Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid !

Al Ustadz Qomar ZA, Lc

EKSEKUSI ‘SYAHID’ ?

Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi tersebut maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu, kontroversipun terjadi, sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, sehingga wajar saja kalau mereka berselisih pendapat, karena dasar berpendapatnya saja berbeda.

Sayang, tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang berbeda-beda, turut pula ramai-ramai ikut andil berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni, bahkan cenderung menggunakan perasaan, apakah dengan perasaan kasihan, atau sebaliknya semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membubui penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan yang sudah tercampur dengan gaya berpikirnya para korban eksekusi, sehingga tak segan-segan memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di sorga dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari dan pujian-pujian semacam itu.

Tak pelak lagi, kejadian-kejadian paska pelaksanaan sampai pada penguburan-pun dikait-kaitan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas, ada yang bilang bahwa jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut burung belibis hitam – yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda jenazah mereka diterima Allah – dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah, sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal dapat bidadari. Subhanallah…

Sekilas saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk menulis makalah ini, tak lain tujuannya adalah untuk berupaya meluruskan cara berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudahan untuk mengeluarkan vonis positif atau negatif, terlebih dalam urusan semacam ini yang lebih sarat dengan urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah Ta’ala sajalah pengetahuannya.

Ya, tak sedikit mereka yang telah menjadi korban ‘komentar tanpa ilmu’, sehingga jangan dianggap angin lalu. Semua ucapan yang kita ucapkan dicatat oleh para malaikat dan menjadi dokumen pribadi kita, untuk kemudian akan kita pertanggung jawabkan di sisi Allah Ta’ala kelak.

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Qoof:18]

Perlu dicamkan, bahwa urusan nasib seseorang di akhirat itu bukan urusan kita, bahkan itu urusan ghaib yang hanya Allah Yang Maha Tahu yang memiliki pengetahuan tentangnya. Sehingga seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu syahid, berarti ia – tanpa ilmu – telah menvonisnya pasti masuk ke dalam surga, ya, pasti tanpa ilmu, karena hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui nasib mereka dia akhirat kelak.

Wahai kaum muslimin, kita mesti mengingat firman Allah Ta’ala (yang artinya): Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isra’:36]

Janganlah karena dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan kita sendiri.

Dahulu di zaman Nabi sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat mengeluarkan vonis kebahagiaan di akhirat kepada beberapa sahabat yang lain, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menampik persaksian mereka itu, karena hal semacam ini tidak ada yang tahu termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalaulah tanpa berita wahyu dari langit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengetahui.

Suatu ketika seorang sahabat mulia Utsman bin Madz’un meninggal dunia, segeralah seorang wanita mempersaksikan baginya kemuliaan di Akhirat, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa seorang wanita bernama Umul ‘Ala, wanita Anshor yang pernah berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang muhajirin, maka kami mendapatkan bagian Utsman bin Madz’un sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia dirundung sakitnya yang menyebabkan kematiannya, maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, aku-pun mengatakan, “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Madz’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu”, maka serta merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya”. Akupun mengatakan, ”Ayahku sebagai tebusanmu Wahai Rasulullah, lalu siapa yang Allah muliakan?” Rasulullah menjawab: ”Adapun dia maka telah datang kematiannya, demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan, demi Allah saya sendiri tidak tahu -padahal aku ini adalah utusan Allah- apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku”. Umul ‘Ala mengatakan: Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.

Coba renungi kisah ini, siapakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah Utsman bin Madz’un dan siapakah Umul ‘Ala.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah jelas bagi kita siapakah beliau, adapun Utsman bin Madz’un maka beliau termasuk orang–orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqunal awwalun) Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang ke 14 dalam masuk Islam, beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama anaknya, beliau termasuk pasukan perang Badar. Demikian biografinya sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah. Ummu ‘Ala sendiri adalah Shahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia periwayat hadits Nabi, dan salah seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi, siap untuk tunduk patuh kepada titahnya.

Marilah kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan persaksiannya, lebih daripada itu, beliau tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang Rasul tidak mengetahui nasib dirinya.

Sementara di waktu lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal dunia. Diriwayatkan sebagai berikut: Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk menyolati jenazah seorang anak dari Al-Anshor, maka aku katakan: ”Wahai Rasulullah beruntung anak ini, (ia menjadi seekor) burung ushfur dari burung-burung ushfur di dalam Surga, ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpainya. ” Nabi menjawab: ”Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya, Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada tulang sulbi ayah-ayah mereka, dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka. ” [Shahih HR Muslim]

Ya, seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpainya sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshor sehingga ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya, mengapa? Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri waktu itu belum tahu tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Hal itu karena ini adalah urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu tentangnya.

