Murtadnya orang yang meninggalkan shalat

Tulisan dibawah ini merupakan transkrip dari khutbah
Syaikh Muhammah bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

Hukum Meninggalkan Shalat

Sesungguhnya segala puji milik Allah. Kami memuji-Nya memohon pertolongan-Nya dan ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan kejahatan amalan kami. Siapa yang Allah tunjuki tiada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan tiada yang dapat menunjukinya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan akau bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga salawat Allah atasanya, keluarga, dan sahabat-sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan benar, serta salam yang sempurna.

Amma ba’du

Wahai sekalian manusia, kami akan mengisi khutbah ini permasalahan besar lagi agung termasuk diantara permasalahan teragung dan terbesar secara hukum. Yang terbesar secara hukum dan teragung secara akibat. Permasalahan ini bukanlah nasehat lewat yang orang terluput ketika mendengarnya dan cepat untuk melupakannya, masalah ini bukan masalah pemikiran, yang setuju dengannya pendapat orang dan mengingkarinya yang lain, ini adalah permasalah agama lagi syar’i yang kewenangan didalamnya hanya milik Allah dan Rasul-Nya, bukan milik seorangpun selain keduanya. Dan tidak pantas seorang mu’min dan tidak pula mu’minat, jika Allah dan Rasul-Nya menetakan suatu perintah kemudian mereka memiliki pilihan dari urusan mereka (Al Ahzab : 36).

Tidak pantas bagi seorang mu’min melainkan hendaknya berserah diri dan pasrah serta tunduk didalamnya hukum Allah dan Rasul-Nya, ketika hal itu telah jelas baginya sesungguhnya ini adalah permasalahan besar lagi agung ini adalah permasalahan yang sebagian orang diuji dengannya dihari ini kemudian mereka malah mementingkan hawa nafsunya dan dalam hal ini mereka berpaling dari syariat. Ini adalah masalah meninggalkan sholat sama sekali, yang sebagian orang diuji dengannya. Mereka meninggalkan shalat terus menerus [seakan] senaniasa menjaga untuk meninggalkannya.

Sesungguhnya ‘meninggalkan shalat’ yang kami katakan diatas mimbar ini dan distas mimbar shalat ‘ied dan disetiap kesempatan kami berbicara dan mempresentasikan di dalamnya hal ini. Kami mengatakan sebagaimana kata para peneliti diantara ahlul ilmi bahwa ‘meninggalkan shalat’ adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Dan orang yang meninggalkannya sam sekali, tidak shalat dia itu kafir lagi murtad dari Islam. Berlaku atasnya hukum orang murtad duniawi dan hukum orang murtad ukhrowi.

Kami mengatakannya, dan mengatakan pula selain kami ahlul ilmi para peneliti mereka bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan kepada perkataan para sahabat Radhiyallahu’anhum, kami mengatakannya dalam keadaan mengikuti metode Imam Ahlis Sunnah tanpa munafik Ahmad bin Hambal – semoga Allah melimpahinya dengan Rahmat-Nya – dan menempatkannya dikelapangan surga-Nya.

Wahai kaum Muslimin sesungguhnya tiada seorangpun – Demi Allah – lebih Agung Rahmatnya kepada mahluk dan tiada yang lebih mengena –di dalam hukum- hikmahnya melainkan Rabb semesta Alam Yang Milik-Nyalah pujian diawal dan diakhir dan milik-Nyalah hukum serta kepada-Nyalah kalian akan berpulang.

Sungguh kami – Demi Allah – tidak akan lancang dan bukan hak kami berbuat lancang atas seseorang yang mengaku muslim kemudian kami katakan bahwa dia kafir, sungguh kami tidak akan lancang atas itu dan bukan hak kami berbuat lancang atasnya sampai Allah dan Rasul-Nya sendiri yang mengkafirkannya.

