Faedah-faedah beramal dengan sunnah

Faedah-faedah beramal dengan sunnah

Ketika seorang muslim menjaga sunnah Nabi laksana menjaga makan dan minumnya sehingga dengan itu menjadi sebab tegaknya badan atau bahkan penjagaannya lebih daripada itu, niscaya dia akan mendapatkan manfaat dunia dan agama dengan melimpah ruah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah:

“Didalam mengikuti Sunnah niscaya ia akan mendapatkan berkah dalam mencocoki syariat, mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala, terangkat derajatnya, hatinya tenang, badan yang sehat, terbebas dari setan dan menempuh jalan yang lurus.” (Dzamul Muwaswisin, Ibnu Qudamah, hal. 41 Cet. Al Faruq Al Haditsah, Mesir)

Berkata Ibnu Hibban rahimahullah di dalam mukaddimah kitab Shahih-nya:
“Sesungguhnya dalam berpegang dengan sunnah (akanmendapatkan) keselamatan yang sempurna, karamah yang besar, yang tidak akan padam pelitanya dan tidak akan terbantahkan hujjah-nya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya akan terjaga dan barangsiapa yang menyelisihinya pasti dia menyesal karena ia merupakan benteng yang kokoh, tonggak yang kuat, yang jelas keutamaannya da kuat ikatannya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya pasti jaya, namun yang menyelisihinya pasti binasa.
Orang yang menggantungkan diri dengan sunnah adalah orang-orang yang berbahagia (Ahlus Sa’adah) di masa yang akan datang (di akhirat) dan sekaligus orang-orang yang bergembira di dunia.”
(Al Ihsan fi Tarqrib Shahih Ibnu Hibban 1/102 Cet. Ar Risalah)

Berkata Imam Al Ghazali di dalam ucapan beliau yang indah dalam kesempatan ini, “Ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan ialah terletak pada ittiba’us Sunnah (mengikuti sunnah) dan mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam segala hal baik dalam sumbernya, dalam gerakan dan diamnya, sampai-sampai dalam cara makan dan berdiri, tidur dan cara berbicara beliau.
Aku tidak mengatakan bahwa hal itu hanya pada adab-adab di dalam beribadah saja, karena tidak boleh bagi siapapun untuk meremehkan Sunnah yang shahih dalam perkara lainnya. Namun itu semua berlaku pada seluruh adat kebiasaan. Dengan ini kewajiban mengikuti sunnah adalah mutlak, sebagaimana firman-Nya:
“Katakanlah, jika kalian bernar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran: 31)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
Maka apakah pantas –setelah mendapatkan keterangan-keterangan itu- bagi orang yang berakal untuk menyepelekan perintah mengikuti Sunnah ini sehingga sampai mengatakan: Ini merupakan adat kebiasaan saja, maka tidak ada artinya mengikuti sunnah tersebut. Karena yang demikian justru menutup satu pintu mulia dari pintu-pintu kebahagiaan.”
(Dengan perantaraan penulisan Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq di dalam kitabnya Hujjiyah Assunnah hal. 80-81).

Apa yang diucapkan Abu Hamid Al Ghazali adalah pembelaan terhadap salaf radhiyallahu’anhum sebagaimana yang dikatakan oleh AL Qadhi ‘Iyadh di dalam Asy Syafa (2/575): “… dan inilah perjalanan hidup salaf sampai-sampai dalam perkara yang mubah. Anas telah mengisahkan ketika beliau melihat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mencari-cari Ad Dhubbaa’ dari tepian nampan, maka (kata Anas) sejak hari itu aku pun selalu menyukai Ad Dubbaa’. Demikian pula dengan Hasan bin Ali, Abdullah bin Abbas dan Ibnu Ja’far tatkala bertamu kepada Salma, mereka meminta untuk dihidangkan makanan yang digemari oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ibnu Umar memakai sandal sibtiyah dan mewarnainya dengan kuning karena beliau telah melihat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan yang demikian.”

Sekiranya setiap individu dari kalangan muslimin tumbuh dan memahami perjalanan hidup Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dimana ia bisa mengambil adab-adab dan akhlaqnya, gerakan dan diam beliau dengan segenap kemmapuan yang ia miliki, niscaya yang tumbuh ialah generasi yang keimanannya sebesar gunung. Yang akan memunculkan rasa takut di hati musuh-musuh sejauh satu bulan perjalanan dan ummat ini menjadi bangkit sampai ke puncak kejayaan dan kebahagiaan.

