Pembatal Keislaman (Bag. 1) – Kaidah-Kaidah Penting Seputar Pengkafiran

Tulisan-tulisan dengan judul ini merupakan ceramah Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi -حفظه الله-, yang kemudian kami transkrip. Semoga mendatangkan manfaat yang banyak kepada yang membacanya, dan semoga Allah memahamkan kita tentang permasalahan agama…

نواقض الإسلام

شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب -رحمه الله تعالى

Pembatal Keislaman merupakan salah satu masalah penting di dalam syari’ah yang perlu diketahui oleh setiap muslim dan muslimah agar dia tidak terjatuh di dalam hal-hal yang bisa membatalkan keislamannya. Dalam menguraikan pembatal-pembatal keislaman ini, kita akan membaca sebuah risaalah ringkas yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhaab –رحمه الله- yang berjudul Nawaaqidhul Islaam.

Nawaaqidh secara bahasa adalah kata jama’ dari kalimat naaqidh. Kalimat naaqidh itu sendiri kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah pembatal. Yaitu sesuatu yang bisa membatalkan keislaman seseorang, menghancurkan keislamannya, sehingga orang tersebut digolongkan sebagai orang yang kaafir, keluar dari Islaam.

Di sini Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhaab –رحمه الله- memulai dengan ucapan

بسم الله الرحمن الرحيم (dengan nama Allaah yang maha pengasih lagi maha penyayang)

Memulai tulisan dengan بسم الله الرحمن الرحيم adalah perkara yang dianjurkan di dalam syari’ah, sebab Al Qur`anul kariim dimulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim, dan juga Rasuulullaah  –صلّى الله عليه و سلّم- di dalam menulis surat kepada raja-raja, beliau memulainya dengan bismillaahirrahmaanirrahiim. Ketika beliau menulis surat kepada Heracl (pembesar Romawiyyah), beliau memulai suratnya dengan bismillaahirrahmaanirrahiim. