Kenapa Harus Tauhid Dahulu?


Download .pdf

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terhadap Rasulullah, pengikut dan para shahabatnya,

Waba’du:

Seorang penelpon telah meminta kepadaku (sebuah nasehat) dengan judul “Mengapa Tauhid dahulu?”
Ini menunjukkan bahwa si penelepon mengetahui bahwa sesungguhnya tauhid adalah pokok akidah Islam dan dasarnya serta syarat sah dan diterimanya.

Dia menyampaikan usulan tersebut untuk memahamkan orang yang belum memahami bahwa inilah kedudukan tauhid dalam Islam. Yaitu bahwa Tauhid Uluhiyah (meurnikan ibadah hanya kepada Allah) merupakan perintah seluruh Rasul –dari (Rasul) pertama Nuh ’alaihis shalatu was salam sampai (Rasul) terakhir Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

(Allah) Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut”.” [An Nahl: 36]

Dan (Allah) Subhanahu berfirman,
“Dan Kami tidak mengutus eorang Rasul pun sebelumkamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka beribadahlah kalian (hanya) kepada-Ku”.” [Al Anbiya: 25]

Dan tidak ada seorang Nabi pun yang diutus kepada kaumnya, melainkan pasti ia menyerukan,
“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagi kalian (yang berhak disembah) selain-Nya.” [Al A’raf: 59]

Ketika Allah mengutus Nabi kita, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam kepada kaumnya, beliau berlalu selama 10 tahun tiada lain hanya menyeru kepada tauhid. Setelah itu, disyariatkanlah shalat. Dan beliau tetap tinggal 3 tahun di Makkah (di atas hal tersebut), kemudian hijrah ke Madinah. Dan pada tahun ke-2 Hijriyah, disyariatkan zakat dan puasa.

(Tampaklah) bahwa tauhid adalah pokok agama dan dasarnya serta landasannya yang (agama itu) dibangun di atasnya. Karena itu, barangsiapa merusak tauhidnya dengan beribadah kepada sembahan lain bersama Allah, maka dia telah merusak agamanya secara keseluruhan dan keluar dari Islam sehingga menjadi murtad serta hancurlah seluruh amal perbuatannya. (Allah) ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.” [Az Zumar: 65]

Dan (Nabi) ‘Isa ‘alaihis shalatu was salam berkata,
“Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al Ma’idah: 72]

Dan pokok dasar yang sangat agung ini (juga) terkandung pada (kalimat) syahadat “La Ilaha Illallahu” dan “Anna Muhammadan Rasulullah” yang (kalimat syahadat itu) terdiri dari dua bagian; “La Ilaha” dan “Illallahu”.

Bagian Pertama: Penafian peribadatan dari siapa yang selain Allah ‘Azza wa Jalla pada ucapan “Asyhadu an La Ilaha” yang bermakna tidak ada sesembahan apapun di wujud ini yang berhak diibadahi kecuali Allah.

Bagian Kedua: Pada ucapan “Illallahu” terdapat penetapan peribadatan hanya untuk Allah semata tanpa selain-Nya, karena Dia-lah yang telah menciptakan alam semesta ini.

(Allah) Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya?. (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”.” [Fushshilat: 9] dan beberapa ayat setelahnya.

Dan (Allah) Ta’ala berfirman,
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian lalu membaguskan bentuk kalian serta memberi kalian rezki dengan yang baik-baik. Itulah Allah Rabb kalian. Maha berkah Allah, Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha hidup kekal, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Katakanlah (ya Muhammad), “Sesungguhnya aku dilarang untuk menyembah sesembahan yang kalian sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.” [Ghafir: 64-66]

Sangat banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tauhid peribadatan hanya milik Allah. Maka barangsiapa yang mengucapkan (kalimat) syahadat ini; yaitu syahadat “La Ilaha Illallahu” dan “Anna Muhammadan Rasulullah”, maka ia telah meraih keberuntungan dan telah selamat dari kerugian. (Allah) Ta’ala berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasehati dalam mentaati kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” [Al Ashr: 1-3]

Dan (Allah) Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al An’am: 82]

Barangsiapa yang mengucapkannya dengan meyakini maknanya dan mengamalkan kandungannya, maka dia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia adalah kalimat yang dengannya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Dan karenanya, dunia dan akhirat, surga dan neraka diciptakan. Dan pada perkara inilah ketentuan kebahagiaan dan kesengsaraan.

