Renungan Agar Tidak Berpikir Picik (Jawaban Untuk Al Akh Ihsan Zainuddin bag II)

“Renungan Agar Tidak Berpikir Picik”
Jawaban untuk Al-Akh Ihsan Zainuddin (Bag II)
(Seorang Ustadz di Ormas Wahdah Islamiyyah)

Ihsan : “Disebabkan fenomena ini terus saja ‘menghantui’ jalan da’wah Ahlu sunnah, maka kami insya Allah akan membahas persoalan ini dalam tulisan ini.”

Jawaban dan sanggahan ucapan Ihsan:

  • Siapakah yang anda maksudkan dengan Ahlus Sunnah. Apakah orang-orang yang senang membangkang kepada pemerintah dan mempermalukan pemerintah dalam demo, ceramah, dan majelis mereka, ataukah para pengikut neo shufiyyah, semacam Tabligh. Wallahi, mereka itu bukan Ahlus Sunnah sekalipun mereka berkoar-koar !!

Ihsan:“Insya Allah akan ditampilkan secara berseri. Rujukannya sepenuhnya diambil dari karya Syekh Bakr Ibn Abdillah Abu Zaid –hafizhahullah- yang berjudul Tashnif An-Naas Baina az Zhann wal Yaqiin. Semoga bermanfaat!”

Jawaban ucapan Ihsan di atas:

  • Namun komentarnya Ihsan, apakah Syaikh setujui dan sesuai dengan realita, ataukah hanya sekedar pengakuan dan tuduhan? Kita akan buktikan, Insya Allah.
  • Alhamdulillah kitab yang ditulis oleh Syaikh Bakr ini ternyata telah disanggah oleh Syaikh Rabi’ Ibn Hadi Al-Madkhaly dalam Al-Hadd Al-Fashil, hal.140-143 dengan sanggahan yang cukup ilmiyyah dan memuaskan.Jazaahullahu khaeran.[1]

Ihsan: “Menyingkap kesesatan ahlul ahwa’ wal bid’ah, melakukan kritik terhadap pandangan dan pemikiran yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membongkar kejahatan para penyerunya, melakukan hajr (pengisoliran), dan tahdzir (pemberian peringatan) terhadap mereka yang diikuti dengan sikap bara’ (berlepas diri) dari segala kesesatan mereka, dalam pandangan Ahlu sunnah adalah merupakan sebuah sunnah yang terus berlaku dalam sepanjang sejarah kaum muslimin”.

Jawaban terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Kapankah anda menyingkap kesesatan ahlul ahwa’ wal bida’? Kapankah anda melakukan kritik terhadap pandangan dan pemikiran yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kapankah anda membongkar kejahatan para penyerunya, melakukan hajr (boikot), tahdzir (nasehat dan peringatan) terhadap mereka yang diikuti dengan sikap bara’ (berlepas diri) dari segala kesesatan mereka???Bukankah kalian setelah dialog dengan Hizbut Tahrir (HT) kemudian berikutnya berselang setelah beberapa waktu, kalian kembali duduk bersama dengan mereka dalam sebuah acara seminar? Mana bara’ kalian dari orang-orang HT yang telah menolak ratusan hadits-hadits ahad. Padahal para Salaf ketika ada yang menolak sebuah hadits saja, maka mereka marah sekali, dan bara’ terhadap orang tsb, bahkan tak mau serumah.[2] Manakah kecintaan kita kepada Salaf ?
  • Mudah-mudahan apa yang diucapkan oleh Ihsan ini disadari dan bukan sekedar pengakuan tanpa bukti nyata.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Ihsan: “1. Ilmu yang jelas bahwa “kesesatan” dan “kesalahan” yang disingkap itu benar-benar termasuk perkara yang sesat dan salah berdasarkan dalil-dalil yang shahih dan ijma’ para ulama’ ”.

Jawaban terhadap ucapan Ihsan:

  • Bukankah merupakan suatu kesesatan jika seorang berdemo, membela para hizbiyyin, dan mempertahankan manhaj muwazanah? Kapankah para ustadz Salafiyyin mengkritik kalian tanpa ilmu?
  • Memang menyingkap kesesatan dan kesalahan harus berdasarkan dalil yang shohih, bukan dalil-dalil yang dhoif. Namun apakah seorang yang mau mengingkari dan menyingkap suatu kesesatan harus berdasarkan ijma’ bahwa itu merupakan kesesatan dan kesalahan?Kalau begitu kalian tak usah mengingkari para pemain musik sebab ada ulama’ yang membolehkannya seperti Ibnu Hazm.Kalian tak usah ingkari orang-orang musbil sebab ada yang menyatakannya makruh seperti Imam An-Nawawy. Kalian tak usah mengingkari wanita-wanita yang tak bercadar sebab ada yang tak mewajibkannya.Dan banyak lagi masalah khilafiyyah.

