Dimana Allah? (Bag. 1) Penjelasan Umum Tentang Keberadaan Allah di Atas Langit

Pertanyaan:

Sebagian kaum muslimin berkeyakinan bahwasanya Allah –Subhanahu wa Ta’ala– ada dimana-mana bahkan ada yang meyakini bisa menyatu dengan mahluk. Kendati demikian ada juga yang tidak mengetahui dimana Allah. Mohon jelaskan keyakinan yang benar menurut Islam.

DIMANA ALLAH?

Al Ustadz Luqman Jamal

Jawab:

Allah –Jalla fi ‘Ulahu– yang menciptakan kita mewajibkan kepada kita untuk mengenal dan mengetahui dimana Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berada, sehingga hati-hati kita menghadap (mengarah) kepada-Nya, demikian pula ketika berdoa dan beribadah khususnya ketika shalat. Siapa yang tidak mengenal Rabbnya maka dia berada dalam keadaan tersesat, karena tidak tahu dimana beradanya yang dia sembah, dan dia juga tidak akan bisa menegakkan ibada dengan sebaik-baiknya, bahkan dia tidak tahu siapa Ilah yang dia sembah.

Salah satu cara untuk menganal dimana Allah adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan masalah dimana Allah. Kemudian menetapkan dan meyakininya dengan sebenar-benarnya. Keyakinan dimana Allah termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya yaitu penetapan sifat Al ‘Uluw (sifat ketinggian Allah –‘Azza wa Jalla– dan bahwa Dia diatas seluruh makhluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan penetapan Istiwa`-Nya diatas Al ‘Arsy[1], berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya. Namun perlu diketahui bahwa penetapan sifat Al ‘Uluw dan sifat Al Istiwa` sama dengan penetapan seluruh sifat Allah yang lainnya, yaitu harus berjalan diatas dasar penetapan sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam Firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)

Dan dalam ucapa Imam Malik yang sangat masyhur ketika beliau ditanya tentang sifat Al Istiwa`, maka beliau menjawab:

الإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَلْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Al Istiwa` bukan tidak diketahui (baca: telah dimaklumi), adapun kaifiyatnya (gambaran bentuk/caranya) tidak bisa digapai dengan akal, serta mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”[2]

Maka tidak ada yang mengetahui kaifiat ketinggian-Nya kecuali Allah –Al ‘Aliyyu Al ‘Azhim– sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak, sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al Qur`an dan As Sunnah, Ijma, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai perkara yang harus diketahui secara darurat dalam agama yang agung ini.

Disyari’atkan bertanya “Dimana Allah”

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِي قَالَ: كَنَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَلْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ آسِفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ- فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟ قَالَ ائْتِنِيْ بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamy –radhiyallahu‘anhu- beliau berkata: “Saya mempunyai seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing-kambingku di arah gunung Uhud dan Al Jawwaniyyah (sebelah utara Madinah). Maka suatu hari (ketika) saya mengontrol ternyata seekor serigala telah membawa (memangsa) seekor kambingku –dan saya adalah seorang lelaki dari anak Adam- sayapun marah sebagaimana (umumnya) anak Adam. Tetapi saya memukulnya dengan sekali pukulan. Lalu saya mendatangi Nabi –shallallahu’alayhi wa ‘ala alihi wa sallam-. Maka beliau menganggap besar hal tersebut atasku, saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah saya memerdekakan dia?’ Rasulullah menjawab: ‘Datangkanlah dia’. Maka saya mendatangkannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya: ‘Dimana Allah?’ Dia menjawab: ‘Di atas langit’. Dan beliau bertanya (lagi): ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah’. Kemudian beliau bersabda: ‘Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah’.” (HR. Muslim no. 537)

 Beberapa Hukum dan Faidah Berkaitan dengan Hadits

Imam Al Hafidz Ad Darimy (wafat 280 H) menyebutkan beberapa faedah dari hadits diatas, diantaranya:

  1. Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang jika dia tidak tahu bahwasanya Allah –‘Azza wa Jalla– ada diatas langit bukan di bumi maka tidaklah ia dikatakan beriman. Tidakkah kamu perhatikan bahwasanya Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam– menjadikan tanda keimanan budak tersebut dengan pengetahuannya bahwasanya Allah berada diatas langit.
  2. Dan sabda beliau: “Dimana Allah?” membongkar kebodohan orang yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Karena sesuatu yang ada disemua tempat mustahil untuk dikatakan “di mana dia?”. Dan tidak dikatakan “dimana” kecuali pada sesuatu yang berada di tempat tertentu.
  3. Seandainya Allah ada di mana-mana sebagaimana yang disangka oleh orang-orang yang menyimpang, maka pasti Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam– akan mengingkari ucapan budak perempuan tersebut, tapi Rasulullah justru membenarkanya dan mempersaksikan keimanannya.
  4. Dan seandainya Allah ada di bumi sebagaimana Allah berada di langit, maka tidaklah sempurna keimanan budak perempuan tersebut sampai dia mengetahui bahwa Allah berada di bumi sebagaimana dia mengetahui bahwa Allah berada di atas langit.
  5. Ketika ‘Abdullah ibnul Mubarak ditanya: “Bagaimana kita mengenal Rabb kita?” beliau menjawab “Bahwasanya Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas ‘Arsy berpisah dari makhluk-Nya.”
  6. Dan ini sangat sesuai dengan pertanyaan Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam– kepada budak wanita tersebut: “Dimana Allah?” Nabi menguji keimanannya dengan pertanyaan tersebut. Maka tatkala dia menjawab: “Di atas Langit”, Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam– bersabda: “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah.” (Ar Radd ‘Alal Jahmiyah hal 64-67, tahqiq Badr al Badr)
  7. Berkata Imam Abu Muhammad Al Juwiny Asy Syafi’iy (wafat 438 H): “Sabda Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam– dalam hadits yang shahih (hadits di atas –pent.) kepada budak perempuan: ‘Di mana Allah?’ dia menjawab: ‘Di atas langit’. Dan beliau tidak mengingkari budak tersebut dihadapan para sahabatnya supaya tidak timbul anggapan yang menyelisihi jawaban tersebut, bahkan Nabi –shallallahu’alayhi wa ‘ala alihi wa sallam– menetapkannya dan bersabda ‘Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah’.” (Lihat Majmu’atur Rasail Al Muniriyah 1/176)
  8. Berkata Imam Adz Dzahaby (wafat 748 H) “Hadits ini adalah hadits yang shahih dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i dan Imam-Imam lainnya dalam karya-karya mereka. Mereka memahami apa adanya tanpa tawil (memalingkan dari makna sebenarnya tanpa dalil –pent.) dan tidak pula merubah-rubah. Dan demikianlah kami melihat, semua orang yang ditanya ‘Dimana Allah?’ maka akan menjawab dengan tepat sesuai dengan fithrahnya bahwasanya Allah berada di atas langit.

Dalam hadits ini ada dua perkara yang penting:

  1. Disyariatkannya ucapan seorang muslim untuk bertanya: “Dimana Allah?”
  2. Disyariatkan jawaban yang ditanya: “Diatas langit”

Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al MusthofaShallallahu’alayhi wa sallam-. (Lihat Mukhtashar Al ‘Uluw hal 81)


[1]                  Singgasana Allah, Allah istiwa’ diatasnya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, dan al ‘Arsy adalah salah satu makhluk Allah yang sangat besar.

[2]                  Baca uraian lengkap tentang takhrij dan penjelasan ucapan beliau ini dari tulisan Syaikh Doktor ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad dalam Majalah Al Jami’ah Al Islamiyah no. 111 dan 112 tahun 1421 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s