Bahkan dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat sempat memvonis surga bagi seseorang yang mati di sela-sela perjalanan itu, diriwayatkan, Kami, dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas, ataupun perak, tapi kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan dan pakaian. Lalu kami beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah seorang budak, beliau diberi oleh seorang dari bani Judzam, panggilannya Rifa’ah bin Zaid dari bani Dhobib, maka ketika kami singgah di lembah itu budak tersebut bangkit untuk melepaskan bawaan tunggangannya, ternyata dia dilempar panah sehingga itu menjadi sebab kematiannya, kamipun mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan: “Sekali-kali tidak, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya kainnya akan menyalakan api padanya, ia mengambilnya dari rampasan perang pada perang Khaibar dan belum dibagi.” Abu Hurairah berkata: ”Maka orang-orang sangat takut sehingga ada seorang yang menyerahkan satu tali sandal atau dua tali sandal dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami mendapatkannya pada perang Khaibar,” maka Rasulullah bersabda: “Satu atau dua tali sandal dari neraka.”. ”

Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk budak tersebut, budak yang membantu Nabi, berjuang bersama beliau, meninggal dalam perjalanan perang yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi sabilillah. Namun dengan tegas Nabi membantah persaksian mereka, bahkan diiringi dengan sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri selembar kain sebelum dibagi-bagikan menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan syahid, ya, hanya karena selembar kain yang dia curi…

Yang lebih membuat tercengang para sahabat adalah peristiwa lain dimana Nabi bersaksi neraka terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Dari Sahl bin Sa’ad ia mengatakan: Bahwa Rasulullah bertemu dengan orang-orang musyrik sehingga mereka saling menyerang, maka tatkala Rasulullah menuju ke kampnya, dan yang lain juga menuju ke kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang yang tidak membiarkan seorangpun (dari musyrikin-pent) yang lepas dari regunya kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini mencukupi seperti yang dicukupi Fulan itu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk Neraka” (dalam sebuah riwayat): Maka para sahabat mengatakan: “Siapa diantara kita menjadi penghuni Al-Jannah, bila dia saja termasuk penghuni An-Nar ?”

Maka seseorang diantara orang-orang mengatakan: Aku akan menguntitnya terus. Iapun keluar bersamanya, setiap kali orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia cepat iapun cepat. Ia berkisah: Lalu orang itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya kemudian dia mengayunkan dirinya di atas pedangnya, sehingga iapun membunuh dirinya. Lalu orang yang menguntitnya itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah”. Beliau mengatakan: “Kenapa ?”, Ia menjawab: “Orang yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni Neraka.” Lalu orang-orang tercengang dengan hal itu. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya, lalu ia ayunkan dirinya di atas pedangnya sehingga iapun membunuh dirinya.“ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni Al-Jannah -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni Neraka -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Al-Jannah.” [Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim]

Sungguh benar-benar mencengangkan, penjuangan yang begitu gigih dalam jihad di jalan Allah, dan membuat kocar-kacir musuh, ternyata perjuangannya menjadi tidak begitu berarti manakala ia melanggar agama, bunuh diri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah persaksian mereka, hal itu karena kita sebagai manusia, banyak hal yang terluputkan dari kita, kita tidak mengetahui hal yang tersembunyi, hanyalah Allah yang tahu akhir dari nasib seseorang.

Kiranya kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya, para sahabat Nabi yang mulia dengan keilmuan dan keimanan mereka bersaksi atas para sahabat yang lain yang memenuhi hari-hari mereka dengan perjuangan dan pengorbanan, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mencegah mereka dari persaksian-persaksian tersebut, kenapa? Sekali lagi ini urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Dzat Yang Maha Tahu urusan itu, Allah ‘Azza wa Jalla.

Atas dasar itu, maka menjadi keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mereka saling-mewarisi dan mewariskan dari sejak zaman Nabi hingga kini, bahwa kita tidak bisa memastikan seorangpun secara tertentu dari muslimin bahwa dia akan masuk Surga karena sebuah amalan tertentu. Tentu saja, kepastian atas mereka yang kita peroleh informasinya dari wahyu ilahi, semacam Al-‘Asyroh Al-Mubasyraruna bil Jannah ‘, sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga’, diantaranya khalifah yang empat, atau yang semacam mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang digelari Imam Ahlussunnah, karena kegigihannya dalam memperjuangkan Aqidah, mengatakan: Dan kami tidak bersaksi atas ahlul qiblah (yakni muslimin) karena sebuah amalan yang dia amalkan bahwa ia pasti masuk surga atau neraka, kami berharap baik bagi seorang yang shaleh tapi kami tetap khawatir padanya, dan kami khawatir terhadap mereka yang berbuat jelek, tapi kami tetap mengharap rahmat Allah padanya. [Ushulus Sunnah]

Imam Ahmad yang merasakan pahit getirnya kejahatan penguasa saat itu, penyiksaan, penjara, intimidasi dalam waktu kurang lebih 3 masa khalifah yaitu Al-Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, itu semua karena memperjuangkan aqidah, hampir-hampir nyawa melayang karenanya.