Ihsan : “Mengapa? Karena jika persoalan ijtihadiyah dimana para ulama berbeda pendapat dengan pegangannya masing-masing, maka kita terikat dengan begitu banyak kaidah seputar ijtihad. Seperti kaidah La yunqodhul ijtihadu bil ijtihad (bahwa ijtihad seorang alim tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad alim lainnya).”

  • Sekali lagi kami katakan, kalau begitu tak usah mengingkari orang yang meminum khamr yang tidak terbuat dari korma sebab sebagian ulama dari kalangan Hanafiyah membolehkannya. Kalau begitu tak usah ingkari orang yang menurunkan tangannya ketika ia berdiri dalam sholat sebab orang-orang Malikiyah menyunnahkan hal itu. Kalau begitu tak usah mengingkari pemerintah Saudi memasukkan pasukan Amerika ke Jazirah Arab (Jeddah) ketika perang Teluk sebab para ulama kita di Saudi membolehkannya sekalipun Yusuf Al-Qordhowy berang dan menyelisihi pendapat mereka. Kalau begitu andapun tidak boleh mengingkari orang yang melarang Muwazanah jika menurut Anda disana ada ulama yang membolehkannya dan melarangnya.
  • Kami ingin bertanya kepada anda, apakah perbedaan di antara kita dalam masalah aqodiyah ataukah masalah ijtihadiyah? Jika aqodiyah, maka tak ada salahnya ada yang mengingkari. Jika masalah ijtihadiyah, maka juga tak ada salahnya ada yang mengingkari kalian sebagaimana para ulama kita dulu menulis kitab-kitab fiqh dalam membela pendapatnya yang benar dan membantah pendapat ulama lainnya yang salah. Namun tak ada yang menyatakan wahai ulama kalian jangan mengingkari ulama lain yang tidak sependapat dengan kalian dalam masalah ijtihadiyah. Bahkan para ulama kita terus dalam hal ini. Yang satu mengingkari yang lainnya-dalam masalah qunut shubuh misalnya- tanpa ada yang menyatakan: Eh, kalian jangan mengingkari ulama lainnya!!
  • Wahdah sendiri mengingkari salafiyyin. Kenapa kok kalian ingkari mereka jika mereka memiliki sikap yang berbeda dengan kalian. Apakah kalian berbeda dengan mereka dalam hal aqodiyah ataukah ijtihadiyah? Jika aqodiyah, apa buktinya. Jika ijtihadiyah, katanya tidak boleh diingkari.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

  • Jadi kaedah ini, ana khawatirkan diplintir menjadi kaedah Ikhwaniyah: “Kita bersepakat dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaafkan dalam perkara yang kita perselisihkan”. Mudah-mudahan anda bisa pikirkan.

Ihsan : “Sudah barang tentu kita tidak mengatakan semuanya benar, tetapi bukankah jika seorang mujtahid melakukan ijtihad, lalu ijtihadnya salah ia tetap akan mendapatkan satu pahala, seperti pernah dikatakan oleh Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam-??”

  • Benar, tapi apa maksud anda dengan mengucapkan seperti ini. Apakah kalian menginginkan kami mendiamkan suatu perbuatan yang kami anggap keliru berdasarkan dalil-dalil yang shohih dan kuat??Tak ada salahnya kita mengingkari suatu perbuatan yang kita anggap keliru-sekalipun dalam lingkup masalah ijtihadiyah.Kalau memang seseorang tidak boleh mengingkari kekeliruan pendapat orang lain yang berkaitan dengan masalah ijtihadiyah, maka tak usah ingkari orang musbil dan biarkan murid kalian berisbal atau tidak berisbal.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

  • Kami khawatir Ihsan menginginkan agar kita membiarkan dia bebas menda’wahkan muwazanah, bolehnya demo, dan masuk dalam parlemen dengan alasan berdakwah. Ini dikuatkan dengan ucapannya yang berikut:

