Bagian di Akhirat bagi Orang yang Bertawassul

Penulis: Buletin Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-25 Tahun ke-1 / 06 Juni 2003 M / 05 Rabi’uts Tsani 1424 H

Tanya: Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh. Saya mau tanya tentang tawasul yang disyari’atkan, apakah jika seseorang tidak melakukan tawassul dengan alasan takut tidak mendapatkan bagian di akhirat sebagaimana hadits shohih dari Imam Ahmad bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beri kabar kepada umat ini bahwa mereka akan mendapatkan pujian, agama, kemuliaan, pertolongan, dan kekokohan di bumi. Maka barangsiapa di antara mereka beramal akhirat untuk mendapatkan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian akhirat.”

Lalu apakah ia harus bersabar jika mengalami ujian sebagai berikut: jika di sebuah keluarga terdapat seorang anak yang (misal: kurang berbakti), apakah anak lainnya dapat bertawassul dengan amalannya (misal: birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tuanya) agar anak yang tidak berbakti tersebut menjadi anak yang sholih?

Demikian email dari saya kirimkan atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan jazaakallaahu khayran katsiiran dan semoga ustadz dan bersama orang-orang yang senantiasa menampakkan kebenaran tetap berada dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga tetap tampak yang haq tersebut berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.
Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.
(Dadan Gandara (dad…@yahoo.com))

Jawab: Wa ‘alaikum salam wa rohmatullahi wa barokaatuh, amiin yaa Mujibassailin… dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala juga menjagamu saudara Dadan. Berkenaan dengan pertanyaan saudara, maka ketahuilah bahwa siapa saja yang bertawassul mendekatkan diri kepada Allah -tentunya dengan tawassul yang disyariatkan- contohnya dalam hal ini dengan satu amalan sholih, tidak perlu khawatir kalau amalan sholihnya itu tidak mendapatkan bagiannya lagi di akhirat, sebab Allah telah berfirman,

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…'” (QS Ali Imran: 195).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit.” (QS An Nisaa: 124).

Allah juga berfirman,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An Nahl: 97).

“Dan Dia memperkenankan (do’a) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karuniaNya…” (QS Asy Syuuro: 26).

Adapun hadits riwayat Ahmad yang saudara kemukakan adalah memang hadits yang shohih, tetapi tidak sedikitpun berkaitan dengan masalah tawassul dengan amalan sholih, perhatikanlah sabdanya Rosulullah,

“… Maka barangsiapa di antara mereka beramal akhirat untuk mendapatkan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.”

Ini menggambarkan tentang nilai eksistensi ikhlas dalam amalan, jadi sekalipun sifat amalan itu baik bila tujuannya untuk mendapatkan kesenangan dunia, tidak ikhlas karena mengharap keridhoan Allah semata, maka sedikitpun amalan itu tidak ada bagiannya di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS Asy Syuuro: 20).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan Nasaa’i dari sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu dikisahkan bahwa ada tiga orang yang beramal dengan amalan akhirat, pertama: yaitu berperang di jalan Allah hingga meninggal dunia, kedua: yang mencari ilmu dan mengajarkannya, dan yang ketiga: yang gemar berinfaq dan bersedekah. Tetapi ketiga orang itu adalah orang-orang yang pertama kali diadili oleh Allah dan kemudian dilemparkan ke dalam neraka yang menyebabkan mereka demikian adalah karena mereka beramal untuk tujuan dunia tidak ada sedikitpun keikhlasan karena Allah, yang pertama agar dikatakan pahlawan, gagah berani, yang kedua agar dibilang seorang alim terkenal, sedangkan yang ketiga agar semua orang menyebutnya seorang yang paling dermawan.

Oleh karena itu, saudara Dadan ingat bahwa “Amalan sholih terwujud dengan niat yang sholih, tetapi niat yang sholih tidak bisa mewujudkan amalan yang mungkar menjadi amalan baik, amalan bid’ah menjadi amalan yang sunnah”. Wal hasil boleh bertawassul, tetapi tentunya tawassul yang disyariatkan. Wal ‘ilmu ‘indallah.

By Abu Bakrah Posted in Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s