Dan kami tidak akan merasa kecut, kami tidak berhak untuk merasa kecut jika Allah dan Rasul-Nya mengkafirkan seseorang, akan kami katakan tentang kekafirannya karena kekufuran dan keimanan urusannya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kita harus kecut untuk mengatakan, karena seseorang yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka kita mengatakan bahwa dia kafir, sungguh telah berlaku hukum atasnya dari Dzat yang memiliki hukuman, sungguh Rabbmu menentukan hukum diantara mereka dengan hukum-Nya dan Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, dan siapa yang lebih baik hukumnya dari Allah bagi orang-orang yang yakin?.

Wahai sekalian manusia kita telah mendengar dan membaca apa yang terjadi, fenomena penyepelean meninggalkan shalat di tubuh kaum Muslimin, kita telah mendengar dan membaca bahwa pengkafiran orang yang meninggalkan shalat adalah diantara ‘kesendirian’ pendapat Imam Ahmad, tidak mengatakan dengannya seorangpun dari Imam yang tiga {yakni} Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i. Demi urusan Allah, demi urusan Allah, demi urusan Allah jika Imam Ahmad bersendiri dengannya ini karena dalil yang mengharuskannya untuk menuruti dalil tersebut, ini adalah kelebihan dan keutamaan beliau –semoga Allah merahmatinya- Dan bahwa ‘kesendirian’ seorang Imam dari kalangan para Imam dalam suatu perkataan yang ditunjukkan al Kitab dan As Sunnah tidak menghalangi untuk menerimanya dan mengatakan dengan konsekuensinya.

Sesungguhnya ‘kesendirian’ seorang Imam dari kalangan para Imam atau seorang ‘alim dari kalangan para ulama’ tidaklah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) dengan perkataan yang ditunjukkan oleh al Qur’an dan as sunnah, dan tidak mungkin ijma’ diatas suatu pernyataan yang menyelisihi al kitab dan as sunnah. Aku katakan bahwa kesendirian orang ini, ini menunjukkan kedudukan yang tinggi. Jika adalah imam Ahmad bin Hambal –Semoga Allah merahmatinya- bersendiri dengan pendapat ini sebagaimana perkataan si penyangka. Maka siapa dia Imam Ahmad bin Hambal, dia adalah Imam Ahlissunnah dialah yang bersabar dan menjaga kesabaran diatas agama Allah dialah yang mengumpulkan antara fikih dan ilmu dengan atsar dan ini adalah perkara yang tidak diingkari seorangpun yang mengetahui hal itu. Hanya saja beliau merujuk kepada kitab-kitab para ahli ilmu yang menukilkan perkataan para Imam. Menjadi jelas bahwa Imam Ahmad – semoga Allah merahmatinya- tidak sendirian dengan pendapat ini.

Maka sungguh telah berkata dengan ini orang-orang sebelumnya dari kalangan sahabat dan tabi’in. Berkata dengan pendapat ini dari kalangan sahabat : ‘Umar bin Al khattab radhiyallahu’anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Mu’adz bin Jabal dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhum telah menukilkan itu semua dari mereka. Ibnu Hazm mengatakan “Aku tidak mengetahui yang menyelisihi mereka itu dari kalangan sahabat”. Dan beliau menyabutkan di dalam At Targhib wa At Tarhib dari Ibnu Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, Abu Darda radhiyallahu’anhum. Dan dikatakan di dalam Nailul Authar bahwa ini diriwayatkan pula dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Mereka kesembilannya dari kalangan para sahabat diantara mereka dua dari kalangan khulafa ar rasyidin ‘Umar dan ‘ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhuma, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dari kalangan para sahabat sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Hazm rahimahullah.

Abdullah bin Syaqiq berkata – dan dia itu dari kalangan tabi’in- “Para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak berpendapat tentang sesuatu perkara yang bila ditinggalkan adalah kekufuran melainkan shalat”. Dan yang mengatakan kufurnya orang yang meninggalkan shalat dari kalangan tabi’in : Ibrahim an Nakha’i, Al Hakam bin ‘Utaibah dan Ayub as Sikhtiyani, Hammad bin Zaid menukilkan darinya bahwa dia berkata : “Meninggalkan shalat adalah kekufuran, tidak ada perselisihan dalam hal ini” Inilah perkataan sumber ummat ini dan sebaik-baik generasinya para sahabat dan Tabi’in radhiyallahu’anhum.

