Mencaci Muslim tanpa dasar yang benar

MENCACI MUSLIM TANPA DASAR YANG BENAR

Oleh Ummu ‘Abdillah al Wadi’iyyah
Nashihati Lin Nisa’ Qadhayatahum Al Mar’ah Fatawa Lin Nisa’

Imam Al Bukhari rahimahullah berkata (10/64): “Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Manshur ia berkata: “Aku mendengar Abu Wail berbicara dari Abdullah ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya merupakan kekufuran.”

Sabda beliau: fusuuqun (kefasikan), secara bahasa artinya sama dengan khuruj (keluar), sedangkan menurut istilah artinya keluar dari taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diterangkan dalam Al fath. Dan sabda beliau: wa qitaaluhu kufrun (dan membunuhnya adalah kekafiran) artinya kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya keluar dari Islam (kufru duna kufri). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.” (Al Hujurat: 9)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula).” (Al Baqarah: 178)

Dan dalam Shahihain dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Jika dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang (saling membunuh –ed) maka sipembunuh dan yang terbunuh masuk neraka.”

Kedua orang yang saling membunuh ini masih dinamakan mukmin dan wali dari orang yang terbunuh yang mempunyai hubungan kekerabatan berhak menuntut qishas. Adapun yang dimaksud dengan persaudaraan dalam ayat diatas adalah saudara seiman. Lihat Al Aqidah Ath Thahawiyah (hal. 321). Maka mencaci maki sesama muslim tanpa alasan yang haq adalah perilaku jahiliyah.

Imam Bukhari mengatakan (10/465): “Telah bercerita kepada kami Umar bin Hafsh ia berkata: “Telah bercerita kepada kami ayahku, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Al a’masy dari Al Ma’rur yaitu Ibnu Suwaid dari Abu Dzar ia berkata: “Aku melihatnya dan anaknya memakai kain bergambar, lalu aku berkata: “Andaikan kamu ambil ini dan mengenakannya tentulah menjadi mantel dan engkau dapat memberikannya pakaian lain.” Abu Dzar berkata: “antara aku dengan orang ini pernah terjadi perdebatan sedangkan ibunya seorang a’jamiyah (non arab), lalu aku caci ibunya, kemudian berita ini diadukan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Maka beliaupun berkata kepadaku: “Apakah kamu telah mencela si fulan?” aku katakan: “benar.” Lalu beliau berkata: “Apakah kamu menghina ibunya?” aku katakan: “Ya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat perilaku jahiliyah.” Aku berkata: “Apakah sampai usia setua ini?” beliau menjawab: “Ya. Dia adalah saudara kalian yang Allah jadikan mereka di bawah tangan-tangan kalian. Maka barangsiapa yang Allah jadikan saudaranya dalam kekuasaannya, hendaklah dia memberinya makan sesuai dengan yang dimakannya dan memberinya pakaian sesuai dengan pakaian yang dikenakannya dan tidak membebaninya pekerjaan kecuali apa yang tidak sampai memberatkannya dan jika dia membebaninya pekerjaan yang berat hendaklah dia bantu menyelesaikan pekerjaan tersebut.”

Dan ketahuilah bahwa tidak boleh melampaui batas terhadap seseorang, maka jika engkau melakukannya berarti sungguh engkau telah berbuat dzalim yaitu meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya yang syar’i.

Dan dalam shahih Muslim (2581) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang tidak punya dirham dan tidak pula harta.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut adalah orang yang datang membawa amalan shalat, zakat dan puasa, tetapi selama hidupnya sering mencela, memfitnah, memakan harta orang lain dan menumpahkan darah si fulan bahkan memukul orang lain. Maka diberilah si fulan ini kebaikan-kebaikannya (kebaikan orang yang mengejek atau mendzaliminya –ed), maka apabila telah habis kebaikan-kebaikannya sebelum terpenuhi apa yang menjadi kewajibannya, maka diambillah kesalahan-kesalahan orang yang didzalimi dan dilempar kepadanya kemudian ia dicampakkan ke neraka jahannam.”

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas dimuka bumi tanpa haq. Mereka itu mendapat adzab yang pedih.” (Asy syuuraa: 42)

Imam Muslim berkata (4/2000): “telah bercerita kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah dan Ibnu Hujr, mereka berkata: “Ismail yakni Ibnu Ja’far telah bercerita kepada kami dari Al ‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dua orang yang saling mencerca sesuai dengan apa yang mereka berdua katakan. Maka dosanya adalah atas yang memulai selama orang yang didzalimi tidak melampaui batas.”

