Pengingkaran terhadap Orang yang Meninggalkan Sunnah

Pada dua edisi sebelumnya telah dijelaskan tentang hukum meninggalkan sunnah, maka pada edisi kali ini, Insya Allah akan dijelaskan tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sikap serta ucapan para shahabat terhadap orang yang meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang akan memberikan gambaran kepada kita betapa pentingnya permasalahan “sunnah” tersebut yang sama sekali bukan perkara yang remeh sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, tetapi merupakan perkara yang “besar” yang harus kita perhatikan dan utamakan sebagaimana dikatakan para ‘ulama: “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan”.


Terdapat beberapa riwayat hadits dan atsar (ucapan para shahabat-pent.) yang mengandung celaan dan cercaan serta pengingkaran kepada orang-orang yang meninggalkan sunnah dan akan disebutkan sebagian darinya disertai pembicaraan ‘ulama tentangnya.

Jangan Terlambat dari Shaff Awal!

Di antaranya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (4/158) dari Abu Sa’id Al-Khudriy rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya sedang terlambat -dan di dalam riwayat lain miliknya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekelompok orang berada di bagian belakang masjid”- maka beliau bersabda kepada mereka: “Majulah kalian, ikutlah kalian denganku dan hendaklah orang setelah kalian mengikuti kalian, senantiasa ada suatu kaum yang selalu berada di belakang, sehingga Allah mengakhirkan mereka.”

Berkata An-Nawawiy dalam Syarah-nya: “Maksudnya: sehingga Allah akan mengakhirkan mereka dari rahmat-Nya atau keagungan keutamaan-Nya dan ketinggian derajat serta dari ilmu dan selainnya.”


Luruskan & Rapatkan Barisan Shalat!

Al-Bukhariy telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya: Bab: Dosa bagi Orang yang Tidak Menyempurnakan Shaff, dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ketika dia datang ke Madinah, dikatakan kepadanya: Apa yang engkau ingkari dari kami sejak engkau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menjawab: “Aku tidak mengingkari sesuatupun, kecuali bahwa kalian tidaklah menegakkan/menyempurnakan shaff-shaff kalian.”
Dan berhujjah dengan hadits ini atas apa yang kita berada di dalamnya akan terbangun di atasnya ucapan orang yang mengatakan: bahwa meluruskan shaff adalah perkara mustahab bukan wajib.


Berkata Al-Hafizh: “Dan Ibnu Hazm menentang orang yang menganggap adanya ijma’ atas tidak adanya kewajiban (meluruskan & merapatkan shaff -pent.) berdalil dengan apa yang telah shahih dari ‘Umar, bahwa ia telah memukul kaki Abu ‘Utsman An-Nahdiy untuk meluruskan shaff dan sesuai dengan yang telah shahih dari Suwaid bin Ghaflah, (di mana) dia berkata: “Pernah Bilal meluruskan pundak-pundak kami dan memukul kaki-kaki kami dalam shalat.” Maka dia (Ibnu Hazm) mengatakan: “Tidaklah ‘Umar dan Bilal akan memukul seseorang karena meninggalkan sesuatu yang bukan wajib.”

Dan pendapat ini perlu diteliti kembali, karena bolehnya, bahwa keduanya berpendapat dan berpandangan dijatuhinya hukuman yang keras bagi orang yang meninggalkan sunnah.” (Al-Fath 2/209)


Berkata Al-Hafizh terhadap hadits Anas secara marfu’: “Luruskan shaff-shaff kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaff termasuk menegakkan shalat.” :

“Ibnu Hazm berdalil, bahwa perkataan (dari hadits Anas): “menegakkan shalat” menunjukkan wajibnya meluruskan shaff. Dia berkata: “Karena menegakkan shalat itu adalah suatu kewajiban, maka segala sesuatu yang merupakan bagian dari wajib adalah wajib juga.”


Dan tidak samar padanya, bahwa para perawi tidak bersepakat atas ungkapan ini.
Sedangkan Ibnu Baththal berpegang dengan zhahir lafazh Abu Hurairah: “Karena, sesungguhnya menegakkan shaff termasuk kebaikan shalat.” Lalu ia berdalil dengannya, bahwa meluruskan shaff adalah sunnah. Dia mengatakan: “Karena baiknya sesuatu adalah tambahan atas kesempurnaannya.”


Dan dia membawa suatu riwayat: “Termasuk kesempurnaan shalat.” (Al-Fath 2/209)


Adapun hadits: “Sungguh kalian luruskan shaff-shaff kalian, atau sungguh Allah akan selisihkan di antara wajah-wajah kalian.”