Bahkan sudah melayang nyawa sekian ulama yang mendahului beliau saat itu, namun itu tidak membuat beliau larut dalam perasaan yang membawa kepada persaksian yang tidak benar, walaupun kesedihan terasa begitu mendalam dalam sanubari.

Tidak ketinggalan, Al Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, yang sebagian ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling Shahih setelah Kitabullah, oleh karenanya umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah bab berjudul: “TIDAK BOLEH SESEORANG MENGATAKAN FULAN SYAHID”

Lalu beliau menyebutkan riwayat :Abu Hurairah berkata dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: ”Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang terluka di jalan-Nya. ”

Ibnu Hajar menerangkan: [Tidak boleh Mengatakan Fulan Syahid] yakni dengan memastikan hal itu kecuali dengan (berita) dari wahyu, seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Umar bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan: “Kalian katakan dalam peperangan-peperangan kalian ‘fulan syahid’ dan ‘fulan mati syahid’, barangkali dia telah memberatkan kendaraannya, ketahuilah janganlah kalian mengatakan semacam itu akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid”. “ Dan itu hadits hasan Riwayat Ahmad dan Said bin Manshur dan selain keduanya.

Aqidah inipun ditegaskan oleh Ath-Thohawi dalam buku aqidahnya: Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari mukminin untuk Allah ampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya dan kami tidak merasa aman atas mereka serta tidak bersaksi bahwa mereka pasti dapat surga. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat jelek dan kami khawatir atas mereka tapi kami tidak putus asa pada mereka.

Dan begitulah sifat seorang mukmin, ia tidak merasa aman tentram dengan amalnya, karena yakin pasti diterima, bahkan ia selalu merasa khawatir, jangan-jangan amalnya tidak diterima, Aisyah bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah ayat : Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (yakni dari shodaqoh atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. [Al-Mukminun:60]

“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina dan meminum khamr serta mencuri?“ Rasulullah menjawab: “Tidak wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa shalat, bersedekah dan khawatir amalannya tidak diterima.” [HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Demi Allah mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh padanya tapi mereka juga takut kalau amalnya ditolak, sesungguhnya seorang mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang munafiq menggabung antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.” [Lihat Syarh At-Thahawiyah]

Para pembaca yang saya hormati, jujur saja, apakah yang dilakukan Imam Samudra cs suatu amal kebaikan? Seandainyapun itu suatu amal kebaikan, maka itupun tetap tidak membolehkan kita untuk memastikan bahwa itu diterima, bahkan hanya bisa mengharap, lebih-lebih memastikan syahid dan dapat surga serta bidadarinya. Hal itu sebagaimana penjelasan Allah, Rasul dan para ulama, inilah hukum Islam, jika kita mau menegakkan hukum Islam. Tapi kalau ternyata apa yang dilakukannya adalah suatu amal kejelekan, maka ini dari jenis yang kita khawatirkan, bahkan kekhawatiran besar.

APA SEBENARNYA YANG MEREKA LAKUKAN ?

Mari kita melihat sejenak, mereka telah menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, mereka telah membunuh dan melukai ratusan orang kafir para wisatawan asing, mereka telah menghancurkan gedung, mereka telah mengangkat senjata, muslimin kerepotan menerima tuduhan serupa, dan menimbulkan rasa takut di masyarakat, dan beberapa hal lain dengan alasan jihad.

Saya tidak ingin membahas semuanya, namun saya hanya akan menyoroti beberapa hal, itupun dengan singkat, agar tidak keluar dari maksud tulisan ini.

Pertama, menyebabkan lenyapnya nyawa seorang muslim, nyawa muslim walaupun hanya satu orang, maka itu sangat berharga di sisi Allah Ta’ala. Maka tidak boleh melakukan tindak kejahatan terhadap jiwa muslim dan membunuhnya tanpa alasan/cara yang benar. Barangsiapa yang melakukan hal itu berarti telah melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar, Allah berfirman (yang artinya): Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. [An-Nisa:93]

dan berfirman (yang artinya): Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.[Al-Maidah:32]

Al-Imam Mujahid (seorang Tabi’in, Ahli Tafsir) mengatakan: (seperti membunuh semua manusia seluruhnya) “dalam hal dosanya”. Ini menunjukkan besarnya masalah membunuh jiwa tanpa cara/alasan yang benar, dan Nabi bersabda (yang artinya): “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari 3 perkara: pezina yang telah menikah, jiwa dengan jiwa, orang yang keluar dari agama meninggalkan jama’ah” [Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, bila mereka melakukan hal itu, mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya nanti diserahkan kepada Allah”. [Muttafaqun’alaih dari hadits ibnu Umar]

Dan dalam sunan Nasa’i dari hadits Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shallallahu`alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda (yang artinya): ”Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya seorang muslim”. [Shahih, HR At-Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu majah dan yang lain Shohih At-Targhib:2439]