Adapun setelah mereka, telah mengatakan hal ini : Abdullah bin mubarok, Zuhair bin Harb, Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Rahuyah – salah seorang imam kaum muslimin – Dan dinukil dari Imam Syafi’i sendiri dan ini adalah salah satu wajah dalam Madzhabnya. Wahai manusia, kami terpaksa menyebutkan perkataan para imam ini agar menjadi jelas bahwa Imam Ahmad rahimahullah tidak sendiri dalam pernyataan ini bahkan diikutkan dalamnya kesepakatan para sahabat radhiyallahu’anhum sebagaimana telah kami sebutkan dan tidaklah seseorang mengatakan bahwa imam Ahmad sendiri dalam hal ini melainkan dia orang yang tidak mengetahui perkataan ahli ‘ilmu, bermudah-mudahan dalam menolaknya.

Wahai kaum muslimin, apabila masalah besar lagi agung ini termasuk dari permasalahan yang masih diperselisihkan diantara kaum muslimin, ulama dan para Imam mereka. Maka kepada siapa hukum dikembalikan dan kemana kita berhukum? Dengarkanlah jawaban pertanyaan ini dari Allah ‘Azza wa jalla. Allah Ta’ala berfirman “Dan apa yang kalian berselisih didalamnya maka hukumnya dikembalikan kepada Allah” Lalu apa yang dihukumkan Allah dalam hal itu? Dengarkanlah…

Allah Ta’ala berfirman “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian memang beriman kepada Allah dan Hari akhir. Demikian itu lebih baik dan lebih baik penta’wilannya” Jika kita kembalikan permasalahan kepada Allah Ta’ala kita dapati Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai orang-orang musyrik “Maka jika mereka taubat, mendirikan shalat dan membayar zakat maka mereka itu saudara kalian dalam agama” maka ayat mulia ini menunjukkan mereka tidak menjadi saudara kita dalam agama dengan semata taubat mereka dari syirik sampai mereka menegakkan shalat dan membayar zakat.

Dan tidaklah ditiadakan persaudaraan dalam agama dengan adil jika itu adalah termasuk diantara dosa-dosa besar, hanya saja ditiadakan persaudaraan dalam agama apabila merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat dan beriman”(Maryam : 59). Maka Firman-Nya “kecuali yang bertaubat dan beriman” menunjukkan bahwa selama dia menyepelekan shalat maka dia akan menemui kesesatan dan dia sebelum itu bukanlah mu’min, ini adalah dari Kitabullah.

Adapun sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bila kita kembalikan rantai permasalahan ini kepadanya, akan kita dapati bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jabir radhiyallahu’anhu “Bahwa yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” dan bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Hadits Buraidah bin Hushaib radhiyallahu’anhu “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya sungguh telah kafir” Maka Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai pemisah antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran, antara kaum muslimin dengan kaum kafir. Maka barangsiapa meninggalkannya maka sungguh telah masuk kedalam kekafiran dan kesyirikan dan keluar dari daerah kaum muslimin. Karena benteng dan pemisah mengharuskan bahwa orang ini tidak termasuk golongan ini. Karena itu datang dalam sebuah hadits “Bahwa orang yang tidak menjaga shalat atau tidak melakukan shalat, dihari kiamat bersama karun, fir’aun, haman dan ubay bin kholaf” Tidak bersama para Nabi, tidak pila bersama shiddiqin, tidak pula bersama para syuhada dan tidak pula bersama orang-orang shalih, hanya saja bersama para pemimpin kekufuran.

