Transkrip Khutbah Jumat 1

Ustadz ‘Abdul Mu’thi Al Maidani

Masjid PP. Al Anshor Wonosalam Yogyakarta

05 Desember 2008

Perkara-perkara Yang Dapat

Menyelamatkan Seseorang Dari Fitnah

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at yang semoga di muliakan oleh Allah…

Sebagaimana dalam jum’at yang lalu kita telah menjelaskan bahwasanya orang yang berbahagia adalah orang yang dilepaskan oleh Alah dari berbagai fitnah. Maka sebagai kaum muslimin sudah selayaknya bila kita mempelajari perkara-perkara yang bisa menyalamatkan kita dari fitnah, Yang bersumber dari kitabullah dan dari sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.

Diantara perkara yang bisa menyalamatkan kita dari fitnah yaitu:

Berpegang teguh dengan tali Allah Ta’ala yaitu Al Qur’an, As Sunnah dengan pemahaman salafuna shalih radhiyallahu ta’ala anhum. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaahaa: 123)

Petunjuk Allah yaitu Kitabullah dan As Sunnah, maka di dalam kita berpegang dengan tali Allah ada tiga perkara yang harus kita ingat, yang merupakan sarana yang menyampaikan kita kepada tali Allah.

Yang pertama yaitu hendaklah kita menerima kitabullah dan sunnah rasulillah shallallahu’alaihi wa ala alihi wa sallam dengan penerimaan yang benar, dengan mengikuti segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya, demikian pula hendaknya kita membenarkan segala pemberitaan-pemberitaannya.

Kita menerima kitabullah dan sunnah rasulillah shallallahu’alaihi wa sallam baik secara zhahir demikian pula secara bathin. Karena kita yakini bahwa kitabullah dan sunnah Rasulillah shallallahu’alaihi wa sallam pasti dijaga oleh Allah dan tidak akan dicemari oleh tangan-tangan kotor yang ingin merusaknya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Perkara yang kedua yaitu Bahwa kita memahami kitabullah dan sunnah Rasulillahi shallallahu’alaihi wa sallam dengan pemahaman As Salaf, generasi terbaik dari ummat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, para Tabi’in dan demikian pula para Atba’ut Tabi’in. Mereka yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa ala alihi wa salam. Sebaik-baik generasi adalah generasiku, yaitu generasi sahabat, kemudian At Tabi’in dan Atba’ut Tabi’in.

Perkara yang ketiga yaitu bahwa kita harus mengamalkan kitabullah dan sunnah rasulillah shallallahu’alaihi wa ala alihi wa sallam dengan sebenar-benarnya. Perkara yang ketiga ini lebih berat daripada perkara yang kedua, karena banyak dari kita yang belum mampu sepenuhnya untuk mengamalkan kitabullah, dan sunnah Rasulillah shallallahu’alaihi wa ala alihi wa sallam. Apabila kita ingin terhindar dari fitnah, hendaklah kita mengamalkan keduanya apapun yang terjadi di tengah-tengah kita

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ma’asyiral Muslimin, sidang Jum’at yang semoga dimuliakan oleh Allah…

Diantara perkara yang bisa menyalamatkan kita dari fitnah yaitu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa secara umum, apakah itu tentang syirik kepada Allah, dosa kekafiran kepada Allah, atau dosa kemaksiatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Karena perbuatan-perbuatan dosa kita, akan menjatuhkan kita kepada fitnah.

Wallahi, bahwa yang dikhawatirkan atas kita bukanlah kerusakan agama ini, karena agama ini ada yang menjaganya, dakwah ini ada yang menjaganya yaitu Allah Jalla wa ‘Ala. Tetapi diri-diri kita siapakah yang akan menjaganya?, siapakah yang akan menjaminnya? Siapakah yang akan menyelamatkannya kalau kita tidak berpegang kepada kitabullah wa sunnah, kalau kita tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa itu?