Dan Abdullah Ibnu Umar suatu hari memandang ke Ka’bah seraya mengatakan: ”Betapa agungnya engkau dan betapa agungnya kehormatan engkau, tetapi seorang mukmin lebih besar kehormatannya disisi Allah dari pada engkau” [Shahih lighoirihi, HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shohih At-Targhib:2441]

Kedua, membunuh jiwa mu’ahad (orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau keamanan)
, diantara mereka adalah para wisatawan asing tersebut

Dari Abdullah bin ‘Amr bn Al-Ash dari Nabi shallallahu`alaihi wa sallam ia bersabda (yang artinya): ”Barangsiapa yang membunuh Mu’ahad maka ia tidak mendapatkan bau surga padahal baunya dapat dicium dari jarak perjalanan 40 tahun” [HR Al-Bukhori dan Ibnu Majah]

Dan siapa saja yang dimasukkan oleh penguasa muslim dengan perjanjian aman maka jiwa dan hartanya juga terlindungi, tidak boleh menyentuhnya dan barangsiapa yang membunuhnya maka maka dia seperti yang disabdakan Nabi shallallahu`alaihi wa sallam…”tidak akan mendapat bau surga”, dan ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang mencoba membunuh orang yang berada dalam perjanjian aman.

Maksudnya siapa saja yang masuk dengan perjanjian aman dari penguasa untuk kepentingan suatu maslahat yang dia pandang, maka tidak boleh mengganggunya atau bertindak jahat terhadapnya, apakah kepada jiwanya atau hartanya.

Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi, dengan menimbulkan ketakutan melalui aksi terornya, Allah berfirman: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [Al-Maidah:33]

Ibnu Katsir mengatakan: kata Muharobah (memerangi) artinya melawan dan menyelisihi dan kata ini tepat diberikan kepada kekafiran atau qoth’u toriiq (penyamun jalanan) serta yang menakut-nakuti manusia dengan kejahatnnya di jalanan, demikian pula kata ‘merusak di bumi’ di berikan kepada berbagai macam kejahatan dan kejelekan. [Tafsir Al-Quran Al-Adhim:2/50]

Demikian pula kesimpulan Asy-Syaukani tentang makna ‘kerusakan di muka bumi’: Dan telah diperselisihkan tentang makna kerusakan di muka bumi dalam ayat ini, apakah itu? maka dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa itu ‘syirik’. Dikatakan dalam pendapat lain bahwa itu ‘merampok atau mengganggu dengan kejahatan di jalan’, dan yang tampak dari susunan kalimat Al-Quran bahwa kata itu tepat untuk semua yang dapat disebut sebagai kerusakan di bumi, sehingga syirik adalah kerusakan di bumi, melakukan kejahatan di jalan juga kerusakan di bumi, menumpahkan darah dan merenggut kehormatan dan merampok harta juga kerusakan di muka bumi. Serta berbuat jahat terhadap hamba Allah tanpa alasan yang benar juga kerusakan di bumi, menghancurkan bangunan menebang pepohonan dan juga mengeringkan sungai juga kerusakan di bumi, dengan ini engkau tahu dengan tepat untuk menyebut ini semua sebagai kerusakan di bumi…[Tafsir Fathul Qadir]

Maka dari itu, siapapun yang melakukan kejahatan sebagaimana kriteria dia atas maka ia berhak mendapatkan hukuman yang Allah sebutkan dalam ayat yaitu, dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara menyilang atau diasingkan. Hal itu disesuaikan dengan besar kecilnya kejahatan yang dia lakukan setelah dipelajari dan terbukti kejahatannya, hukuman tersebut ditetapkan karena besarnya kejahatan yang dilakukan sehingga Allah menyebutnya sebagai peperangan terhadap Allah dan Rasul terutama bila diantara korbannya adalah muslimin.

Dilihat dari tiga masalah ini saja, maka tampak bahwa apa yang mereka (trio bomber dkk, red) lakukan bukanlah masalah sepele, bahkan merupakan ‘kejahatan kriminal yang amat besar’. Maka hukuman Hirobah-lah yang pantas bagi mereka menurut hukum Islam, seperti yang tersebut dalam surat Al-Maidah di atas, bila mereka konsekuen dengan tuntutan syari’at Islam, maka inilah syariat Islam bagi para pelaku kejahatan semacam ini.

Dari pemaparan setengah singkat di atas, maka sangat keliru, bahkan salah besar, ketika seseorang berani memvonis surga atau syahid untuk mereka dengan amalan tersebut. Dan kesalahan vonis ini bukan hanya untuk mereka, bahkan untuk siapapun, kecuali bila ada wahyu ilahi yang menerangkan kepada kita bahwa seseorang syahid atau pasti masuk surga.

Maka berhati-hatilah, wahai kaum muslimin, untuk bicara tanpa ilmu !

Wallahu Ta’ala A’lam bish Shawab.

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Qomar ZA, Lc yang dikirim via Email)

Judul Asli: Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid !
Sumber: www.darussalaf.org
(selengkapnya dengan text arab)

One comment on “Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid !

  1. Tentang tulisan di atas, mari kita bandingkan dengan tulisan Imam Samudra yang saya cuplik dari buku karyanya “AKU MELAWAN TERORIS”.

    Buku tsb ditulis oleh Asy Syahid Imam Samudra selama dia di penjara. Berjumlah 280 halaman, dan saya cuplik beberapa halaman.

    Mari kita simak bersama, apakah Bom Bali tsb merupakan perbuatan ‘TERORISME’ ataukah ‘JIHAD FII SABIILILLAAH’.

    =======================================================================

    (‘AKU MELAWAN TERORIS’ karya Imam Samudra, halaman 108 – 114)

    PENGERTIAN JIHAD

    – Dari segi bahasa (etimologi), secara simpel jihad berarti bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga untuk mencapai satu tujuan. Dalam hal ini seseorang yang bersungguh-sungguh dalam mencari jejak bisa dikategorikan jihad.

    – Dari segi istilah, jihad berarti bersungguh-sungguh memperjuangkan hukum Allah, menda’wahkannya serta menegakkannya.

    – Dari segi Syar’i, jihad berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Pengertian syar’i ini lebih dikenal dengan sebutan ‘jihad fii sabilillah’.

    Seingatku, ketiga definisi di atas telah menjadi ijma’ (konsensus) para ulama salafush shalih, terutama dari kalangan empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Jadi, tidak ada perselisihan pendapat pendefinisian jihad dalam hal ini.

    Mereka yang ingin mengkaji lebih mendalam tentang hal ini, dapat membaca buku berjudul Al-Jihaadu Sabiilunaa (Jihad Jalan Kami) karya Syaikh Abdul Baqi Ramdun. Juga Kitaabul Jihaad, karya Syaikh Ibnul Mubarak, atau Fii At-Tarbiyah Al-Jihaadiyah Wal-Binaa (Pendidikan dan Pembinaan Jihad) karya Syaikh Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam. Atau bisa juga buku-buku lain yang berhubungan dengan jihad serta ditulis oleh ulama-ulama yang berkompeten dan terlibat aktif dalam dunia jihad (Ulama ‘Aamiliin).

    Dalam kaitan dengan peristiwa bombing di Bali, pengertian ketiga (Jihaad fii sabiilillaah) lebih tepat dan pas untuk kita bahas dan analisis.
    Pada tataran tertentu ada semacam 2 (dua) kebingungan besar yang menjadi teka-teki peristiwa bom di Bali. KEBINGUNGAN PERTAMA adalah “adanya korban dari kalangan bangsa Indonesia sendiri khususnya kaum muslimin”. KEBINGUNGAN KEDUA adalah, “mengapa dilakukan di Bali?”

    Sekali lagi, ini bukan persoalan enteng yang bisa asal jawab. Harus ada dasar hukum yang jelas sebagai landasan sebelum beramal (al-’ilmu qablal ‘aamal), atau sebelum mengadakan aksi jihad tsb. Dua kebingungan besar akan kita analisa terlebih dahulu setelah mendapat penjelasan yang tegas; jihad atau bukan, peristiwa 12 Oktober 2002 tsb?

    BOM BALI = JIHAAD FII SABIILILLAAH

    Berdasarkan niat atau rencana target, jelas bom Bali merupakan jihaad fii sabiilillaah, karena yang jadi sasaran utama adalah bangsa-bangsa penjajah seperti Amerika dan sekutunya. Ini menjadi semakin jelas dengan adanya pembantaian massal terhadap ummat Islam di Afghanistan pada bulan Ramadhan tahun 2001 yang disaksikan oleh hampir seluruh ummat manusia di segala penjuru bumi. Bangsa-bangsa penjajah pembantai kaum lemah dan bayi-bayi tak berdosa itulah yang disebut kaum musyrikin (kaum kafir) yang berhak diperangi sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

    “….dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” (At Taubah: 36)

    ‘SIPIL’ BANGSA-BANGSA PENJAJAH JADI SASARAN?

    Telah menjadi pengetahuan umum, bahwa Amerika, Australia, Singapura, Thailand dan beberapa negara lainnya memiliterisasi rakyat sipil. Jadi omong kosong kalau dikatakan bahwa turis dari bangsa-bangsa tersebut yang melancong ke Indonesia dianggap sebagai warga sipil. Apalagi beberapa bulan sebelum 12 Oktober 2002, Amerika telah gembar-gembor tentang kondisi di Indonesia. Hal ini tentu menjadi momok yang menakutkan bagi ‘warga sipil’. Dus, ‘warga sipil bangsa manapun tidak punya keberanian untuk melancong ke Indonesia yang telah diramaikan oleh kasus bom di beberapa kota. Logikanya, orang yang berani datang ke kancah bom pada umumnya bukan terdiri dari warga sipil, termasuk bangsa-bangsa penjajah seperti Amerika dan sekutunya.