Ihsan : “Masalah keikutsertaan memilih dalam pemilu atau masuk dalam parlemen-misalnya-, suatu ketika saya pernah mendengarkan seorang ustadz yang dikenal banyak menda’wahkan As-Sunnah dengan mantapnya mengatakan: “ Para ulama’ Ahlussunnah diabad ini telah berijma’ bahwa mengikuti pemilu dan masuk parlemen adalah perkara yang haram!” …”

  • Kalau menurut kami sebaiknya saudara Ihsan tanya dulu kepada da’i As-Sunnah tsb, siapa tahu ia punya pendahulu dari kalangan ulama yang menegaskan adanya ijma’ dalam hal itu sebab kami sendiri belum pernah mendengarkan ada seorang ulama’ yang membolehkan masuk dalam parlemen karena merupakan salah satu sebab perpecahan. Kalau mau dikatakan boleh karena darurat[3] seperti halnya makan babi, namun hukum asalnya adalah haram.
  • Masuk parlemen berdakwah dan memilih dalam kancah perpolitikan ala demokrasi, apakah termasuk dalam masalah ijtihadiyah yang dibolehkan adanya khilaf di dalamnya ataukah ia masuk dalam perkara bid’ah atau perkara kekufuran?? Kami inginkan jawaban dari seorang yang mengaku dirinya sebagai Pengamat dan Pendukung Dakwah Salafiyyah agar hal ini menjadi bahan “Renungan untuk Tidak Berfikir Picik”.[4]
  • Sekarang jika anda menyatakan mungkin disana ada ulama yang berselisih dalam hal ini, maka anda seharusnya menyebutkan siapa mereka.

Ihsan: “Baiklah, saya dan anda bisa saja sepakat bahwa masuk parlemen mungkin seharusnya tidak ditempuh oleh para da’i, tapi bahwa para ulama Ahlussunnah telah berijma’ akan hal itu, darimana Anda mendapatkannya??”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Sebelum mengingkari harus ada ilmu yang jelas-seperti yang anda katakan sendiri-tentang sesuatu yang anda ingkari.
  • Anda katakan: ”…Saya dan anda bisa saja sepakat bahwa masuk parlemen mungkin seharusnya tidak ditempuh oleh para da’i…” Siapa saya dan anda sehingga perkara seperti ini dipulangkan kepada kita. Bukankah perkara seperti ini adalah perkara nawazil yang seharusnya dikembalikan kepada ahlul ilmi.
  • Ucapan anda ini basa-basi. Terus terang katakan saja apakah masuk parlemen dan memilih itu boleh? Apa dasar anda dan ulama’ siapa yang membolehkannya. Kami khawatir kalau A’idh dan semisalnya saja yang bolehkan.
  • Kalau ada, apakah pendapat mereka rojih (kuat) atau malah lemah.

Ihsan : “Kasus muwazanah (menimbang antara kebaikan dan keburukan) juga sama halnya. Bagi sebagian orang kata ini berubah dan menjelma menjadi sebuah kata yang ‘menakutkan’. Salahkah ia?”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Muwazanah dan masuk parlemen memang sama-sama termasuk wasilah da’wah yang bid’ah dan memecah belah kaum muslimin.

Syaikh Al-Albany –rahimahullah- berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan bid’ah muwazanah, mereka itu-tanpa diragukan lagi- telah menyelisihi Al-Kitab, dan As-Sunnah, Sunnah ucapan maupun amaliyah, dan telah menyelisihi manhaj As-Salaf Ash-Sholeh…Apabila orang yang terzhalimi berkata: “Fulan telah menzhalimiku”, Lantas aapakah dikatakan kepadanya: Ya akhi sebutkan juga kebaikannya. Demi Allah ini merupakan kesesatan yang baru, termasuk hal yang paling aneh yang dimunculkan di medan dakwah pada zaman ini .[5]

  • Betul kata “muwazanah” merupakan kata yang menakutkan sebab merupakan tameng bagi para hizbiyyin dalam membela dan melindungi idola mereka dari kalangan ahlul ahwa’.
  • Salahkah ia? Jawabnya: jelas salah! Sebagaimana kata Syaikh Al-Albany –hafizhohullah-[6]