Para sahabat yang mulia Radhiyallahu’anhum, mereka telah dijadikan oleh Allah Jalla wa ‘ala sebagai ummat yang paling mulia diantara generasi ummat ini, namun mereka di uji oleh Allah, ditimpakan kepada mereka fitnah karena satu dosa yang menimpa mereka, yaitu dosa dimana mereka berbangga diri sehingga mereka ditimpa oleh kekalahan, ditimpa oleh porak poranda, ditimpa oleh serangan musuh yang bisa membuat mereka surut kebelakang dalam jihad fi sabilillah. Allah Jalla wa ‘Ala telah mengabadikan kisah ini di dalam Al Qur’an. Semoga kita wahai kaum muslimin mengambil pelajaran daripadanya. Kita hendaknya hati-hati dari perbuatan dosa, satu dosa bisa membawa kita kepada fitnah dan kehancuran. Allah Jalla wa ‘Ala menyatakan di dalam Al Qur’an:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

Kata Allah: “dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi bangga karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang.”

Allah Jalla wa ‘Ala telah menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bagi ummat ini bahwa perbuatan dosa bisa menghancurkan mereka, perbuatan-perbuatan dosa akan menimbulkan fitnah, akan menimbulkan kehancuran dan kebinasaan kita. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengingatkan kita di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari Rahimahullah di dalam Al Adabul Mufrad bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada dua orang yang saling mencinta di jalan Allah kemudian Allah pisahkan antara keduanya, melainkan karena dosa yang diperbuat oleh salah satu dari keduanya.”

Ma’asyiral Muslimin…

Apapun fitnah yang terjadi di tengah-tengah kita maka hendaklah masing-masing kita instrospeksi diri, barangkali kita telah melakukan perbuatan dosa yang menimbulkan fitnah itu di tengah-tengah kita. Oleh karena itu meninggalkan dosa adalah perkara yang penting. Apabila kita baru didalam berpalingnya kita dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wa sallam, maka jangan sampai Allah Jalla wa ‘ala membuang kita mencampakkan kita, dan mengganti kita dengan orang-orang yang lebih baik daripada kita. Allah Jalla wa ‘ala tidak membutuhkan kita, Allah Maha Kaya dari segenap Alam, Allah akan menggantikan kita apabila kita tidak peduli terhadap agama-Nya. Allah menyatakan di dalam Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

Allah Menyatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa dari kalian yang berpaling dari agamanya maka niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka, mereka merendah hati diantara kaum mu’minin dan tegas kepada orang-orang yang kafir mereka berjihad di jalan Allah dan mereka tidak takut celaan orang yang mencela.”

Allah menyatakan:

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Muhammad: 38)

Ini yang mengkhawatirkan kita, Allah Jalla wa ‘ala membuang kita, mencampakkan kita menjadikan kita sebagai kaum yang binasa disebabkan dosa-dosa perbuatan kita, karena Agama Allah Jalla wa ‘ala ini tidak membutuhkan penjagaan kita sebab Allah Jalla wa ‘ala yang memeliharanya.

Ma’asyiral Muslimin…

Diantara perbuatan dosa yang akan selalu menimbulkan fitnah diantara kaum muslimin antara satu dengan yang lainnya adalah perbuatan kedhaliman, melanggar hak antara satu dengan yang lainnya, perbuatan ghibah, perbuatan adu domba perbuatan buruk sangka, perbuatan dusta atas yang lainnya dan tipu daya terhadap yang lainnya, Allah Jalla wa ‘ala mengingatkan kita di dalam Al Qur’an:

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنْ الْخُلَطَاء لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.”

Ma’asyiral Muslimin…

Jangan sampai kejahatan-kejahatan ini, kadhaliman-kedhaliman ini, membuat kita berputar-putar dalam lingkaran syaithan yang akan membinasakan dan menghancurkan kita. Tidak ada kemanfatan dan faedah yang kita dapatkan bila kita berbuat jahat antara sebagian dengan yang lainnya, saling menggibah antara sebagian dengan yang lainnya, saling adu domba antara sebagian dengan yang lainnya, saling berburuk sangka antara sebagian dengan yang lainnya. Oleh karena itu Allah Jalla wa ‘ala mengingatkan kita di dalam Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Allah mengingtakan dalam ayat ini “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Ma’asyiral muslimin…

Apa yang diingatkan oleh Allah Jalla wa ‘ala ini karena Allah Jalla wa ‘ala tau, karena Allah Jalla wa ‘ala mengerti apa yang akan membawa kemanfatan bagi kita semuanya, oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menjaga perihal ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita agar kita terhindar dari perbuatan dosa itu.