Wahai kaum muslimin, sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “Meninggalkan shalat” Maka barangsiapa meninggalkannya sungguh telah berbuat kufur. Maka nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengungkapkan dengan kata “meninggalkan” bukan kata “menolak” sedangkan nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling mengilmui hukum-hukum Allah dan paling mengetahui apa yang Dia firmankan, paling konsisten menasihatkan apa yang dibimbingkan kepadanya dan yang paling fasih penjelasannya dalam apa yang akan dia ungkapkan.

Dengan ini menjadi jelas bathilnya perkataan orang “bahwa yang dimaksud meninggalkan adalah menolak (hukum wajibnya) karena orang yang tidak tau bisa jadi kafir walaupun dia mengerjakan shalat lima waktu dan shalat sunnat karena dia shalat dalam keadaan meyakini bahwa itu tidak wajib, maka dia itu kafir sesuai kesepakatan kaum muslimin. Apakah anda menyangka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menginginkan penolakan kemudian mengungkapkan dengan kata meninggalkan. Bersamaan perbedaan tafsir secara lafadz dan makna dengan perbedaan yang besar, hal ini tidaklah mungkin terjadi pada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang paling mengilmui hukum-hukum Allah dan paling mengetahui firman-firman-Nya. Dan paling memberi nasihat apa yang dibimbingkan kepadanya dan paling fasih penjelasannya tentang apa yang dia ingin ungkapkan. Apakah anda menyangka beliau menginginkan penolakan kemudian mengungkapkan dengan kata meninggalkan, bersamaan perbedaan yang nyata antara keduanya. Hal itu tidaklah mungkin.

Wahai kaum muslimin, orang yang menolak hukum wajibnya-shalat lima waktu-. Dia menolaknya walaupun dia mengerjakan shalat maka dia kafir. Dan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “Maka siapa yang meninggalkannya” apa mungkin kemudian kita katakan “orang yang menolak kewajibannya dan dia shalat maka dia tidak kafir” Tidak mungkin kita menyatakan itu karena ini menyelisihi kesepakatan kaum muslimin, demi Allah kecuali orang yang masih baru dalam Islam atau dibesarkan ditempat yang jauh, tidak mengenal hukum-hukum Islam.

Wahai kaum muslimin, perkenankan kami sedikit berpanjang lebar, karena tempat ini adalah tempat yang gawat dan masalahnya adalah masalah yang besar. Ini adalah permasalahan tersembunyi antara kekufuran dengan iman, antara Islam dan Murtad, antara orang menjadi penghuni neraka jahim atau menjadi penghuni surga na’im. Aku telah jauh mendalami masalah ini dan mencermati dalil-dalil kedua pihak. Aku tidak mengaku bahwa diriku tidak pernah salah akan tetapi murni semata-mata karena keterbatasan. Maka kudapati bahwa dalil-dalil yang tidak menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat, tidak ada dalil didalamnya yang mengimbangi dalil-dalil pihak lain yang menyatakan akan kekafirannya.

Karena dalil-dalil yang mereka gunakan tidak terlepas dari salah satu antara lima macam :
1. Mungkin karena tidak ada dalil didalamnya secara asal
2. Mungkin karena dia terikat dengan sesuatu hal yang bila bersamanya tidak mungkin (akan) meninggalkan shalat
3. Bisa jadi karena dia terikat dengan suatu keadaan yang karenanya dia mendapatkan udzur untuk meninggalkan shalat
4. Bisa jadi karena dalil itu lemah, tidak bisa mengimbangi hadits-hadits yang shahih (otentik)
5. Mungkin karena dalil itu adalah keumuman (hukum) yang dikhususkan dengan hadits-hadits meninggalkan shalat.