Ihsan: “Jangan sampai kita seperti sebagian ulama –semoga Allah merahmati mereka, amin- yang mati-matian menolak penggunaan qiyas dalam berdalil, namun dalam prakteknya mereka juga menggunakan qiyas.”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Saya balik: Jangan sampai kita seperti sebagian orang yang mati-matian mempertahankan muwazanah, namun dalam prakteknya mereka juga tidak menggunakan muwazanah kepada sebagian orang atau kelompok lain,apalagi yang mengingatkan kesalahan dan penyimpangan mereka (baca:WI) atau yang tak sepaham dengan mereka.
  • Jangan sampai kita ini melarang ”ghibah”, namun pada prakteknya kita juga berghibah[7], seperti mengghibah sebagian orang yang tidak sepaham dengan kita atau mengghibah pemerintah.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

  • Jangan sampai kita mirip orang yang melarang orang lain menuding dan menuduh, tanpa ilmu. Namun paada prakteknya kita yang menuduh orang tanpa ilmu.Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Ihsan:“Bahkan ketika membantah keabsahan qiyas, mereka justru menggunakan qiyas.”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Saya balik: Bahkan ketika kalian memperjuangkan muwazanah mati-matian, malah justru kalian membuang muwazanah ketika menghadapi orang yang tidak sepaham dengan kalian.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

“Maaf, saya tidak mewajibkan anda bermuwazanah di setiap waktu. Tapi pahamilah pertanyaan ini: apakah muwazanah itu salah dan batil secara mutlak? Jangan lagi ada yang mengatakan bahwa para ulama’ Ahlussunnah telah berijma’ bahwa muwazanah itu adalah bid’ah…”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Bertanya itu mudah. Sekarang kami balik bertanya: Maaf, jika anda tidak mewajibkan bermuwazanah di setiap waktu, tolong jelaskan kapan saja muwazanah dibolehkan, dan apa hukumnya ketika itu.
  • Muwazanah dalam mengingatkan bahayanya ahli bid’ah dan orang yang keliru, batil secara mutlak.[8]. Adapun dalam menerangkan biografinya seseorang yang menyimpang boleh-tapi itupun tidak lazim- menyebutkan kebaikan dan kejelakannya sebagaimana hal ini disebutkan Syaikh Albany –rahimahullah-. Boleh hanya menyebutkan kejelekannya saja berdasarkan amaliyah para ahlul ilmi.
  • Kalau menyatakan adanya ijma’, wallahu a’lam. Namun apakah berarti kita tidak boleh menyatakan itu bid’ah kecuali setelah adanya ijma’.[9]. Saya kira tak ada yang menyatakan hal ini diantara kita. Apalagi Syaikh Al-albany bilang muwazanah itu bid’ah !!

Ihsan: “Jika kita sudah memastikan bahwa “kesalahan” itu benar-benar adalah sebuah “kesalahan” dan “kesesatan”, maka yang tak kalah pentingnya selanjutnya adalah kita harus mempunyai ilmu yang jelas bahwa perkara itu benar-benar terbukti keberadaannya pada orang yang menjadi “sasaran tuduhan” itu. Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Bukankah telah nyata bahwa WI berdemo, membela muwazanah, dan du’at hizbiyyah, semacam A’idh Al-Qorny, Salman dan Safar, serta duduk bersama Hizbut-Tahrir dalam sebuah acara seminar di kampus Unhas??

Ihsan : “Landasan yang kedua adalah niat yang benar. Dalam menjalankan kewajiban ini, sudah pasti niat sangat menentukan . Apa yang menjadi motivasi Anda dalam menyingkap kesalahan tersebut ? Karena memang ingin membela agama Allah dan sunnah Nabi ? [10] atau hanya karena dengki melihat penyeru As-Sunnah lainnya mempunyai murid lebih banyak, sarana duniawi yang lebih lengkap dan pendapatan yang lebih dibanding Anda? Ah, hanya Allahlah kemudian Anda sajalah yang mengetahui niat itu…Tapi Anda tahu ‘ kan bahwa Anda akan dihisab di akhirat ”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Dalam ucapan ini ada “tashnif ” bagi niat para du’at. Apa hukum tashnif seperti ini??Tolong anda jawab.
  • Jika yang diajak bicara disini Salafiyyin[11]. Maka kami tegaskan: bahwa kami dalam menyingkap penyimpangan ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang, Insya Allah karena ingin membela agama Allah dan sunnah Nabi-Nya –shollallahu alai wasallam-, hakadza nahsibuhu walaa nuzakki alallahi ahada.
  • Kalau dengki hanya karena melihat lebih banyaknya murid Wahdah, maka sebenarnya kalau mau dengki, kami tak perlu dengki kepada Wahdah, sebab masih banyak jama’ah dakwah yang memiliki murid lebih banyak dibandingkan Wahdah.
  • Jika dikatakan iri pada WI karena sarana duniawinya lebih lengkap dan pendapatannya lebih dibandingkan kami salafiyyin, maka juga tak perlu iri kepada WI, tapi mestinya iri melihat orang yang lebih mapan dibandingkan WI, seperti Muhammadiyah, dan NU. Tapi bukanlah demikian masalahnya. Siapa sih konglomeratnya WI sehingga harus berbangga-bangga dan sombong di depan para hamba Allah Yang Maha Kaya sehingga hamba Allah iri kepada Allah.
  • Mudah-mudahan ini bukan tuduhan.Karena Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Allah Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

