Hukum Tidak Merapatkan Shaf dan Celah-Celah di Dalam Shaf

Penulis : Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman

Munculnya shaf yang demikian itu karena adanya keyakinan pada kebanyakan kaum muslimin bahwa meluruskan dan menegakkan shaf itu cukup dengan bahu saja!! Mereka belum mengetahui bahwa meluruskan shaf itu dengan meluruskan telapak kaki juga.

Dari Anas radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tegakkanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.”

Maka Anas berkata: “Salah seorang dari kami, mempertemukan bahunya dengan bahu saudaranya dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya.”[1]

Dalam satu riwayat Anas radhiyallahu’anhu berkata: “Sesungguhnya saya melihat salah seorang dari kami mempertemukan bahunya dengan bahu saudaranya. Kalau engkau pergi untuk melakukan demikian itu pada hari ini, tentu engkau akan melihat salah seorang dari mereka (kaum muslimin) seperti baghal liar.”[2]

Karena ini Bustair bin Yasar al Anshari berkata: “Tatkala Anas datang ke Madinah, dikatakan kepadanya: “Sejak hari engkau mentapkan janji kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, apa yang engkau ingkari dari kami?” Anas radhiyallahu’anhu berkata: “Saya tidak mengingkari kecuali sesungguhnya kalian tidak menegakkan (menyempurnakan) shaf-shaf.”[3]

Maka nyatalah bahwa mempertemukan bahu dengan bahu dan telapak kaki dengan telapak kaki dalam shaf adalah sunnah, yang telah dilakukan oleh para shahabat radhiyallahu’anhum. Itulah yang diaksud dengan menegakkan dan meluruskan shaf sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar yang akan datang uraiannya.

Perkataan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu: “Kalau engkau pergi melakukan yang demikian itu pada hari ini, tentu engkau akan melihat salah seorang dari mereka seperti baghal liar.” Seperti inilah keadaan mayoritas mnusia pada zaman ini. Kalau seseorang melakukan sunnah-sunnah ini di tengah-tengah mereka, tentu mereka lari seperti baghal yang liar! Sehingga sunnah di sisi mereka seakan-seakan seperti bid’ah. Kita berlindung kepada Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kpada mereka dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang merasakan manisnya sunnah.[4]

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata tatkala mengomentari tambahan dari Anas dalam hadits yang lalu:

“Penjelasan ini memberikan faedah bahwa sesungguhnya perbuatan tersebut telah terjadi di zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Berdasarkan ini, maka berhujjah dengannya menjadi sempurna tentang penjelasan maksud menegakkan dan meluruskan shaf.”[5]

An Nu’man bin Basyir telah menerangkan tentang aturan shaf yang telah disebutkan oleh Anas bin Malik yaitu mempertemukan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki, dan dia menambahkan: “Lutut dengan Lutut.” Dia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada manusia, maka beliau berkata:

“Tegakkanlah shaf-shaf,” tiga kali beliau mengatakannya. “Demi Allah kalian menegakkan shaf-shaf kalian atau sungguh Allah akan memecah belah hati-hati kalian.”

An Nu’man berkata: “Maka saya melihat sorang laki-laki mempertemukan bahunya dengan bahu saudaranya, lututnya dengan lutut saudaranya dan mata kakinya dengan mata kaki saudaranya.”[6]

Al Albani berkata dalam mengomentari hadits Anas dan Nu’man yang lalu:

“Dalam dua hadits ini terdapat faedah-faedah yang penting:

1. Wajib menegakkan dan meluruskan shaf-shaf serta merapatkannya, karena adanya perintah demikian. Sedangkan asal dari perintah menunjukkan wajib kecuali ada keterangan (qarinah). Demikian yang telah tetap dalam ushul. Sedangkan qarinah di sini menguatkan hukum wajib tersebut, yaitu sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Atau Allah akan memecah belah hati-hati kalian.” Sesungguhnya ancaman yang keras ini, tidak akan dikatakan terhadap sesuatu yang tidak wajib, sebagaimana yang telah nyata.