“Dan sungguh Allah pasti benar-benar akan menolong siapa saja yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hajj: 40)

Maka bagi orang-orang yang iltizam (lonsisten) dengan sunnah niscaya ia akan meraih faedah yang tak ternilai. Kami meringkasnya beberapa sebagai berikut:

Pertama: Meraih derajat Al Mahabbah yaitu kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang mukmin

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:
“Manakala semakin marak orang yang mengaku memiliki rasa cinta kepada Allah maka mulailah mereka dituntut untuk membawakan bukti akan kebenaran pengakuannya tersebut. Kalau sekiranya semua orang itu diberikan sesuai dengan pengakuannya niscaya setiap orang akan mengaku (berhak) menuntut hak milik orang yang luka kepalanya. Jadilah beraneka ragam orang yang mengaku-aku itu membuat persaksian. Maka jawabannya: Pengakuan ini tidaklah akan diterima kecuali disertai bukti.
“katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali Imran: 31)

Maka semua orang pun mundur dan yang tetap tegar ialah pengikut Al Habib (Rasulullah) baik dalam perbuatan, ucapan maupun akhlaknya.” (Madarijus Salikin 3/8)
Imam Al Bukhari telah merwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah umumkan perang kepadanya dan tidaklah ada yang mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku dengan sesuatupun yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Kumendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah sampai Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar dan Akulah penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangan yang ia gunakan untuk memberi dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk melangkah. Apabila ia meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dan apabila ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku lindungi dia…”

Di dalam hadits yang mulia ini ada dalil yang menerangkan bahwa amalan-amalan nafilah dapat menjadi salah satu sebab yang dapat memunculkan kecintaan Allah kepada hamba dan adanya keterangan yang menjelaskan hasil yang akan dieroleh atas kecintaan-Nya ini berupa sifat yang terpuji.

Barangsiapa yang dicintai Allah maka Dia menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dengan artian, bahwa Allah akan memberikan taufiq (hidayah) kepadanya untuk mendengarkan ucapan yang baik-baik saja. Allah pelingkan ia dari mendengarkan ucapan-ucapan jelek. Dia menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memberi, denga pengertian bahwa Allah akan memberi taufik untuk mempergunakan anggota tubuh tersebut di dalam batasan-batasan syar’I seperti berusaha (mencari nafkah) dengan cara yang dihalalkan, mengingkari kemungkaran, memperoleh yang baik-baik sebagaimana Allah beri taufik untuk menahan diri dari segala yang diharamkan walaupun mampu untuk meraih dan mengambilnya.

Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Akulah penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
Dalam kesempatan lain ada satu faedah yang akan didapat oleh orang yang telah mmeperoleh kecintaan ini, yaitu apa yang diriwayatkan di dalam hadits Abu Hurairah –yang disepakati keshahihannya- bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila Allah telah mencintai seorang hamba maka Dia menyerukan kepada Malaikat Jibril bahwa sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghuni langit, bahwa sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia. Maka para penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dijadikanlah sambutan/penerimaan bagi orang itu di bumi.” (HR. Bukhari dalam Kitab Bad’ul Khalqi (6/303) dan Muslim (4/2030) Kitab Al Birr Was Shilah wal Adab). Dan lafadz hadits ini ada pada Bukhari.

Kedua: Menjaga amalan-amalan nafilah dapat memperbaiki amalan wajib yang rusak

Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu beliau berkata:

“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab dari amalan-amalan manusia di Hari Kiamat adalah Shalat, beliau katakan: Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman kepada para malaikat-Nya –dan Allah Maha Mengetahui-: Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah ia telah sempurna atau kurang? Apabila telah sempurna maka dituliskan satu kesempurnaan baginya, namun apabil;a berkurang dari shalatnya sedikit saja, maka Dia berfirman: Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalah sunnah (tathawwu’)? Apabila ia memiliki amalan tathawwu’, Dia berfirman: Sempurnakanlah bagi hamba-Ku amal wajibnya dengan amal sunnahnya, kemudian balaslah amalan-amalan mereka oleh kalian.”