Ihsan: “Maka jelaslah bahwa menyingkap dan meluruskan kesesatan dan kesalahan ahlul ahwa’ wal bida’ adalah sebuah kewajiban syar’i yang terus berlaku hingga akhir zaman. Akan tetapi, jangan sampai anda tertipu dengan sebagian orang yang menjadikan hal ini sebagai landasan terhadap upaya mereka untuk menjatuhkan para ulama dan du’at. Setiap hari mereka disibukkan mencari-cari kesalahan para du’at dengan alasan membela As-Sunnah”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Menyingkap dan meluruskan kesesatan dan kesalahan ahlul ahwa’ wal bida’ adalah sebuah kewajiban syar’i yang terus berlaku hingga akhir zaman. Namun Kapankah menurut WI kewajiban syar’i ini diterapkan sehubungan adanya kaedah muwazanah yang mereka perjuangkan?
  • Siapa ulama dan du’at yang berupaya kami jatuhkan?? Apakah semisal Salman, A’idh, dan Safar?? Siapa yang mengatakan mereka itu ulama??Kalau ulama’, apa kita harus terima yang mereka katakan sekalipun menyalahi nas dan aqidah salaf.
  • Upaya apa yang kami lakukan untuk menjatuhkan para ulama?? Jangan sampai ini merupakan sekedar tuduhan tanpa bukti. Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.

Allah Ta’ala

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Allah Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

    • Ketika Yayasan hizbiyyah Haramain ada di Makassar, Yayasan ini sempat membagikan kitab yang ditulis oleh Muhammad Salim Ad-Dausary dengan judul:[“Rof’ul La’imah” ]. Kitab ini berisikan tuduhan keji (baca: murji’ah) kepada seorang murid Syaikh Al-Albany, Syaikh Ali Ibn Hasan Al-Halaby Al-Atsary. Padahal beliau adalah seorang ulama’ dan du’at Ahlus Sunnah. Lalu kenapa tuduhan keji ini kepada Syaikh Ali Al-Atsary tidak dianggap ghibah,dan menjatuhkan para ulama dan du’at??dan tidak dianggap mencari-cari kesalahan para du’at??.Tuduhan keji tsb yang ditorehkan oleh Muhammad Salim Ad-Dausary dalam Rof’ul La’imah, telah dibantah oleh Syaikh Ali Ibn Hasan Al-Atsary dalam At-Tanbihat Al-Mutawa’imah. Tentang nasib naas terakhir Ad-Dausary ini, coba baca Kalimah Tadzkir karya Syaikh Ali Hasan.

Ihsan : “Syekh Bakr Abu Zaid –hafizhahullah- mengatakan: “Di zaman ini, fitnah (tashnif) ini menjalankan perannya dalam jubah orang-orang yang menisbatkan dirinya pada sunnah, seraya mengenakan selendang yang mereka nisbatkan kepada salafiyyah-namun sebenarnya mereka telah menzhalimi (salafiyyah itu sendiri). Maka merekapun meletakkan diri mereka untuk melontarkan (tuduhan) kepada para du’at dengan tuduhan yang keji, yang dibangun di atas hujjah yang lemah. Merekapun sibuk dengan tashnif yang sesat ” [12]…”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Di zaman ini Wahdah menjalankan fitnah tashnifnya dengan membagi-bagi, membeda-bedakan manusia dengan memberi label kepada mereka: “Ini Salafiyyin”, “Ini Ikhwan”, “Ini HT”, “Ini JT”, dan lainnya. Bukankah ini tashnif??
  • Jadi mungkin ucapan Syaikh Bakr-Hafizhohullah- bagus kita ubah seperti ini: “Fithnah tashnif yang dimotori oleh Wahdah ini menjalankan perannya dalam jubah orang-orang yang menisbahkan dirinya pada sunnah[13], seraya mengenakan selendang yang mereka nisbahkan kepada salafiyyah[14] -namun sebenarnya mereka telah menzhalimi (salafiyyah itu sendiri). Maka merekapun meletakkan diri mereka untuk melontarkan tuduhan kepada para du’at salafiyyin dengan tuduhan yang keji, yang dibangun di atas hujjah yang lemah. Merekapun sibuk dengan tashnif yang sesat.”