2. Sesungguhnya pelurusan tersebut bisa dilakukan dengan mempertemukan bahu dengan bahu dan tepi telapak kaki dengan tepi telapak kaki, karena demikianlah yang dilakukan oleh shahabat tatkala mereka diperintahkan menegakkan shaf.[7]

Sangat disayangkan bahwa sesungguhnya sunnah pelurusan ini telah diabaikan oleh kaum muslimin bahkan mereka telah menyia-nyiakannya kecuali sedikit dari mereka. Maka saya tidak melihat amalan itu ada pada sekelompok dari mereka kecuali Ahli Hadits. Sesungguhnya saya melihat mereka di Mekkah pad atahun 1368 H sangat antusias untuk berpegang dengan sunnah itu, sebagaimana sunnah-sunnah Al Musthafa shallallahu’alaihi wa sallam yang lainnya.

Berbeda dengan selain mereka dari kalangan para pengikut madzhab yang empat –tidak terkecuali Hanabilah- sesungguhnya sunnah ini di sisi mereka (para pengikut madzhab) telah dilupakan. Bahkan mereka berusaha untuk menjauhi dan berpaling darinya. Yang demikian itu karena mayoritas madzhab telah menetapkan bahwa yang sunnah dalam berdiri ketika shalat adalah merenggangkan diantara kedua telapak kaki itu kira-kira sejauh empat jari, jika lebih dimakruhkan. Sebagaimana yang disebutkan secara rinci dalam Al Fiqhu ‘Ala Madzhabil Arba’ah (1/207).

Ketentuan tersebut tidak ada asalnya dalam sunnah, melainkan hanya pendapat saja.kalaupun shahih tentu harus dikaitkan dengan imam dan orang yang shalat sendirian. Sehingga tidak bertentangan dengan sunnah-sunnah yang shahih ini, sebagaimana yang ditntut dalam kaidah-kaidah ushul.

Ringkas kata, saya serukan kepada kaum muslimin –khususnya para imam masjid- yang berusaha mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam guna meraih keutamaan dalam menghidupkan sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, agar mengamalkan sunnah ini dan berusaha tetap di atasnya. Kemudian menyeru manusia kepadanya, sehingga mereka semua berkumpul di atasnya. Dengan demikian mereka akan selamat dari ancaman: “Atau Allah akan memecah belah hati-hati kalian.”[8]

Saya (Penulis) berkata:

Orang-orang yang shalat selama tidak melakukan apa yang telah dilakukan oleh Anas dan An Nu’man maka celah dan kelonggaran dalam shaf-shaf itu masih tetap ada. Yang disaksikan bahwa keumuman orang-orang yang shalat kalau mereka mau merapatkan tentu shaf-shaf itu masih mencukupi untuk dua atau tiga orang yang lain, terutama pada shaf yang pertama.

Jika mereka tidak melakukan hal tersebut maka:

1. Mereka terjatuh dalam larangan yang syar’i yang tersebut dalam hadits yang lalu.

2. Mereka membiarkan kelonggaran untuk setan dan Allah yang Maha Suci akan memutus mereka.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tegakkanlah shaf-shaf dan sejajarkanlah antara bahu-bahu. Tutuplah Al Khalal dan janganlah kalian membiarkan celah (Al Fujurat) untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya, barangsiapa yang memutuskan shaf, Allah akan memutusnya.”[9]

Al Fujurat jamak dari Fujratun, yaitu tempat yang kosong diantara dua orang. Al Khalal adalah tempat yang longgar diantara dua orang dikarenakan tidak merapatkan shaf.

3. Hati mereka akan berpecah belah dan banyak perselisihan.[10] Yang mana di dalam hadits An Nu’man ada faedah yang sudah dikenal dalam ilmu jiwa, yaitu keruskan dzahir akan mempengaruhi kerusakan bathin, dan begitu pula dengan sebaliknya. Demikian juga sunnah merapatkan shaf akan membuahkan rasa persaudaraan dan saling menolong dalam jiwa-jiwa tersebut. Dimana bahu orang yang faqir menempel pada bahu orang yang kaya, dan telapak kaki orang yang lemah menempel pada telapak kaki orang yang kuat. Semua itu ada dalam satu shaf seperti sebuah bangunan yang kuat yang saling menguatkan.

4. Terputusnya pahala yang besar dari mereka, sebagaimana yang tetap dalamkebanyakan hadits yang shahih. Diantaranya sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat mengucapkan shalawat atas orang-orang yang menyambung shaf-shaf.”[11]

Dan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya.”[12]

Dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian (adalah) orang yang paling lunak bahu-bahunya dari kalian dalam shalat dan tidak ada langkah kaki yang paling besar pahalanya dari pada langkah kakinya seorang yang menuju ke celah-celah shaf, lalu dia menutupinya.”[13]

Kandungan dalam hadits tersebut adalah:

a. Peringatan terhadap orang yang benci kepada orang yang menutup celah shaf yang ada disampingnya.

Amat mengherankan ketika kita menyaksikan orang-orang shalat -terlebih lagi yang berusia tua- meninggalkan shaf yang ditutup itu menuju ke shaf berikutnya jika datang seorang yang mencintai sunnah dan mengharapkan pahala Allah untuk menutup kekosongan shaf itu. Hendaklah mereka ingat sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling lunak bahunya dalam shalat.” Juga: “Lunakkanlah kalian terhadap tangan saudara kalian.”[14] Peringatan ini bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Setelah memaparkan hadits yang lalu, Ibnu Hammam berkata: “Berdasarkan ini diketahuilah bodohnya orang yang menahan orang yang masuk ke shaf di sampingnya. Dia menduga bahwa melapangkan shaf untuk orang yang hendak merapatkan adalah riya disebabkan dia bergerak karena orang tersebut. Padahal yang demikian membantu dia untuk mendapatkan keutamaan dan menutup kekosongan-kekosongan dalam shaf yang diperintahkan untuk menutupnya. Hadits-hadits dalam perkara ini sangat mahsyur dan banyak.”[15]

b. Berjalan ketika sedang shalat untuk menutup kekosongan shaf adalah sebuah keutamaan.

Jika makmum melihat tempat kosong, hendaklah dia memajukan langkah kakinya untuk menutupnya jika tempat kosong itu ada di depannya. Jika orang tersebut tidak maju, maka orang yang ada di samping tempat yang kosong itu yang menutupnya, dengan berjalan ke arah kiri, jika ia ada di samping kanan imam. Atau ke arah kanan jika dia ada di samping kiri imam, karena sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Rapatkanlah shaf kalian dan saling mendekatlah kalian diantara shaf-shaf itu dan sejajarkanlah leher-leher itu. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya saya melihat setan masuk ke celah-celah shaf seperti Al Hadzaf.”[16]

Al Hadzaf adalah kambing negeri Hijaz atau Jurasyiyah yang berwarna hitam dan kecil, tanpa ekor dan telinga, sebagaimana yang terdapat dalam “Kamus.”

Dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang menutup tempat yang kosong (dalam shaf) maka Allah akan mengangkat derajatnya dan membangunkan rubah di surga untuknya.”[17]


[1] Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam Ash Shahih (725), Ahmad di dalam Al Musnad (3/182, 263).

[2] Dikeluarkan oleh Abu Ya’la di dalam Al Musnad (3720), Al Mulakhash fil Fawaid (1/10/2) dan Said bin Manshur di dalam As Sunan dan Al Ismaili sebagaimana di dalam Fathul Baari (2/211) dan sanadnya shahih di atas syarat Asy Syaikhan sebagaimana di dalam As Silsilah Ash Shahihah (31).

[3] Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam Ash Shahih (724).

[4] Ibkaarul Minan (hal 245).

[5] Fathul Baari.