    Jadi, si John Howard sesaat setelah attack 12 Oktober 2002 yang menyatakan bahwa ‘ratusan rakyat sipil’ Australia telah menjadi korban ‘teroris’ di Bali, pada hakekatnya adalah jeritan drakula monster berdasi yang telah memutar-balikkan fakta demi memperoleh simpati dari bangsa-bangsa lain.

    Iktikad di atas barangkali masih dianggap sebagai ‘asumsi ngambang’ yang belum bisa diterima sepenuhnya. Penjelasan tentang hal tersebut perlu diberikan untuk mementahkan tuduhan bahwa operasi jihad di Bali pada 12 Oktober 2002 murni ditujukan kepada rakyat sipil seperti yang digembar-gemborkan si John Howard.

    Selain itu, penjelasan tsb juga diperlukan untuk mengimbangi dakwaan bahwa warga Australia yang tewas di Bali adalah sebagai inocent alias rakyat yang tidak tahu-menahu tentang urusan perang, alias rakyat tak berdosa, seperti juga dinyanyikan oleh si Bush. Si Bush dan si John Howard barangkali ingin mengatakan, “Kalau mau memerangi kami, ya jangan rakyat sipilnya dong, perangi saja tentaranya itu baru gentle!”

    Konyolnya, ada ulama dari kalangan kaum muslimin yang termakan celotehan vampire-vampire tersebut sehingga dengan seenaknya berfatwa, “Apa pun alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apapun!”

    Ucapan senada terdengar pula ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001. Lalu ulama-ulama yang tak pernah angkat senjata dan tak pernah berjihad itu, yang kehidupan mereka dipenuhi dengan suasana comfortable (serba nyaman), segera menjilat penjajah Amerika dan mencari muka sambil ketakutan dituduh sebagai ‘teroris’ dengan mengeluarkan ‘fatwa’ agar kaum muslimin mendonor darah bagi korban tragedi WTC dan Pentagon, sekalipun korbannya jelas-jelas bangsa kafir penjajah. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi pada 12 Oktober 2002.

    Yang paling ironis, menjengkelkan dan menjijikkan adalah bahwa ‘ulama-ulama’ itu tidak berbuat hal-hal yang sama tatkala ratusan ribu ummat Islam dibantai oleh Amerika dan sekutunya. Tidak ada sepatah kritik pun yang keluar dari mulut mereka demi menghentikan kebiadaban kafir Amerika dan sekutunya, apalagi ‘fatwa’ untuk mendonor darah. Mata dan telinga mereka sesungguhnya melihat dan mendengar tragedi menyayat hati yang diderita ummat Islam itu, tetapi bibir mereka bungkam sejuta bahasa. Hati mereka terbalik sudah, lebih takut kepada manusia bernama kafir Amerika dan sekutunya ketimbang takut kepada Allah dan membela saudara mereka seiman dan seaqidah.

    BOLEHKAH MEMERANGI SIPIL BANGSA-BANGSA ‘PENJAJAH’?

    Bangsa yang paling brengsek, licik, bejat dan amoral dalam memblow-up isu sipil adalah bangsa Israel. Ketika mujahid dan anak-anak kecil intifadhah membalas serangan tentara Israel, diisukan bahwa Palestina menyerang sipil Israel. Sebaliknya ketika tentara bangsa keturunan monyet itu menghancurkan ribuan penduduk Palestina dan memusnahkan segala infra struktur mereka, Yahudi terkutuk itu melarang media massa apapun untuk menyiarkan kebinatangan mereka.

    Trik kotor, curang, culas, licik, pengecut ini kemudian diikuti oleh si Bush ketika terjadi attack terhadap WTC dan Pentagon. Begitu juga si John Howard melakukan hal yang sama ketika terjadi peristiwa 12 Oktober 2002. Taruhlah bahwa memang yang tewas pada peristiwa bom Bali adalah rakyat sipil dari bangsa-bangsa penjajah alias drakula itu, secara hukum bolehkah mereka diperangi?

    Limabelas abad lebih yang lalu, Islam telah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit. Ini terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah yang kemudian diterangkan dalam bentuk Fatwa ataupun ijtihad oleh ulama yang berkompeten dalam bidangnya.

    Namun sebelum merujuk kepada nash-nash syar’i, ada baiknya kita membuat perbandingan dan pertanyaan sederhana terhadap beberapa peristiwa pembantaian sipil muslim yang dilakukan oleh penjajah Amerika dan konco-konconya di beberapa negara Muslim.

    1. Pada Tahun 1991 Amerika melalui PBB telah meng-embargo Irak dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak bisa diterima dengan akal sehat. Ini mengakibatkan kematian lebih 600.000 bayi di Irak. Angka ini kemudian berkembang menjadi 1,5 juta bayi menjadi korban (Jakarta Post, 4 Desember 2002).

    2. Dalam periode kepemimpinan Taliban (1994-2001), Amerika meng-embargo Afghanistan melalui trik PBB dengan alasan yang juga tidak mungkin bisa diterima oleh akal waras manusia. Ribuan sipil Afghanistan kembali menjadi korban. Dunia bungkam.