Ihsan: “Jika mereka tidak menemukan satu kesalahan atau ketergelinciran, maka mereka berusaha mencari-cari kesalahan apapun atau bahkan membuat-buatkan kesalahan lain yang sepenuhnya hanya dibangun di atas syubuhat yang meragukan atau kata-kata yang mempunyai banyak kemungkinan”.

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Jika sekedar mengucapkan kata-kata, tanpa dipikirkan akibatnya, maka kami bisa berkata kepada anda : “Jika kalian tidak menemukan satu kesalahan atau ketergelinciran du’at Salafiyyin, maka kalian berusaha mencari-cari kesalahan salafiyyin atau bahkan membuat-buatkan kesalahan lain yang sepenuhnya hanya dibangun di atas syubuhat yang meragukan atau kata-kata yang mempunyai banyak kemungkinan”.[15]

Ihsan: “Namun bila usaha inipun gagal, dengan putus asa mereka mengatakan: “Kami tak dapat menemukan kesalahannya karena ia menyembunyikan bid’ahnya”! ”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Untuk menyatakan kekeliruan kalian tak perlu kita katakan ucapan seperti ini. Bukankah kalian demo, membela muwazanah, A’idh Al-Qorny, dan Salman??Inikan jelas, tidak tersembunyi.

Ihsan: “Penyakit ini pada akhirnya melahirkan penyakit lain. Yaitu munculnya pertanyaan-pertanyaan keji yang disertai senyum sinis tentang fulan dan fulan, bahkan tentang niatnya-yang hanya diketahui olehAllah kemudian si empunya niat-.”

Jawaban dan sanggahan terhadap ucapan Ihsan di atas:

  • Bukankah tadi anda berkata : “Apa yang menjadi motivasi Anda dalam menyingkap kesalahan tersebut ? Karena memang ingin membela agama Allah dan sunnah Nabi ? [16] atau hanya karena dengki melihat penyeru As-Sunnah lainnya mempunyai murid lebih banyak, sarana duniawi yang lebih lengkap dan pendapatan yang lebih dibanding Anda? Ah, hanya Allahlah kemudian Anda sajalah yang mengetahui niat itu…Tapi Anda tahu ‘ kan bahwa Anda akan dihisab di akhirat ”.

Ucapan anda yang bergaris bawah ini bukanlah pertanyaan, akan tetapi pada hakekatnya merupakan pernyataan. Jika orang yang anda maksudkan dalam ucapan ini adalah orang yang keliru –menurut versi anda- dalam menyingkap kesalahan, maka jelas ia menyingkap kesalahan bukan karena ingin membela agama Allah dan sunnah Nabi-Nya –shollallahu alaih wasallam-. Akan tetapi orang itu hanya dengki dan iri kepada “penyeru As-Sunnah” lainnya.[17]

Ini buktinya kalau ucapan anda yang bergaris bawah merupakan pernyataan, bukan pertanyaan. Jika ia merupakan pernyataan, maka ia adalah tuduhan yang diawali dengan mentashnif niat dan mengorek-ngorek hati. Anda pun memasuki “wilayah” niatnya. Dengan kejinya anda membedah isi hati para du’at salafiyyin. Hanya dengan landasan zhan belaka. Entah dari mana nada memperoleh ilmu “penyingkapan niat” seseorang.

  • Bukankah dalam ucapan anda yang bergaris bawah juga ada pertanyaan-pertanyaan (bahkan pernyataan) keji. Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Allah Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja . Padahal di sisi Allah adalah (perkara yang sangat) besar.” QS.An-Nur:15

  • Saya katakan lagi:Darimana kalian mengetahui bahwa penyeru As-Sunnah lainnya dengki kepada penyeru As-Sunnah lainnya hanya karena persoalan dunia. Kalianpun memasuki “wilayah” niat orang. Dengan kejinya, kalian membedah isi hati du’at salafiyyin. Hanya dengan landasan zhan belaka. Entah darimana kalian memperoleh ilmu “penyingkapan hati” seseorang.

Ihsan : “Bila mereka melihat seorang syekh atau ustadz yang duduk menyampaikan kajian nya, lalu mereka tidak menemukan cacat apapun padanya, merekapun memasuki “wilayah” niatnya. Dengan kejinya, mereka membedah isi hati para ulama dan du’at. Hanya dengan landasan zhan (persangkaan) belaka. Entah darimana mereka memperoleh ilmu “penyingkapan hati” seseorang…”

Jawaban dan sanggahan ucapan Ihsan di atas:

  • Adapun jawaban kami -dan kami belum tahu jawaban kalian yang jika ternyata jawaban kalian tidak jauh dari jawaban kami, maka tidak layak anda mengajukan pernyataan dan tuduhan seperti itu- : Jika seseorang dinilai berdasarkan qorinah, itu bukanlah membedah isi hati seseorang.Misalnya ada seorang yang biasa belajar dan bergaul dengan Jama’ah Tabligh, maka kita sebagai orang yang paham akan menyatakan bahwa orang ini pasti memiliki paham sufiyyah karena pergaulannya sehari-hari –sebagai qorinah- yang menunjukkan orang itu demikian. Ini sekedar contoh, bukan pembatasan. Ini bukan membedah hati namanya, dan bukan “ilmu penyingkapan hati”.[18]
  • Seorang yang biasa bergaul dengan hizbiyyin dan takfiriyyin-semacam Usamah Ibn Ladin-, Salman, A’idh atau Safar, maka tak ada salahnya kita katakan: Hati-hati dengan orang itu.”Seorang itu di atas agama saudaranya”.
  • Adapun tidak ditemukannya bukti, namun ada qorinah yang kuat, maka seseorang menjauhi suatu jama’ah atau orang lain, itu tak ada salahnya demi menyelamatkan agamanya[19]. Apalagi ada seorang Salaf, Muhammad Ibn Ubaidillah Al-Gholaby –rahimahullah- berkata:

“ Para ahlul ahwa’, itu saling menyembunyikan segala sesuatu, kecuali persatuan dan persahabaatan mereka”.[20]

Apakah nanti setelah kita mendengar syubhat dari seseorang yang terkadang itu dianggap dalil, bahkan kita sudah jadi korban fikrah dan pemahaman mereka yang keliru, baru kita mau meninggalkan orang itu dengan alasan saya tak menjauhi orang itu karena saya belum melihat penyimpangannya , sekalipun sudah ada qorinah!! Bagaimana anda akan melihat dan mengetahui penyimpangannya jika anda sudah terkena syubhat, yang terkadang syubhat itu dianggap dalil dan al-haq. Na’udzu billah minal khudzlan fidiin wad dunya, amin.

Footnote :

[1]Hati-hati, jangan sampai anda katakan lagi bahwa Syaikh Robi’ kan bukan Kibar Ulama’. Jawabnya, A’idh Al-Qorny kan bukan ulama, apalagi Kibar Ulama, tapi kenapa bukunya “Laa Tahzan” amat dipuji dan sampai dijadikan sosok ulama padahal masih banyak kitab-kitab ulama terpercaya yang jauh lebih bagus darinya perlu dikaji dan umur tak cukup untuk mengkajinya,apalagi mau mengkaji kitab semacam Laa Tahzan, belum jelas penulisnya. Dari sisi lain, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad –hafizhohullah- (penulis kitab Rifqon Ahlassunnah bi Ahlis Sunnah)kan juga bukan Kibar Ulama, tapi ia juga ulama yang dipertimbangkan pendapatnya sebagaimana Syaikh Robi’. Apakah istilah Ulama Kibar (besar) dan Ulama Shighor (kecil) kalian gunakan hanya untuk menolak suatu kebenaran?? Wallahi, hadza lasyai’un ujaab!! .

[2]Lihat Ta’zhim As-Sunnah, hal.23-30 karya Syaikh Abdul Qoyyum As-Suhaibany

[3]Namun darurat disini masih perlu ditinjau lagi sebatas mana. Kapan disebut darurat.

[4]Dalam tanda petik merupakan judul tulisan Ihsan dalam Jurnal Islami, Al-Bashirah., edisi IV, Jumadil Tsani-Rajab 1424 H. Namun sayangnya tulisan ini tak jauh beda nasibnya dengan tulisannya yang sedang kami bantah ini. Tulisannya dalam Al-Bashirah tsb kami juga sertakan sebagian bantahannya, bukan keseluruhannya karena sempitnya waktu dan pendeknya umur. Wabil isyaroh yafhamullabiib.