Orang yang mengucapkan dan meyakininya akan diberi catatan amalnya dengan tangan kanannya, akan berat timbangan kebaikannya, akan (berhasil) melalui Ash Shirath dan masuk ke dalam surga serta selamat dari neraka.

Dan tentangnyalah, diadakan pertanyaan. (Allah) Ta’ala berfirman,
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus raul-rasul itu kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) para Rasul.” [Al A’raf: 6]

Dan (Allah) Ta’ala berfirman,
“Dan (ingatlah) di hari Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawaban kalian kepada para Rasul?” Maka tertutuplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, kemudian mereka tidak bisa saling bertanya. Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh, semoga dia termasuk orang-orang yang berutung.” [Al Qashash: 65-67]
Syaikh kami, Hafizh bin Ahmad Al Hakami rahimahullah dalam kitab Ma’arijul Qabul (2/510) berkata,

“Kalimat (tauhid) ini merupakan seagung-agung nikmat yang Allah anugerahkan kepda segenap hamba-Nya, (yaitu) dengan membimbing mereka kepadanya. Sebab itu, Allah menyebutkan (kalimat tersebut) dalam surat An Nahl –yang (disebut juga) Surah An Ni’am[1]- sebagai nikmat pertama sebelum nikmat-nikmat lainnya. (Allah) berfirman,

“Dia menurunkan para malaikat dengan (mambawa) wahyu dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka bertakwalah kalian kepada-Ku.” [An Nahl: 2]

Kalimat ini adalah kalimat syahadat dan kunci negeri kebahagiaan. Dia adalah pokok dan asas agama. (Dia merupakan) inti, tonggak dan penyangga agama ini. Sedangkan rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban (Islam) lainnya (hanya) bercabang dan berpecah darinya dan (hanya) sebagai penyempurnanya. Dan (rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban Islam itu) terikat dengan makna (kalimat tersebut) dan pengamalan terhadap konsekuensinya. Itulah Al Urwah Al Wutsqa yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),

“Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Al Urwah Al Wutsqa (ikatan tali yang amat kuat) lagi tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah: 256]

Dia adalah perjanjian yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),
“Mereka tidak berhak mendapatkan syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi (Allah) yang Maha Pemurah.” [Maryam: 87]
Berkata Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu dalam menafsirkan “Perjanjian” (dalam ayat tersebut), “Dia adalah syahadat “La Ilaha Illallahu” dan berlepas dari segala daya dan upaya selain dari Allah.”

Dia adalah Al Husna yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan Al Husna, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” [Al Lail: 5-7]

Dia adalah kalimat Al Haq yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,
“Kecuali orang yang bersaksi dengan Al Haq seraya mereka meyakini(nya).” [Az Zukhruf: 86]

Dan dia adalah Kalimatut Taqwa yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,
“Allah mewajibkan kepada mereka Kalimatut Taqwa dan merekalah yang paling berhak dengan (Kalimatut Taqwa itu) dan paling patut memilikinya.” [Al Fath: 26]” Selesai apa yang kukehendaki penukilannya dengan ada perubahan.

Dari sini kita ketahui, menapa tauhid adalah paling pertama dalam kewajiban dan yang paling pertama dalam berdakwah. Dan (mengapa) dia adalah pokok agama, dasar dan pondasinya. Maka Islam tanpa Tauhid bagaikan bangunan tanpa pondasi.

Dan kita ketahui juga kesesatan orang-orang yang berdakwah kepada apa yang menyelisihinya walaupun mereka menyangka berdakwah untuk mengembalikan khilafah yang hilang.
Kita katakan: Sesungguhnya Allah memerintahkan kita (berpegang) terhadap tauhid yang seluruh Rasul berdakwah kepadanya. Dan Allah akan bertanya kepada kita: “Apa yang kalian ibadahi dahulu?”, “Apakah jawaban kalian kepada para Rasul?”

Alangkah meruginya, orang yang menghabiskan umurnya untuk berdakwah kepada selainnya. Alangkah meruginya orang yang menyambut dan mengikutinya di atas kebatilan tersebut.

[Ditulis oleh Syaikh kami, Mufti Kerajaan Saudi Arabia bagian selatan, Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi pada 17/04/1426H. Alih bahasa oleh Ustadz Muhammad Cahyo.]

[Disalin dari majalah An Nashihah, Volume 12 Tahun 1428H/2007M. Halaman 22-27. Oleh Ahmad]

One comment on “Kenapa Harus Tauhid Dahulu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s