Termasuk dari perkara yang tidak disangsikan lagi bahwa dalam menjalani kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla terkadang tidak dipenuhi oleh kebanyakan orang, dimana amalan mereka tidak terlepas dari kekurangan seperti meninggalkan kekhusyu’an dalam shalat dan tidak tuma’ninah (tenang) dalam menjalankannya. Juga perbuatan-perbuatan lain yang tdak ada manfaatnya, ghibah (menggunjing orang) dan namimah (mengadu domba) di saat berpuasa, berdebat dan berbuat kefasikan di waktu haji, dan seterusnya. Semua ini akan menyebabkan seorang hamba di balas amalannya dan akan mengurangi nilai pahala amal wajibnya.

Kendatipun demikian, sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla karena melimpah dan luasnya keutamaan serta rahmat-Nya, telah menjadikan adanya perkara-perkara yang bisa memperbaiki kekurangan hamba-Nya dan menyulam lubang-lubang tersebut. Itu semua disebabkan penjagaannya terhadap sunnah-sunnah dan nafilah-nafilah yang telah disyariatkan.

Sehingga tidaklah pantas bagi orang yang berakal untuk merasa cukup dari perkara-perkara yang dapat menyempurnakan dan mengokohkan amalan wajibnya serta mendekatkannya kepada keridhaan Rabbnya.

Berkata Imam Asy Syathibi di dalam al muwafaqat (1/92), “(Amalan) mandub apabila diungkapkan dalam bentuk yang lebih umum dari ungkapan terdahulu niscaya didapati ia sebagai pembantu bagi amalan wajib, karena ia bisa menjadi pengiring amalan wajib atau sebagai penyempurna baginya ataupun sebagai pengingat akan maksudnya, yang bisa berasal dari jenis yang wajib ataupun tidak.
Adapun yang berasal dari jenis yang wajib, seperti shalat-shalat nafilah dengan kewajiban-kewajibannya, puasa-puasa nafilah, sedekah, haji, dan lain-lainnya dengan yang wajib-wajibnya.

Sedangkan yang bukan berasal dari jenisnya, seperti membersihkan kotoran dari badan, pakaian serta tempat shalat, bersiwak (sikat gigi), berhias dan lain-lain ketika akan shalat. Juga menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan sahur, menahan lisan dari hal-hal yang tidak bermanfaat saat berpuasa dan yang semisal itu.

Apabila demikian keadaannya, berarti ia termasuk kedalam bagian yang wajib secara keseluruhan. Namun jarang sekali perkara yang mandub itu menyelisihi perkara yang wajib sehingga ia menjadi mandub secara keseluruhan maupun parsial.”

Ketiga: Orang yang berpegang teguh dengan sunnah akan mendapat keutamaan yang besar dan akan semakin bertambah tingkat kemuliaannya ketika banyak sikap menentang sunnah

Diriwayatkan oleh Al Marwazi di dalam Assunnah (hal. 9) dari Ibrahim bin Ablah dari ‘Utbah bin Ghazwan, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dibelakang kalian ada harihari kesabaran, dimna pada hari itu bagi yang berpegang teguh dengan apa yang kalian jalani )saat ini) akan mendapatkan pahala senilai lima puluh amalan kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai nabi Allah, mungkin senilai lima puluh amalan mereka?” Beliau menjawab, “(Bukan), tetapi dari amalan kalian.”
Dikeluarkan oleh At Tirmidzi (5/257) dan selainnya dari Abdullah ibnul Mubarak, mengabarkan kepada kami Itbah bin Abi Hakim, menceritakan kepada kami Amr bin Jariyah Al Lakhmi, dari Abi Umayyah Asy Sya’bani, dari Abu Tsa’labah Al Khusyani radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya dari balik kalian ada beberapa hari yang kesabaran dikala itu laksana memegang bara api, karena bagi yang mengam,alkan sunnah di hari itu ia mendapatkan pahala senilai lima puluh amalan seorang dari kalian dimana mereka beramal seperi amalan kalian.”

Berkata Abdullah Ibnul Mubarak: Dan beliau memberikan tambahan kepadaku pada selain jalannya Itbah. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau mereka?” Beliau bersabda, “Pahala lima puluh orang dari kalian.”
Berkata At Tirmidzi, “Hadits Hasan Gharib.”

[Ditulis dari kitab Jangan coba-coba tinggalkan as sunnah]

By Abu Bakrah Posted in Aqidah

One comment on “Faedah-faedah beramal dengan sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s