[5]Lihat Buletin Silsilah Ad-Difa’(1):Aqwal Ulama’ As-Sunnah fi Manhaj Al-Muwazanat, hal.3-4, cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.

[6]Jika anda ingin lebih jelas maka silakan baca bulletin di atas Silsilah Ad-Difa’(1). Disitu disebutkan ucapan Syaikh Ibn Baz, Albany, Al-Utsaimin, Al-Fauzan, Al-Luhaidan, dan Al-Abbad –rahimallahul jami’- tentang larangan bermuwazanah. Hukumnya jelas kecuali bagi orang yang dibutakan mata hatinya oleh Allah.

[7]Ini saya katakan sebab ada diantara WI yang melarang kita mengingatkan bahayanya sebagian du’at hizbiyyah dengan alasan katanya itu ghibah-sebenarnya itu bukan ghibah-. Namun ketika tiba giliran mereka mengkritik (baca: menggibah) orang lain dan mendemo pemerintah, itu dianggap bukan ghibah.

[8]Inilah yang diingkari salafiyyin atas hizbiyyin ketika mereka (para hizbiyyin) melakukan dan mengangkat muwazanah ketika melihat para ahlul ahwa’ dari kalangan da’i-da’i mereka dikritik sebagai sarana untuk membungkam salafiyyin.

[9]Seperti maulid itu dikatakan bid’ah, sekalipun ulama tidak ijma’. Boleh kita ingkari orang yang bermaulid dengan menerangkan kebatilannya, seperti Alwi Al-Maliky, ia telah dibantah oleh ulama dalam buku tersendiri.

[10]Disini penulis, Ihsan lupa adab mengucapkan shalawat.

[11]Dan memang Salafiyyin yang diajak bicara dan dituduh disini. Buktinya, ada beberapa ikhwah yang menyampaikan kepada kami bahwa mereka mendengarkan sebagian ustadz WI dan para anak kajiannya menuduh kami salafiyyin. Katanya: Salafiyyun itu iri dengan dakwah kita karena dakwah kita sudah tersebar dan banyak jumlahnya. Padahal kalau banyak-banyakan, orang kafir lebih banyak dibandingkan kita. Tapi apa mereka di atas al-haq?? Coba pikirkan wahai sang pengamat.

[12]Tashnif An-Naas,hal.28-29

[13]Wahdah kan ngaku juga sebagai pejuang As-Sunnah dan du’atnya.

[14]Bukankah WI juga sekarang sudah ngaku berdakwah di atas aqidah dan manhaj salaf?!

[15]Hal ini kami alami sendiri ketika Al-Ustadz Haji Zaitun Rasmin Lc menyampaikan materi daurah katanya: “Kita jangan seperti sebuah kelompok yang ada di Baji Rupa mereka ini kerjanya Cuma mencari-mencari kesalahan orang, kesalahan saudara-saudara kita yang ada di Jama’ah Tabligh. Padahal Jama’ah Tabligh merupakan saudara-saudara kita yang sama-sama berjuang di jalan Allah. Jadi tak usah sibukkan diri kita dengan mereka”.Justru malah ustadz ini cari-cari kesalahan. Sebab ia berusaha menyalahkan salafiyyin hanya karena salafiyyin selalu ingatkan bahayanya JT. Ini dianggap kesalahan, padahal bukan. Bukankah ini merupakan usaha mencari-cari kesalahan??? Ingat Jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak-pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tak satupun tuduhan itu terbukti

[16]Disini penulis lupa adab mengucapkan shalawat.

[17]Kami berharap mudah-mudahan tuduhan dan pernyataan iri ini bukanlah ditujukan kepada salafiyyin. Tapi besar kemungkinannya salafiyyin yang dituduh iri dan dengki. Kenapa? Sebab ada beberapa orang ustadz WI berkata ketika mendengar WI dikritik: “Salafiyyin itu sakit hati”, yang lain bilang: “Mereka iri”

[18]Contoh lain: Jika ada seorang anak muda memakai kaos oblong bertuliskan “Nirvana” dengan semiran kepala yang merah. Bukankah anda akan katakan anak ini berandal berdasarkan qorinah? Apakah mau dikatakan ini “ilmu penyingkapan hati”?

[19]Apalagi kalau sudah ada bukti, seperti demo, membela du’at hizbiyyin, dan lainnya.

[20]Lihat Al-Ibanah (510)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s