Adakah Bid’ah Hasanah? (2) – Hadits: Man Sanna Fil Islami Sunnatan

SYUBHAT PERTAMA

Pemahaman yang salah terhadap hadits:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ .ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang jelek maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang yang mengikuti mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

 

Hadits ini tidak bisa digunakan sebagai dalil adanya bid’ah hasanah dalam Islam dikarenakan beberapa alasan:

PERTAMA

Bahwasanya makna مَنْ سَنَّ ialah: Mengerjakan suatu amalan dengan cara melaksanakan atau mengikuti yang sudah ada sebelumnya, bukan mengerjakan suatu amalan dengan cara membuat syariat yang baru. Adapun maksud hadits diatas adalah melakukan amalan sesuai dengan yang ditetapkan oleh Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-, yang menunjukkan hal tersebut adalah penyebab disabdakannya hadits ini, yaitu tentang masalah shadaqah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم-.[1]

 

KEDUA

Bahwasanya Rasulullah bersabda مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik…” sementara itu beliau juga bersabda كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Semua bid’ah adalah sesat”, tidaklah mungkin muncul dari lisan Rasulullah –yang benar dan dibenarkan-, suatu perkataan yang mendustakan perkataan yang lain, tidak mungkin perkataan Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- bertentangan selama-lamanya.

 

KETIGA

Bahwasanya Nabi –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda مَنْ سَنَّ  “barangsiapa mengerjakan sunnah”, beliau tidak mengatakan مَنِ ابْتَدَعَ  “barangsiapa yang berbuat bid’ah”. Juga bersabda  فِي اْلإِسْلاَمِ  “dalam Islam”, sedangkan bid’ah bukan dari ajaran Islam. Beliau juga bersabda  حَسَنَةً  “yang baik”, dan perbuatan bid’ah itu bukanlah sesuatu yang hasanah (baik). Maka jelaslah perbedaan antara Sunnah dengan Bid’ah, karena sunnah adalah jalan dalam rangka ittiba’ (mengikuti), sedangkan bid’ah adalah mengada-adakan hal yang baru di dalam masalah agama.

 

KEEMPAT

Tidaklah pernah ada seorangpun dari ulama salaf yang memaknakan سُنَّةً حَسَنَةً “sunnah yang baik” dengan bid’ah yang diada-adakan oleh manusia yang datangnya dari diri manusia sendiri.

 

KELIMA

Bahwasanya makna مَنْ سَنَّ “Barangsiapa mengerjakan sunnah” adalah orang yang menghidupkan kembali suatu sunnah setelah sunnah tersebut telah lama ditinggalkan. Suatu hadits yang menunjukkan hal ini adalah:

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا.

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku kemudian mengamalkannya, maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkan sunnah tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu kebid’ahan kemudian dikerjakan (bid’ah itu) maka dia mendapatkan dosa orang yang mengamalkan bid’ah tersebut tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang yang mengamalkan bid’ah itu. (HR. Ibnu Majah no. 204)

 

KEENAM

Bahwasanya perkataan مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً “Barangsiapa mengerjakan sunnah yang baik” dan ومَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً “Barangsiapa mengerjakan sunnah yang buruk”, pada dasarnya tidaklah mungkin mengandung pengertian “mengerjakannya dengan seenaknya”, karena adanya baik dan buruk hanya bisa diketahui melalui syariat. Maka ketentuan sunnah dalam hadits tersebut adalah, sunnah yang baik menurut syariat, dan sunnah yang jelek menurut syariat pula. Sehingga, seseorang tidak bershadaqah melainkan dengan mencontoh shadaqah yang telah diterangkan, demikian pula dengan sunnah-sunnah lain yang disyariatkan.

Maka sunnah yang jelek merupakan suatu bentuk kemaksiatan yang memang telah ditetapkan oleh syariat bahwa hal tersebut adalah maksiat. Seperti, pembunuhan oleh anak Nabi Adam –عليه السّلام- sebagaimana sabda Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- :

لِأَنَّهُ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Karena dia (Qabil) adalah yang pertama kali mengadakan pembunuhan.” (HR. Bukhari no. 3335)

Hal ini termasuk bid’ah, karena sudah ditetapkan dalam syari’at tercelanya dan larangan (melakukan) pembunuhan. (Al I’tisham 1/236)


[1]        Yakni hadits dari Jabir bin ‘Abdillah is berkata “Rasulullah berkhutbah pada kami, maka beliau member motivasi (semangat) pada manusia untuk bershadaqah, akan tetapi para sahabat berlambat-lambat (tidak bersegera) sehingga nampak pada wajah Rasulullah kemarahan. Kemudian datang seorang dari kaum anshar dengan membawa kantung berisi uang (untuk bershadaqah), maka sahabat yang lain pada waktu itu mengikutinya, sehingga kelihatan wajah Rasulullah –صلّى الله عليه و سلّم- senang dan beliau bersabda مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً ‘Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam Sunnah yang baik…’. Ini lafadz Ad Darimi (1/141) dan riwayat Muslim disebutkan hadits yang panjang.

About these ads

One comment on “Adakah Bid’ah Hasanah? (2) – Hadits: Man Sanna Fil Islami Sunnatan

  1. Ping-balik: Desain Stiker Buatan Sendiri 1 « Tutorial Desain Inkscape

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s