Ma’asyiral muslimin

Rasulullah shallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abi Barzah Radhiyallahu’anhu

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai segenap orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi keimanan tidak masuk ke dalam hatinya, jangan kalian menggibahi kaum muslimin, jangan kalian mencari-cari keaiban mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari kesalahan, mencari-cari keaiban saudaranya yang muslim, pasti Allah Jalla wa ‘ala akan mencari-cari keaiban dan kesalahannya. Dan barangsiapa yang dicari-cari oleh Allah kesalahan-kesalahannya, keaiban-keaibannya pasti ia akan dipermalukan oleh Allah walaupun ia berada di tengah-tengah rumahnya.”

Demikianlah ya Ma’syaral Muslimin…

Allah Jala wa’ala tidak akan membiarkan orang-orang yang merusak persaudaraan, orang-orang yang merusak persatuan dengan cara ghibah, dengan cara mencari kesalahan dan keaiban saudaranya. Sebab ini adalah perbuatan yang akan mendatangkan kerusakan, yang kerusakannya tidak hanya dirasakan oleh pribadi-pribadi tertentu, tetapi perbuatannya akan dirasakan oleh kaum muslimin, kerusakannya akan bertambah kepada sekian dari kaum muslimin. Sehingga Allah Jalla wa ‘ala tidak akan membiarkan orang yang seperti ini. Kita yakin bahwa Allah pasti akan membalasnya dengan yang setimpal.

Hati-hati terhadap kehormatan kaum muslimin, perbuatan ghibah itu dilarang oleh Allah Jalla wa ‘ala, bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengingatkan bahwasanya apabila seorang penguasa mencari-cari keaiban, keraguan, tuduhan-tuduhan di tengah-tengah manusia maka niscaya dia akan merusak manusia itu.

Ma’asyiral muslimin

Al Imam Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwasanya seorang penguasa apabila dia berupaya mencari-cari keaiban, mencari-cari tuduhan mencari-cari aurat ditengah-tengah masyarakatnya dengan buruk sangka, mengintai mereka. Kata beliau: Maka yang demikian itu justru akan membuat rakyatnya jatuh kepada buruk sangka yang dia lakukan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang seorang penguasa melakukan yang demikian itu. Hendaklah seorang penguasa yang baik menutup matanya memaafkan rakyatnya dan masyarakatnya dan tidak mencari-cari kesalahan dan keaibannya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya apabila itu tidak tampak olehnya.

Kemudian beliau rahimahullah menjelaskan bahwasanya apabila hal ini dilakukan maka niscaya sebuah negara, sebuah kekuasaan akan terjadi padanya kestabilitasan, akan terjadi padanya keamanan dan akan terjadi padanya kerukunan bermasyarakat dan bersosialisasi di antara mereka.

Kemudian Asy Syaikh Muhammad Al Imam menjelaskan dalam kitabnya: Apabila seorang penguasa dilarang mencari-cari keaiban pada rakyatnya, dilarang mencari-cari tuduhan,keraguan pada rakyatnya, maka bagaimana dengan orang-orang bodoh yang mencari-cari keaiban dari orang yang membawa ilmu. Demikianlah ini adalah kerusakan perbuatan nista yang akibatnya dirasakan oleh kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.

Wallahu a’lam bis shawwab

(Khutbah Kedua)

Masyiral muslimin…

Disamping kita dilarang untuk berbuat jahat,melakukan ghibah, melakukan adu domba, buruk sangka, dusta dan tipu daya kepada kaum muslimin, kita diperintahkan dalam rangka menghindar dari fitnah untuk memilih teman-teman dekat. Orang-orang yang bergaul dengan kita adalah orang-orang yang baik. Ini yang Allah Jalla wa ‘ala tuntunkan di dalam Al Qur’an. Allah menyatakan:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً

Kata Allah Jalla wa ‘ala: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap wajah-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Janganlah kita mengambil teman dari orang-orang yang dhalim, orang-orang yang suka berbuat kejahatan ditengah-tengah manusia, baik kejahatan yang berupa aniaya kepada manusia, melanggar hak mereka, atau kejahatan-kejahatan yang tidak menunaikan hak-hak mereka. Hendaklah kita mengambil teman-teman yang baik, kalau tidak maka kita akan menyesal dihadapan Allah Jalla wa ‘ala. Kita akan menyesal dihadapan Allah disaat penyesalan itu tidak lagi berguna. Karena disana nanti kita akan melihat kesesatan kita yang diakibatkan oleh saudara kita yang telah menyesatkan tadi. Allah Jalla wa ‘ala mengingatkan kita di dalam Al Qur’an:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. (Al Furqan: 27)

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).” (Al Furqan: 28)

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ

“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan Allah.”

وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

“Dan syaithan itu pihak yang membuat manusia dalam keadaan rendah dan hina.”

Ma’asyiral muslimin…

Inilah yang diingatkan oleh Allah didalam Al Qur’an, hendaknya kita berhati-hati dari teman-teman yang jelek, teman-teman yang buruk yang melalaikan kita dari Al Qur’an, dari Sunnah. Melalaikan kita dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Cukuplah pelajaran bagi kita semuanya dimana Abu Thalib disesatkan akibat temannya, Ketika Abu thalib diajak oleh Rasulullah untuk mengucapkan La ilaha illallah. Apa yang menghalangi nya untuk mengucapkannya? Apa yang merintanginya untuk masuk ke dalam Islam? Tidak lain karena teman jelek yang membisik-bisikkan kepadanya bisikan syaithan. “Apakah engkau benci terhadap agama Abdul muththallib?” Kalimat singkat ini mampu menghalanginya dari islam.

Subhanallah… hati-hati dari teman yang jelek, kita dikitari oleh orang yang akan memalingkan kita dari agama Allah. Syaithan yang harus kita waspadai bukan saja syaithan dari kalngan jin, tetapi juga syaitan dari kalangan manusia, yang mereka pandai menghiasi kalimat haq tapi sebenarnya yang diinginkan adalah bathil. Makanya Allah Jalla wa ‘ala mengingatkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di dalam Al Qur’an untuk berlindung dari syaitan jin dan manusia yang membisik-bisikkan kedada manusia perkara-perkara jelek. Allah mengajari Rasul-Nya:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3} مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ{4} الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ {5} مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ {6}

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.”

Yang membisikkan kejelekan kedalam hati kita bukan hanya syaitan dari kalangan jin, orang-orang yang berada di sekitar kita yang mereka itu adalah syaithan dari kalangan manusia juga membisik-bisikan kepada kita perkara-perkara jelek. Bahkan sering melakukan tipu daya kepada kita, memberi angan-angan kepada kita, menghiasi perkara al haq yang diinginkan adalah bathil. Allah menyatakan di dalam Al Qur’an:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً

Allah menyatakan “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”

Ma’asyiral muslimin…

Hati-hati terhadap semua teman-teman yang ada di sekitar kita. Terkadang, subhanallah… orang-orang yang kita lihat baik, orang-orang yang kita lihat shalih, orang –orang yang kita lihat akan mengajak kepada jalan Allah Jalla wa ‘ala, terkadang keluar dari lisannya perkataan-perkataan yang mejauhkan kita dari Allah, menjauhkan kita dari tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Jangan sampai Allah menggelincirkan kita dengan syaithan dari kalangan manusia. Dan jangan sampai pula kita tergelicir dengan kalimat bathil dari orang yang kita anggap baik, karena kalimat bathil itu datangnya dari syaitan jin.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah…

Perkara-perkara yang menghindarkan kita dari fitnah cukuplah banyak, maka apa yang telah disebutkan ini, apabila kita mampu menjaganya maka dengan izin dari Allah kita akan selamat dari berbagai fitnah. Fitnah Kekufuran, Fitnah Kesyirikan, Fitnah Kebid’ahan, fitnah kemaksiatan dan fitnah-fitnah yang lain yang membawa kita kepada kebinasaan dan kehancuran.

Wallahu a’lam bish showab, wabillahi taufiq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Pentranskrip:

Abu Bakrah Ahmad Al Makassariy

https://ashthy.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s