Dan tidak pernah datang satu hurufpun dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah orang mu’min atau dia itu masuk surga atau dia itu tidak masuk neraka atau dia itu muslim atau yang semisal itu. Yang memperkenankan kami untuk membawa hadits-hadits meninggalkan shalat kepada selain makna dzahirnya, apabila telah jelas wahai kaum muslimin, bahwa dalil-dalil kafirnya orang yang meninggalkan shalat berdiri kuat tak ada tandingannya menjadi pasti perkataan sesuai kandungannya, untuk kami katakan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Dia dihukumi sebagaimana dihukumkan atas orang-orang murtad dari islam dari hukum secara dunyawi dan ukhrawi. Maka tidak halal sembelihannya, serta tidak boleh masuk kota makkah serta daerah haramnya, tidak boleh menikahi seorang muslimah, apabila telah meinkah dengan seorang muslimah kemudian meninggalkan shalat setelah pernikahan itu maka rusak pernikahannya itu, jika orang yang meninggalkan shalat itu wafat, dia tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalati dan tidak dimakamkan bersama-sama kaum muslimin, dan tidak halal bagi keluarganya untuk mengedepakannya agar kaum muslimin menshalatinya, tidak dimohonkan ampunan dan Rahmat dan tidak boleh bersedekah untuknya, tidak bersama-sama kaum muslimin dihari kiamat, dan tidak masuk surga bersama-sama mereka, wal’iyyazu billah -perlindungan hanya kepada Allah-.

Permasalahan ini adalah permasalahan gawat lagi agung, akan tetapi apakah ada jalan keluar dari kebiasaan ini? Ya, disana ada jalan keluar, Segala puji milik Allah Rabb semesta alam. Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya. Ini adalah hal yang sudah amat merekat, akan lepas bila orang menghadapkan dirinya kepada Rabbnya, berpulang kepada-Nya dan bertaubat kepada Allah kemudian kembali dari pintu yang dia keluar darinya, kemudian menegakkan shalat, taubat beriman dan beramal shalih. Maka ketika itu Allah mengganti kejahatannya dengan kebaikan, Allah adalah dzat Maha Pengampun maha Penyayang. Silahkan kalian membaca firman Allah Ta’ala “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun yaitu syurga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Rabb Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (syurga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam syurga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang. Itulah syurga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam : 59-63)

Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar engkau jadikan kami termasuk orang yang engkau warisi surga-surga itu.
Ya Allah jadikanlah kami termasuk yang engkau warisi surga-surga itu. Wahai Dzat yang memiliki kemuliaan wahai Dzat Yang Maha Hidup wahai Dzat Yang Maha Mandiri.
Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang yang menegakkan shalat, membayar zakat, ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak takut kepada seorangpun melainkan hanya Allah.
Ya Allah ampunilah kami dan kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin, sesungguhnya engkau Maha Pengampun Maha Penyayang.

Segala puji milik Allah, pujian yang banyak sebagaimana diperintahkan dan aku bersyukur kepada-Nya, sungguh beruntung mendapat tambahan bagi yang bersyukur. Dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah semeta tiada sekutu bagi-Nya, walaupun itu dibenci orang yang menyekutukan-Nya dan berbuat kekafiran. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin sekalian manusia. Yang memintakan syafa’at dan yang diwenangi syafa’at di hari mahsyar. Semoga shalawat Allah terlimpahkan atasnya, sahabat-sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik… serta salam pula dengan keselamatan yang banyak.

Kemudian dari pada itu wahai kaum muslimin, bertaqwalah kepada Allah Ta’ala tegakkanlah shalat, bayarlah zakat dan ta’atlah kepada Rasul mudah-mudahan kalian dirahmati. Ketahuilah bahwa termasuk dari menegakkan shalat adalah engkau melakukannya secara berjamaah di masjid-masjid bersama kaum muslimin. Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan shalat agar ditegakkan. Kemudian aku memrintahkan seseorang untuk mengimami manusia kemudian aku pergi bersama orang-orang membawa beberapa ikat kayu menuju kaum yang tidak ikut shalat. Maka aku bakar atas mereka rumah-rumah mereka dengan api” Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai ancaman dan peringatan bagi orang yang tidak ikut shalat jama’ah.