Sungguh, telah diperselisihkan ancaman ini, apakah mengandung pengertian yang sebenarnya atau hanya sekedar majaz? Barangsiapa yang memahami hadits itu dengan pengertian sebenarnya, maka mengharuskannya untuk berpendapat akan wajibnya hal itu (meluruskan shaff).” (Al-Fath 2/207)


Ibnu Rusyd telah menghikayatkan adanya ijma’ atas tidak adanya kewajiban, dia mengatakan: “Para ‘ulama telah bersepakat, bahwa shaff pertama sangatlah disukai, demikian juga merapatkan/saling menempel pada shaff dan meluruskannya. Dikarenakan adanya perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Bidaayatul Mujtahid 1/187)


Kesimpulannya bahwa masalah ini bukan di sini tempatnya untuk membicarakannya secara panjang-lebar. Akan tetapi yang dimaksudkan dengannya di sini adalah, bahwa jumhur ummat berpandangan tentang sunnahnya merapatkan shaff dan mengingkari orang yang menyelisihinya.”
Maka tercapailah apa yang dimaksud: yaitu pengingkaran terhadap orang yang menyelisihi sunnah menurut para ‘ulama.


Upayakanlah untuk Shalat Malam

Termasuk (dalam permasalahan ini) adalah riwayat yang telah disepakati oleh Al-Bukhariy dan Muslim dari hadits ‘Ali bin Husain bahwa Husain bin ‘Ali mengabarinya, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu mengabarinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetoknya dan Fathimah binti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada suatu malam, kemudian mengatakan: “Tidakkah kalian melakukan shalat?” Aku mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jiwa-jiwa kami berada di tangan Allah, maka apabila Allah menghendaki untuk dibangkitkan pastilah kami akan dibangkitkan-Nya.” Beliau langsung berpaling ketika aku mengucapkan hal itu dan tidak membantahku dengan sepatah katapun. Kemudian aku mendengar beliau membalikkan badannya sambil memukul pahanya yang mulia, seraya bersabda membacakan sebuah ayat Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah (berdebat).” (Al-Kahfi:54)

Dan An-Nasa`iy telah mengeluarkan dalam Sunan-nya (3/206) hadits yang semakna dengannya.

Para ‘ulama berselisih pendapat tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, apakah itu suatu pengingkaran atas ‘Ali rodhiyallahu ‘anhu atau merasa heran dengan cepatnya jawabannya?, atau menerima ‘udzur dari keduanya dan beliau tidak mencela keduanya.
Yang rajih -wallaahu a’lam- adalah yang dipilih oleh Al-‘Allaamah As-Sindi di dalam Hasyiyah-nya atas Sunan An-Nasa`iy di mana beliau berkata mengomentari perkataan: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Dan manusia adalah makhluq yang paling banyak membantah (berdebat).” (Al-Kahfi:54):


“Adalah suatu pengingkaran terhadap sanggahan ‘Ali, karena ia berpegang dengan taqdir dan kehendak Allah dalam menghadapi perintah syari’at dan ini tertolak. Hal ini bukanlah perkara yang mudah, kecuali muncul dari seorang yang banyak berdebat/terbiasa melakukan jidal. Ya, perintah/pembebanan di sini sifatnya adalah anjuran, bukan wajib. Oleh karena itu, beliau berpaling dari mereka dan mengatakan demikian. Dan seandainya perkara itu merupakan kewajiban, pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan membiarkan mereka dalam keadaan seperti itu. Wallaahu a’lam.” (Hasyiyah As-Sindi 1/239)


Bersama Majelis yang Bermanfaat

Dan (termasuk permasalahan ini) adalah apa telah diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/463) dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tidaklah duduk suatu kaum dalam suatu majelis, kemudian mereka tidak berdzikir kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali akan ditimpa penyesalan pada hari kiamat, walaupun mereka masuk ke dalam surga karena pahala.”


Dan hadits ini terdapat pula di dalam Sunan Abu Dawud (5/180) dengan lafazh: “Tidaklah suatu kaum bangkit dari suatu majelis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, kecuali mereka akan bangkit seperti bangkai keledai dan bagi mereka penyesalan di hari kemudian.”


Dan di dalam Sunan Abu Dawud juga dengan lafazh: “Barangsiapa duduk di dalam suatu majelis, tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, niscaya Allah akan timpakan kepadanya kekurangan/penyesalan dan barangsiapa berbaring di suatu tempat pembaringan tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka Allah akan menimpakan penyesalan kepadanya.”
Al-Haitsamiy berkata di dalam Al-Majma’ (10/79) tentang sanad-sanad yang dibawakan oleh Al-Imam Ahmad: “Para perawinya shahih.”

Di dalam Al-Adzkaar (hal.255) An-Nawawiy berkata tentang sanad Abu Dawud untuk lafazh yang pertama: “Sanadnya Shahih.”