Dan sabda Nabi: fa ‘alal baadi-i (maka dosanya adalah tanggungan yag memulai) yakni dosa cercaan tersebut. Namun siapa yang diperlakukan melampaui batas maka boleh dia membela dirinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, makaseranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (al Baqarah: 194)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (An Nahl: 126)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (Asy Syuraa: 40)

Maka barangsiapa yang punya hak pada orang lain, boleh dia mengambilnya tanpa mendzaliminya karena Allah tahu bahwa tabi’at manusia tidak menerima jika dianiaya, maka Allah membolehkannya untuk membalas dengan hak walaupun yang lebih utama dan lebih baik adalah membalas kejelekan dengan kebaikan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berika kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tia tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mreka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas dimuka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy Syuraa: 37-43)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala memuji orang yang membalas kejelekan dengan kebaikan:
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat dan memberikan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebathilan. Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Ar Ra’d: 22)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (Al Qashah: 54)

Dalam sunan Abu Dawud dari hadits Jabir bin Sulaim bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Dan jika seseorang mencerca dan mencacimu dengan apa yang ia tahu tentangmu maka jangan engkau balik mencaci dengan apa yang engkau tahu tentangnya karena sesungguhnya akibat buruj dari hal itu akan menimpanya.”
Hadits ini dihasankan oleh Ayahanda (Syaikh Muqbil Al Wadi’i -ahm) di dalam kitab Ash Shahih Al Musnad (1/144).

Seorang penyair mengatakan:
Aku menyukai akhlak yang mulia dengan sungguh-sungguh
Dan aku benci untuk mencela dan dicela
Aku memaafkan 0celaan orang karena kemurahan hati
Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang suka mencela

Yang lain mengatakan:
Jika engkau ditimpa fitnah yang tidak ada buktinya
Maka jadilah engkau seolah-olah tidak mendengar dan tidak bicara

Yang lain mengatakan
Jika orang bodoh bicara maka janganlah engkau jawab
Karena sebaik-baik jawaban untuknya adalah diam

Yang lain mengatakan
Sungguh aku melewati orang rendah yang sedang mencelaku
Lalu aku memaafkannya
Kemudian aku katakan, bukan saya yang dimaksud

Seandainya seseorang mau bersabar dan membalas orang yang bodoh dengan kemurahan hati niscaya akan lebih baik daripada membalasnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al Ahzab: 58)

Orang yang suka mencela termasuk sejelek-jelek manusia
Al Imam at Tirmidzi mengatakan didalam At Tuhfah (6/445):
“Telah bercerita kepada kami Qutaibah, ia berkata: “Telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad bin Al ‘Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dari abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berhenti pada sekumpulan orang yang sedang duduk lalu bersabda: “Maukah aku khabarkan kepada kalian tentang siapa orang yang terbaik di antara kalian dari orang yang terjelek diantara kalian?” abu Hurairah berkata: “Para sahabat terdiam (tidak menjawab), sehingga Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengulangi ucapannya sampai tiga kali.” Kemudian seseorang berkata: “Mau wahai Rasulullah. Beritahu kami tentang orangyang paling baik dari orang yang paling jelek di anatara kami.” Beliau menjawab: “Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan dirasa aman dari kejekannya dan orang paling jelek di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak dirasa aman dari kejelekannya.” Hadits ini sanadnnya hasan.

[Dinukilkan dari kitab “Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku” oleh Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah. Penerbit Pustaka Sumayyah. Halaman 54 – 60]

Download kajian ini

Disalin ulang oleh Ahmad Al Makassari
https://ashthy.wordpress.com
http://salafiy.de.tl
http://salaf.c.la

abu_bakrah@yahoo.co.id

One comment on “Mencaci Muslim tanpa dasar yang benar

  1. Assalaamu’alaykum warahmatullaah…

    Baarakallaahu fiikum, tulisan diatas telah mengingatkan yang terlupa dan menenangkan hati yang gundah, telah dibuka buku-buku dan telah dicari bab yang hendak dicari tetapi belum juga menemukan jawabannya, walhamdulillaah skarang sudah ketemu, jazaakumullaah khayran.

    ———

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala selalu memudahkan kita dalam segala urusan-urusan kita.

    waiyyakum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s