Maka tidak halal bagi seorang muslim, mampu berangkat kemasjid kecuali hendaklah ia shalat bersama jama’ah. Jika shalat sendiri, sungguh meluputkan dirinya dari kebaikan yang banyak, karena Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat” (tapi) dengan itu dia menghasilkan suatu dosa yang karenanya dia disiksa dihari kiamat kecuali Allah menganugerahinya ampunan. Bahkan sebagian Ulama menyatakan “Bahwa shalat seseorang dirumahnya tanpa udzur adalah shalat yang tidak diterima shalat itu dikembalikan padanya (ditolak) dan dia itu seperti orang yang shalat tanpa wudhu” Diantara yang mengatakan hal itu syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Akan tetapi dalil-dalil menunjukkan bahwa shalatnya itu sah hanya saja dia berdosa, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian” Ini menunjukkan bahwa di shalatnya ada keutamaan jukalau tidak sah tentu tidak ada keutamaan di dalamnya.

Akan tetapi orang itu kehilangan kebaikan yang banyak dan dihadapkan pada dosa yang besar, aku memohon kepada Allah agar Dia membantu kita didalam menta’ati-Nya.

Maka shalat berjama’ahlah wahai kaum muslimin di masjid-masjid, peringatkanlah anak-anak kalian, peringatkanlah tetangga kalian, peringatkanlah saudara-saudara kalian dan jadilah orang-orang yang mensehatkan kejalan Allah, para pemimpin kaum muslimin dan bagi seluruh kaum muslimin. Karena Agama adalah nasehat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam “Agama itu adalah Nasehat , Kami (para sahabat) bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”.

Dan ketahuilah wahai kaum muslimin bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, karena yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. Maka hendak kalian barjama’ah karena tangan Allah di atas jama’ah dan barangsiapa menyendiri akan menyendiri di neraka.

Dan ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang dia mulai dari diri-Nya sendiri. Berfirman Dzat yang semulia-mulia pembicara lagi Maha Mengetahui “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam hamba dan utusan-Mu muhammad.
Ya Allah anugerahilah kami kecintaan kepadanya, dan mengikutinya secara lahir dan batin.
Ya Allah wafatkanlah kami di atas agamanya.
Ya Allah kumpulkanlah kami kedalam golongannya.
Ya Allah beri kami minum dari telaganya (telaga al kautsar).
Ya Allah masukkanlah kami kedalam syafa’atnya.
Ya Allah kumpulkanlah kami bersamanya di surga Na’im.
Ya Allah jadikanlah kami termasuk diantara para penolong agamanya dan orang-orang yang menghidupkan sunnahnya wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah ridhailah para penggantinya yang terbimbing (khulafaurrasyidin). Dan Ridhai pula Istri-istri beliau ibu-ibunya kaum muslimin dan ridhai pula para sahabat seluruhnya dan para pengikut mereka dengan benar sampai hari kiamat.
Ya Allah ridhailah kami bersama mereka dan baikkanlah keadaan kami sebagaimana engkau telah membaikkan kepada mereka, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah baikkanlah hati-hati kami.
Ya Allah baikkanlah hati-hati kami.
Ya Allah baikkanlah hati-hati kami.
Dan amalan-amalan kami.
Ya Allah baikkanlah kami, baikkanlah untuk kami dan baikkanlah bersama kami wahai Rabb semesta alam wahai Dzat yang memiliki Kemuliaan.
Ya Allah masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan menunjuki, dan orang-orang shalih yang mengajak kepada kebajikan wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, beriman kepada Allah. Sesungguhnya engkau berkehendak atas segala sesuatu.
Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar engkau baikkan para pemimpin kaum muslimin. Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar engkau baikkan para pemimpin kaum muslimin dan baikkanlah pula para pejabatnya.
Ya Allah sempurnakanlah pertolongan-Mu untuk saudara-saudara kami di Afganistan. Ya Allah satukanlah hati-hati mereka. Ya Allah lindungi mereka dari keburukan musuh-musuh mereka dan musuh-musuh kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah disemua tempat. Wahai dzat Yang memiliki Kemuliaan wahai Dzat Yang Maha Hidup Wahai Dzat Yang Maha mandiri.
Ya Allah inilah permohonan dan dari-Mulah karunia pengkabulannya. Ya Allah karuniailah kami pengkabulan apa yang kami mohon ini. Ya allah karuniailah kami dengan pengkabulannya, Wahai Dzat Yang memiliki Kemuliaan.

Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, kebaikan dan memberi kepada karib kerabat, mencegah dari kekejian, kemungkaran dan kelaliman. Menasihati kalian agar supaya kalian senantiasa ingat.

Tunaikanlah janji allah bila kalian berjanji, jangan kau batalkan sumpah setelah pengukuhannya padahal kalian telah menjadikan allah sebagai walinya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kalian lakukan.

Ingatlah allah Yang Maha Agung lagi maha Mulia niscaya Dia akan mengingatmu. Syukurilah nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan menambah nikmatnya untuk kalian. Dan sungguh mengingat Allah itu besar, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat.

Download kajian ini

[ Ditranskrip dari kaset cd khutbah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, diterbitkan oleh Tasjilat Al ‘Ilmi Yogyakarta, dengan beberapa pengeditan oleh Ahmad]

By Abu Bakrah Posted in Fiqih

4 comments on “Murtadnya orang yang meninggalkan shalat

  1. Assalaamu’alaykum warahmatullaah
    Artikel yg bagus&bermanfaat insya Allaah, tp blum s4 d save soale flasdisny lg dipbaikin,smg srtikelx msh tep eksis dlm kancah pdakwahn ahlussunnah. Sgh mprihatinkn mjd si fd yg suka kena virus dan sgt snsitive klo kbanting2, smg cepat pulih tu flasdis, dharapkn doany biar fd-ny cpat dpt mnemani ana kembali dlm mengarungi dunia perdownload’an, afwan! ada kata-kata pada paragraf ke-3 yg bertuliskan “…kami mengatakannya dalam keadaan mengikuti metode Imam Ahlis Sunnah tanpa munafik Ahmad bin Hambal – semoga Allah melimpahinya dengan Rahmat-Nya – dan menempatkannya dikelapangan surga-Nya”, maksudnya?, baarakallaahu fiikum wa jazaakumullaahu khayran
    ————-
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

  2. Barakallahu fiikum..Tapi sepertinya perlu berhati-hati kalau mau merealisasikannya kepada orang awam….demi keberlangsungan dakwah…as salamu’alaikum
    ———–
    Barokallahu fiikum
    Mudah-mudahan Allah memberi kita petunjuk.
    wa’alaikumussalam warahmatullah

  3. Assalaamu’alaykum warahmatullaah…
    Sabda nabi dibawah ini dari artikel di atas, sungguh memotivasi saya untuk
    tidak ketinggalan dalam berjamaah..

    Karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan shalat agar ditegakkan. Kemudian aku memrintahkan seseorang untuk mengimami manusia kemudian aku pergi bersama orang-orang membawa beberapa ikat kayu menuju kaum yang tidak ikut shalat. Maka aku bakar atas mereka rumah-rumah mereka dengan api” ……

    tapi bolehkah saya tau sumber hadisnya sebagai media dakwah kepada teman2 saya, karena untuk berdakwah perlu dalil yang jelas…

    wasalam…

    —————————-

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Nama antum gazali ya? Kebetulan nama ana juga gazali.
    Untuk sumber haditsnya, ana pernah baca di kitabn Shahih Bukhari dan juga kitab Riyadhush Shalihin. Silahkan antum cari di kitab2 tersebut

    Wassalam

  4. assalamu’alaikum warahmatullah…
    akhi ****** ana ingin tau apakah antum yg buat web ini? kalau boleh ana ingin juga buat web seperti ini gimana caranya y? ana juga mau minta banyak nasehat dari akhi sekaligus akan menambah wawasan dan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain. silahkan akhi balas ke e-mail ana ******. Barakalah

    —————————————————

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Afwan namanya ana sensor. Panggil ana Ahmad saja
    Insya Allah ana kirim ke email antum.

    wa fika barokallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s