkapan-ungkapan yang amat buruk, aku tidak sanggup merangkumnya diatas mimbar ini. [Terkadang pula] ditulis dengan huruf-huruf latin agar orang tertipu olehnya sampai tidak dipahami kebanyakan mereka yang wajib bagi kita adalah memboikot pakaian-pakaian ini dan menjauhkannya. Karena apa yang dibawa oleh ungkapan-ungkapan buruk ini berupa perusakan akhlak terkadang juga membawa maslahah yang berkaitan dengan aqidah, terkadang pula ada padanya pujian untuk agama nasrani, semoga Allah memerangi mereka, maka bagaimanakah mereka bisa berpaling. Adapun kaum muslimin, segala puji milik Allah dalam keadaan bangkit mareka memiliki pemuda-pemuda yang tergugah untuk masalah-masalah ini, mereka mengetahuinya dan mengetahui pula makar orang kafir, semoga Allah menjadikan makar mereka (orang kafir) bumerang atas mereka, mencerai-beraikan persekutuan mereka dan memecah belah persatuan mereka.

Wahai Allah kami memohon kepada-Mu dengan daya dan kekuatan-Mu wahai Rabb semesta alam. Agar Engkau memecah belah persatuan orang-orang kafir dan engkau cerai beraikan persekutuan mereka dan engkau matikan mereka dan engkau timpakan rasa gentar kepada mereka dan engkau tegakkan daulah atas mereka wahai Rabb semesta alam.

Wahai Allah tolonglah kaum muslimin atas mereka disemua tempat. Wahai Allah persiapkanlah para penolong agamamu dari kalangan kaum muslimin. Wahai Allah hinakanlah musuh-musuh kaum muslimin. Wahai Allah jadikanlah tipudaya mereka sebagai bumerang atas mereka.

Wahai Allah sesungguhnya mereka sedang membuat tipu daya, maka kami mohon kepadaMu wahai Allah agar engkau membuat tipudaya lebih besar dari tipu daya mereka dan engkau binasakan mereka dan engkau jadikan malapetaka sesama mereka wahai Rabb semesta alam.

Wahai Allah turunkanlah dinegeri-negeri mereka bencana dan rasa takut rasa lapar dan gentar hingga mereka berpulang kepada Allah ‘azza wa jalla. Sampai mereka sadar bahwa dunia mereka tidak akan mengekalkan mereka dalam keadaan beriman dan mengambil pelajaran wahai Rabb semesta alam.

Wahai Allah kami pasrahkan kepada-Mu leher-leher mereka dan kami berlindung dari keburukan mereka. Wahai Allah sucikanlah negeri kami dari mereka dan dari tipu daya mereka dan dari kumpulan mereka wahai Rabb semesta alam.

Ketahuilah wahai kaum muslimin. Bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam urusan agama) dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Maka wajib bagi kalian wahai kaum muslimin untuk berjamaah (bersatu), Jama’ah adalah persatuan diatas kebenaran, atas kalian untuk bersatu diatas al Haq (kebenaran), jadilah hamba-hamba Allah yang menolong karena agama Allah, jadilah kalian bersaudara karena agama Allah, janganlah sebagian kalian mencela sebagian yang lain, janganlah sebagian kalian mengadu domba sebagian yang lain, jadilah saudara yang berkumpul karena Allah, bersaudara karena-Nya, mengharap dengan kasih sayang dan persaudaraan ini karunia dari Allah ‘azza wa jalla, mengharap dengannya pertolongan atas musuh-musuh kalian karena Allah berfirman didalam kitab-Nya:

“Dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan sehingga kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar (Al Anfaal : 46)

Atas untuk kalian berjama’ah karena tangan Allah itu diatas jama’ah dan abarangsiapa menyendiri akan menyendiri di neraka. Dan ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang Dia memulainya dengan diri-Nya sendiri. Berfirman Dzat yang semulya-mulia pembicara lagi Maha tahu:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Semoga Allah menjadikan kalian orang-orang yang mendengar dan taat. Wahai Allah berikanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu Muhammad. Wahai Allah karuniailah kami kecintaan kepadanya, mengikutinya lahir dan batin. Wahai Allah wafatkanlah kami diatas agamanya. Wahai Allah gabungkanlah kami didalam kelompoknya. Wahai Allah beri kami minum dari air telaganya (kautsar). Wahai Allah masukkanlah kami kedalam syafa’atnya. Wahai Allah kumpulkanlah kami bersamanya disurga Na’im bersama orang-orang yang kau beri nikmat, bari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin. Wahai Allah jangan Kau halangi kami dari itu semua karena buruknya amalan kami. Bermurah hatilah pada kami dan ampunilah dosa-dosa kami wahai dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Pengampun, wahai Dzat yang Maha Penyayang.

Wahai Allah ridhailah para penggantinya yang terbimbing (Khulafaur Rasyidin), dan istri-istri beliau, ibu-ibunya kaum Mu’minin dan para sahabat seluruhnya serta para pengikut mereka dengan benar sampai hari pembalasan.

Wahai Allah ridhailah kami bersama mereka dan perbaiki keadaan kami sebagaimana engkau telah memperbaiki keadaan mereka wahai Rabb semesta alam. Wahai Allah tolonglah kaum muslimin yang berjuang di jalanmu di seluruh tempat. Wahai Allah bersamalah mereka dan jangan murka atas mereka. Wahai Allah muliakanlah mereka dengan agama-Mu dan muliakanlah agama-Mu dengan mereka wahai Rabb semesta alam

Wahai Allah sempurnakanlah untuk saudara-saudara kami di Afganistan. Wahai Allah sempurnakanlah pertolongnmu untuk mereka, persatukanlah hati-hati mereka, gabungkanlah kalimat mereka di atas Al Haq (kebenaran). Lindungilah mereka dari musuh-musuh mereka wahai Rabb semesta alam.

Wahai Allah Rabb kami berikanlah kami kebaikan didunia dan diakhirat dan selamatkan kami dari adzab api neraka.

Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, kebaikan dan memberi kepada karib kerabat dan mencegah dari kekejian, kemungkaran dan aniaya. Menasehati kalian agar kalian senantiasa mengingat, tunaikanlah janji Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah setelah pengukuhannya padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai jaminannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan. Ingatlah Allah yang Maha Agung niscaya Dia akan mengingatmu dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan menambah untuk kalian. Sungguh mengingat Allah itu besar dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat.

[ Ditranskrip dari kaset cd khutbah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, diterbitkan oleh Tasjilat Al ‘Ilmi Yogyakarta, dengan beberapa pengeditan oleh Ahmad]

Pemateri kedua:
Ustadz ‘Abdul Mu’thi
1. Download disini
Kajian ini merupakan sampel kajian sewaktu dauroh kitab Bulughul Maram di masjid al Fithrah terban

2. Download Disini
Kajian ini merupkan sampel dari kajian Hadits Arbain

Pemateri ketiga:
Ustadz ‘Abdul haq
Download disini

Kajian ini merupakan sampel dari kajian Masaail jahiliyah yang ada di halaman download center

Ashthy.wordpress.com

By Abu Bakrah Posted in Fiqih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s