Dimana Allah? (Bag. 8) Seluruh Imam Ahlussunnah Berpendapat Bahwa Allah Berada Di Atas Langit

Berikut ini nukilah beberapa Imam Ahlussunnah dalam masalah ini:

Dari Para Sahabat Rasulullah

Berkata Abu Bakar Ash Shiddiq “Wahai manusia jika Muhammad adalah Ilah (sesembahan) yang kalian sembah maka sungguh Muhammad telah meninggal. Akan tetapi jika Ilah kalian adalah Allah Yang di langit maka Ilah kalian tidak mati, kemudian beliau membaca ayat:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 144)

(Ar Radd ‘Alal Jahmiyah hal 44-45 no 78 dan berkata Adz Dzahaby di kitab Al ‘Uluw hal 62 ini hadits shahih)

Perkataan seluruh para sahabat –radhiyallahu’anhum-, “Berkata Adi bin ‘Umairah –radhiyallahu’anhu– ‘Saya keliau hijrah kepada Rasulullah –Shallallahu’alayhi wa sallam-, kemudiania menyebutkan kisah yang panjang kemudian dalam kisahnya itu dia mengatakan ‘Maka tiba-tiba beliau dan yang bersamanya (para sahabat), mereka bersujud di atas wajah-wajah mereka, dan mereka yakin bahwa Ilah mereka di atas langit maka sayapun masuk Islam dan mengikuti beliau’.” (Ijtima‘ul Juyusy: 90)

 Dari Tabi’in

Berkata Imam Al Auza‘iy “Kami berkata sedangkan para Tabi’in masih banyak tersebar ‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi Penyebutan-Nya berada di atas ‘Arsy-Nya dan kami beriman terhadap semua yang datang dari As Sunnah berupa sifat-sifat-Nya’.” (Al ‘Uluw hal 102, Ijtimahal 96, Fathul Bary 12/4-6 dan Al Asma` wash Shifat karya Al Baihaqy 2/150)

Perkataan Imam Empat

Perkataan Abu Hanifah

“Siapa yang mengatakan ‘Saya tidak mengetahui Rabbku apakah Dia di langit atau di bumi, maka dia kafir, karena Allah –Subhanahu wa Ta’ala– mengatakan

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang Beristiwa` di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Dan ‘Arsy-Nya di atas tujuh langit.” Maka Abu Muthi‘ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhy mengatakan kepada beliau “(Bagaimana hukumnya) Apabila ada yang mengatakan bahwa Allah di atas ‘Arsy istiwa` akan tetapi dia mengatakan bahwasanya saya tidak tahu apakah ‘Arsy itu di langit atau di bumi?” beliau menjawab “Dia kafir sebab mengingkari keberadaan-Nya di atas langit, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat yang paling tinggi dan Dia dimintai (do’a) dari atas dan bukan dari bawah.” (Al Fiqhul Akbar riwayat Abu Muthi’ hal 40-44, Al ‘Uluw hal 101-102 dan Mukhtashar Al ‘Uluw hal 126)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah membawakan atsar ini “Pada perkataan Abu Hanifah –di sisi para sahabatnya- yag masyhur ini (terkandung pengertian) bahwa ia mengkafirkan orang yang tawaqquf (tidak menentukan sikap) yaitu orang yang mengatakan ‘Saya tidak mengetahui Rabbku apakah di langit atau di bumi’, maka bagaimana lagi (hukumnya) terhadap orang yang menentang yang menafikannya (menolak Allah ada di atas langit) dan mengatakan ‘(Allah) tidak ada di atas langit’ atau (dia mengatakan) ‘tidak ada di bumi tidak pula di langit’? (Beliau) berhujjah atas kekafirannya dengan firman Allah

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang Beristiwa` di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Beliau berkata ‘dan ‘Arsy-Nya di atas tujuh langit-Nya’.”

Perkataan Imam Malik bin Anas

Dari Yahya bin Yahya, beliau berkata “Ketika kami berada di sisi Malik bin Anas maka datang seorang laki-laki kemudian dia mengatakan ‘Wahai Abu ‘Abdillah (kun-yah Imam Malik)

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang Beristiwa` di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Bagaimana istiwa`?’ Maka Imam Malik menundukkan kepalanya sampai beliau bercucuran keringat kemudian beliau mengatakan: ‘Istiwa` itu dipahami, kaifiatnya (bagaimananya) tidak diketahui, sedangkan beriman dengannya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan saya tidak melihatmu kecuali seorang mubtadi’.” Maka Imam Malik memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah 2/398, Al Asma` wash Shifat karya Al Baihaqy 2/150-151, Ar Radd ‘Alal Jahmiyah karya Ad Darimy hal 33 dan Al ‘Uluw hal 102 dan selainnya)

Perkataan Imam Asy Syafi’iy

“Perkara dalam As Sunnah yang saya berada di atasnya dan yang saya melihat sahabat-sahabat kami yaitu para ahli hadits yang saya lihat dan saya mengambil (hadits) dari mereka seperti Sufyan dan Malik dan selain keduanya (yaitu) berikrar dengan syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah dan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, mendekat kepada hamba-Nya sesuai kehendak-Nya dan bahwa Allah turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima‘ul Juyusy hal 122 dan Mukhtasar Al ‘Uluw hal 176)

Adapun Imam Ahmad

Maka beliau ini dikenal dan tersohor dalam membela madzhab yang haq ini, bahkan beliau mengarang suatu kitab yang agung (yaitu) Ar Radd ‘Alal Jahmiyah waz Zanadiqah.

Perkataan Abul Hasan Al Asy’ary –rahimahullah[1]

Dalam kitabnya Ikhtilaful Mushallin wa Maqalatul Islamiyyin hal 16 “Perkataan Ahlussunnah dan Ashabul hadits secara ringkas adalah pengikraran terhadap Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan semua yang datang dari Allah dan semua yang diriwayatkan Ats Tsiqat (rawi-rawi terpercaya) dari Rasulullah, mereka tidak menolak sedikitpun dari hal tersebut bahwa Allah itu Satu, Esa, Sendiri, Maha Tegak, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia…, dan bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya Ta’ala

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang Beristiwa` di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5).”

Lihat juga Ikhtilaf Ahlil Qiblat fil ‘Arsy hal 211 dan Al Ibanah fii Usulid Diyanah.


[1]                  Beliau ini telah dizhalimi dengan kezhaliman yang melampaui batas sehingga dinisbahkan kepada beliau perkataan-perkataan dan pendapat-pendapat yang beliau sendiri telah berlepas diri dari hal tersebut dan rujuk kepada keyakinan Ulama Salaf Ahlussunnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s