Al-Imam Ahmad telah meriwayatkan (hadits lain) dari jalan Ibnu Abi Dzi`b dari Shalih dari Abu Hurairah dengan lafazh:


“Tidaklah duduk suatu kaum dalam suatu majelis, kemudian mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya dan tidak bershalawat kepada Nabi, tiada lain Allah akan timpakan kepada mereka penyesalan.” (2/453)


“Dan Ibnu Abi Dzi`b telah mendengar dari Shalih sebelum kacau pikirannya (pikun),” demikian kata Ibnu Ma’in. Berkata Al-Jauzjani: “Ibnu Abi Dzi`b mendengar riwayat itu darinya (Shalih) sudah lama.” (Mizaanul I’tidaal 2/303)


Dan telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad juga (2/495) dari jalan Ziyad bin Sa’ad, bahwa Shalih maula At-Tau`amah telah memberitakan kepadanya, bahwa ia telah mendengar Abu Hurairah mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Apabila suatu kaum duduk di suatu majelis, kemudian mereka bangkit dan tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka bagi mereka penyesalan pada hari kiamat.”
“Ziyad telah mendengar dari Shalih sebelum tercampur (hafalannya),” demikian disampaikan oleh Ibnu ‘Ady. (Al-Kaamil 4/1376)


Hadits-hadits tersebut menjelaskan agar setiap pertemuan kita hendaknya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat seperti berdzikir kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentunya harus sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dengan mengadakan dzikir bersama yang dipimpin oleh seseorang, yang hal ini tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Permasalahan tersebut telah dijelaskan oleh Al-Imam Al-Humaidiy (gurunya Al-Imam Al-Bukhariy) dalam bait sya’irnya: “Pertemuan manusia itu tidak memberikan manfaat sedikitpun kecuali mesti di sana ada “qiila wa qaal” (ngobrol sana sini tanpa ada manfaatnya). Maka persedikitlah pertemuan dengan manusia kecuali untuk mengambil ilmu atau memperbaiki keadaan.”


Artinya jadikanlah setiap pertemuan kita untuk sesuatu yang bermanfaat yaitu saling mengambil ilmu (faedah) antara satu dengan yang lainnya atau untuk memperbaiki keadaan manusia.

Hendaklah Mandi pada Hari Jum’at

Termasuk (permasalahan ini) juga apa yang disepakati oleh (Al-Bukhariy dan Muslim) atasnya dari hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika ‘Umar bin Khaththab berkhuthbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, masuklah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian ‘Umar pun mengarahkan pembicaraan kepadanya dan mengatakan: “Ada apa dengan para lelaki yang berlambat-lambat setelah panggilan adzan dikumandangkan!” ‘Utsman berkata: “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak menambahkan dari berwudhu` setelah mendengar adzan dan langsung datang (ke masjid).” Kemudian ‘Umar berkata: “Hanya dengan berwudhu` saja! Tidakkah kalian mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila salah seorang kalian mendatangi shalat jum’at maka mandilah.” (Lafazh hadits ini dari Al-Imam Muslim)


Al-Imam An-Nawawiy dan Al-Hafizh Ibnu Hajar beristimbath dari hadits tersebut (tentang disyari’atkannya) : pengingkaran terhadap orang yang menyelisihi sunnah, walaupun orang yang diingkari itu tinggi kedudukannya.


Al-Hafizh berkata: “Peristiwa itu dijadikan sebagai dalil, bahwa mandi Jum’at itu hukumnya wajib, disebabkan oleh tindakan ‘Umar: menghentikan khuthbahnya dan pengingkaran atas perbuatan ‘Utsman dalam meninggalkan sunnah (mandi Jum’at-pent.).” Dan diikuti pula: “Sesungguhnya beliau mengingkari perbuatannya meninggalkan sunnah yang disebutkan di atas, yaitu: pergi shalat Jum’at di awal waktu dan juga mandi di hari itu (Jum’at).” (Al-Fath 2/360)

Perlu kita diketahui, bahwasanya para shahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam melakukan kebaikan dan paling mudah untuk menerima nasehat. Hal ini telah Allah terangkan dalam Al-Qur`an, seperti firman-Nya:

وَلاَ عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّواْ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَناً أَلاَّ يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (untuk berperang).” (At-Taubah:92).

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzaariyaat:55)


Dari keterangan hadits dan atsar di atas menjadi jelaslah bagi kita tentang kerasnya sikap dan ucapan para shahabat terhadap orang yang meninggalkan sunnah (walaupun hukum sunnah tersebut tidak sampai kepada wajib). Oleh karena itu, tauladan tersebut haruslah menjadi pelajaran bagi kita agar selalu mengamalkan Sunnah Nabi dengan semaksimal mungkin dan selalu berusaha bersama Sunnah Nabi di manapun Sunnah itu berada. Dan jangan ragu-ragu untuk menegur dan memperingatkan orang yang meninggalkan sunnah seperti kepada orang yang sering terlambat shalat berjama’ah sehingga tidak mendapatkan “Takbiratul Ihram”, shalat dengan celana panjang yang ketat, tidak mau merapatkan shaff (barisan) dalam shalat dan perkara-perkara lainnya yang menyelisihi sunnah.
Allaahumma A’innaa ‘alaa Dzikrika wa Syukrika wa Husni ‘Ibaadatik, Aamiin Yaa Mujiibassaa`iliin. Wallaahu A’lamu bish Shawaab.


Diringkas dari kitab Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah karya Asy-Syaikh ‘Abdussalam bin Barjas dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Sumber: adhwaus-salaf.or.id

Buletin Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-16 Tahun ke-2 / 12 Maret 2004 M / 20 Muharrom 1425 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s