    3. Ratusan ribu sipil Palestina dibantai oleh Israel dengan restu dari Pentagon. Amerika juga membantu peralatan perang sekaligus finansial. Kebiadaban telanjang itu disaksikan oleh seluruh penjuru dunia. Dunia tetap bungkam.

    4. Pasca WTC dan Pentagon 2001, salibis Amerika dan bala tentara sekutunya mementaskan kebrutalan dan kebiadaban sangat luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh Amerika yang di hatinya penuh dendam dan permusuhan abadi.

    Situs http://www.khurasan.com menyebut angka 200.000 jiwa dari kalangan sipil Afghanistan yang tewas akibat dijatuhi ribuan ton bom bangsa-bangsa penjajah itu. Dunia tahu bahwa semua yang jadi sasaran itu adalah murni rakyat sipil muslim.

    Amerika sengaja meng-ekspose WTC secara berlebih-lebihan. Sebaliknya mereka menihilkan serangan terhadap Pentagon pada hari, bulan dan tanggal, serta tahun yang sama. Mengapa?

    Di satu sisi mereka menderita ‘hilang muka’ yang luar biasa karena markas militer yang menjadi mitos terhebat dan terampuh serta tercanggih di dunia itu akhirnya jebol oleh serangan yang tak terdeteksi sama sekali. Secara praktis kepercayaan dunia terhadap sistem pertahanan Amerika menjadi anjlok alias runtuh sama sekali.

    Karena itulah mereka sengaja menutupi rasa malu mereka dengan meng-ekspose berita WTC melebihi data sebenarnya. Tujuannya adalah untuk membentuk opini bahwa korban di WTC adalah ’sipil’ yang tidak pantas dibunuh. Karenanya, pelakunya harus dihukum oleh pengadilan Internaional. Setelah sebelumnya mereka bersungut-sungut merasa diri sebagai Polisi Dunia, pasca tragedi WTC secara tiba-tiba mereka berubah menjadi Hakim Dunia, sehingga dengan seenak perutnya sendiri, mereka menggelar operasi pembantaian berjudul infinitive justice (perang salib).

    Dari sekian pentas keangkuhan dan kebrutalan yang dipamerkan para penjajah itu, Amerika dan sekutunya dengan jelas meninggalkan pesan telanjang dan berkata:

    1. Kami adalah kebenaran, dan selain kami adalah salah.

    2. Hanya kami yang boleh membunuh dan memerangi siapa pun, bangsa mana pun, yang kami anggap salah.

    3. Mereka yang melawan kami adalah teroris dan wajib kami perangi bersama seluruh bangsa dunia yang “berperadaban”.

    4. Apapun yang kami lakukan adalah atas dasar “kebenaran, keadilan dan peradaban”.

    5. Kami boleh, sah, dan dibenarkan membunuh warga sipil terutama Muslim di mana pun dan kapan pun kami suka dan mau. Sedangkan warga sipil kami tidak boleh dibunuh atau diperangi.

    6. Memerangi warga sipil kami dalam bentuk apapun adalah dilakukan oleh ‘teroris’ dan bangsa yang tak berperadaban.

    Wahai siapa saja yang bisa mendengar, bangsa muslim telah dianggap binatang. Darah dan nyawa mereka sama sekali tiada harga. Ada di sana, seorang drakula berjubah putih. Di depannya ada seekor kambing tak berdaya yang telah diikat empat kakinya. Kambing mati disembelih si drakula. Jubah drakula terpercik darah kambing. Tiba giliran kambing yang lain, sang kambing melawan dan meronta. Apa kata si drakula? “Kambing ini biadab! Kambing ini teroris! Lihatlah jubahku penuh darah!”

    Jadi, perlawanan bangsa-bangsa muslim atas penindasan yang telah dilakukan oleh Amerika dan sekutunya adalah TINDAKAN TERORIS. Aturan siapa itu? Undang-undang siapa itu? Anehnya, dunia membisu dan setuju atas semua kecurangan dan ketidak-adilan ini. Tidak sedikit dari kalangan muslim yang ikut latah dengan tindakan biadab Amerika itu.

    Sungguh, semua kejahatan dan kezhaliman para penjajah itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ummat Islam harus bangkit melawan mereka dengan segala daya dan upaya. Perlawanan yang disyari’atkan oleh Islam adalah dengan cara jihad.

    Maka, bom Bali adalah satu bentuk jawaban yang dilakukan oleh segelintir kaum muslimin yang sadar dan mengerti akan arti sebuah pembelaan dan harga diri kaum muslimin. Bom Bali adalah satu diantara perlawanan yang ditujukan terhadap penjajah Amerika dan sekutunya. Bom Bali adalah salah satu jihad yang harus dilakukan, sekalipun oleh segelintir kaum muslimin.