[6] Dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam As Sunan (662), Ibnu Hibban di dalam Ash Shahih (396-mawarid), Ahmad di dalam Al Musnad (4/276), Ad Daulabi di dalam Al Kuna wal Asma’ (2/86) dan sanadnya shahih. Dan telah dikeluarkan oleh Al Bukhari maqulah An Nu’man di dalam Shahih-nya (2/211-dengan Al Fath) secara ta’liq dengan shigah jazm. Dan disambungnya oleh Ad Daruquthni di dalam As Sunan (1/282) dan dari jalannya Ibnu Hajar di dalam Taghliq Al Ta’liq (2/302). Dan juga disambung sanadnya oleh Ibnu khuzaimah sebagaimana di dalam Hadyu As Sari (hal 28), AL Fath (2/211), At Targhib wat Tarhib (1/176) dan Taghliq At Ta’liq (2/302). Lihat As Silsilah Ash Shahihah (32).

[7] Lihat Syarah Raudhah Ath Thalib (1/222) oleh Asy Syaikh Zakaria AL Anshari dan hati-hatilah dari terlalu merenggangkan antara dua kaki, sehingga tertutup celah, yang menjadi kehurusan juga menempelkan antara bahu dengan bahu. Hendaklah diperhatikan!

[8] Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (1/40-41).

[9] Dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam As Sunan (666) dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim sebagaimana di dalam Al Fath (2/211). Dan hadits itu ada di dalam Shahih At Targhib wat Tarhib (490). Berkata Syaikh kami AL Albani di dalam As Silsilah Adh Dha’ifah (2/323) dalam rangka mengomentari orang yang mengatakan tentang sunnahnya menutup celah dalam shaf: “Bagaimana hal itu –yakni menutup celah- bisa menjadi perkara yang sifatnya sunnah saja?!” Selanjutnya beliau membawakan hadits dan mengatakan: “Yang benar bahwa menutup celah shaf yang masih lowong itu hukum wajib selama memungkinkan.”

[10] Bahkan terkadang kmu akan jumpai orang yang shalat di shaf pertama, mereka meninggalkan sebagian mereka dengan sebagian lainnya, hanya karena dorongan syahwat yang palsu dan untuk kepentingan yang sementara sifatnya. Untuk permasalahan hajr ini banyak kejelekan dan kejahatan yang akan ditimbulkan, lihatlah di dalam kitab kami Ahkamul Hajr fil Kitab was Sunnah.

[11] Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Al Musnad (4/296, 285, 304) (5/262), Ibnu Majah di dalam As Sunan (997) dan (999), Ibnu Hibban di dalam Ash Shahih (3/297-298), Ibnu Khuzaimah di dalam Ash Shahih (1550). Dan sanadnya shahih.

[12] Dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam As Sunan (666), Ibnu Khuzaimah di dalam Ash Shahih (1549) dan itu shahih.

[13] Dikeluarkan oleh Ath Thabrani di dalam Al Ausath dengan sempurnanya dan telah dikeluarkan alenia yang pertama darinya oleh Al Bazzar dengan sanad yang hasan, Ibnu Hibban di dalam Ash Shahih, lihat juga Majma’ Az Zawaid (2/90), At Targhib wat Tarhib (1/200-shahihnya).

[14] Telah datang tambahan yang shahih di dalam hadits Ibnu Umar yang lalu: “Tegakkanlah shaf-shaf kalian…” Lihat Shahih At Targhib wa Tarhib (495).

[15] Syarah Fathul Qadir (1/360).

[16] Dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam As Sunan (667), Ibnu Khuzaimah di dalam Ash Shahih (1545) dan sanadnya shahih.

[17] Telah dirawikan oleh Ath Thabrni di dalam Al Ausath dari ‘Aisyah, Ibnu Majah dari Haditsnya juga tanpa kalimat “Akan membangunkan sebuah rumah di surga untuknya.” Al Ashbahani di dalam At Targhib dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan hadits itu shahih sebagaimana di dalam Shahih At Targhib (505).

2 comments on “Hukum Tidak Merapatkan Shaf dan Celah-Celah di Dalam Shaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s