    (Cuplikan buku ‘AKU MELAWAN TERORIS’ karya Imam Samudra saya lanjutkan lagi pada halaman 116-118)

    MEMERANGI SIPIL BANGSA-BANGSA PENJAJAH SEBAGAI TINDAKAN SETIMPAL DAN ADIL

    Akan tetapi, yang terjadi adalah bangsa-bangsa penjajah itu telah, sedang, dan akan terus membantai warga sipil bangsa-bangsa muslim. Namun dalam prakteknya Amerika dan sekutunya telah melampaui batas.
    Allah Maha Suci, Allah Maha Benar! Allah tidak membiarkan hamba-hamba-Nya diperlakukan curang oleh kaum kafir. Perang dibalas perang, darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, pelampauan batas dibalas dengan setimpal.

    “Oleh karena itu barang siapa menyerang kamu, maka balaslah serangan mereka seimbang/setimpal dengan yang mereka lakukan terhadap kamu….” (Al-Baqarah: 194).

    Maka memerangi warga sipil (kalau memang benar sipil) dari bangsa-bangsa penjajah adalah tindakan yang wajar dilakukan demi keseimbangan dan keadilan. Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, dan … sipil dibalas sipil! Itulah keseimbangan dan itulah keadilan.

    “Dan jika kamu mengadakan pembalasan, maka balaslah dengan balasan yang setimpal dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu ….” (An-Nahl: 126).

    Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa ’sipil’ bangsa-bangsa penjajah, yang pada asalnya tidak boleh diperangi, berubah menjadi boleh diperangi karena adanya tindakan yang melampaui batas, yaitu pembantaian atas warga sipil yang dilakukan oleh bangsa penjajah.
    Dengan demikian tercapailah keseimbangan hukum dalam perlawanan. Dan dengan demikian, jihad bom Bali tidak dilakukan secara asal-asalan dan serampangan.

    Di belakang semua peristiwa itu, berdiri hukum-hukum dan pertimbangan yang didasarkan atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lengkap dengan tafsir dan fatwa dari beberapa ulama yang berkompeten akan hal ini. Bom Bali hanyalah setitik reaksi terhadap sekian banyak aksi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa penjajah bernama Amerika dan sekutunya terhadap ummat Islam di seluruh dunia.

    Perang memang kejam, perang memang mengerikan, perang memang menyakitkan dan perang memang menakutkan. Tetapi, akan tetapi ….. membiarkan kekejaman bangsa-bangsa penjajah terhadap bangsa-bangsa muslim adalah ‘LEBIH KEJAM’. Membiarkan kengerian, ketakutan dan kesakitan yang terus menimpa kaum muslimin akibat kebiadaban drakula-drakula monster itu adalah juga (bahkan malah) ‘LEBIH KEJAM LAGI’.

    Kebiadaban barbarian seperti itu (apalagi main keroyokan) hanya lazim dilakukan oleh kaum musyrik dengan segala kesyirikannya. Kesyirikan itulah yang disebut fitnah. Dan ketahuilah bahwa fitnah yang dilakukan oleh para agresor itu adalah ‘lebih kejam’ dari peperangan biasa. Karenanya Allah mewajibkan perang.
    Demi keseimbangan, demi pertahanan, demi pembelaan diri, dan demi keadilan serta kemuliaan, Allah mewajibkan perang.

    “Telah diwajibkan berperang kepadamu, padahal perang itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 216).

    =========================================================================

    Demikianlah segelintir tulisan dari Asy Syahid Imam Samudra dalam bukunya ‘AKU MELAWAN TERORIS’. Saya cuplik hanya segelintir saja. Namun dari yang segelintir ini sebenarnya semua kita sudah bisa menyimpulkan bagaimana peristiwa bom Bali ditinjau dari sudut pandang syar’i apakah termasuk ‘jihad fii sabiilillaah’ ataukah ‘terorisme’. Silahkan kita menyimpulkannya sendiri-sendiri. Yang pro dan yang kontra apalagi yang menghujat (khusus bagi yang muslim), semua kita nanti akan mempertanggung-jawabkannya kelak di hadapan Allah Yang Maha Tahu lagi Maha Perkasa semua apa yang kita perbuat, baik perilaku maupun ucapan, termasuk yang di dalam hati. Alangkah baiknya lagi jika kita semua (termasuk yang punya blog ini) mempunyai buku tersebut dan mau membaca dan menghayatinya secara seksama dan dengan penuh kejujuran.

    Tentang kepastian Syahid tidaknya Trio Bombers tsb, memang Allah-lah yang punya urusan. Tetapi dengan melihat latar belakang perlawanan mereka tsb, yang memang diperintahkan oleh Allah, alasan apalagi yang membuat kita tidak meyakini bahwa tindakan mereka itu adalah tindakan Jihad yang imbalannya adalah Jannah?

    ———————————————————–

    Untuk bantahan atas semua yang anda tulis, silahkan baca artikel diatas.
    Dan juga artikel dari Ustadz Dzulqarnain

    Allaahu yahdik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s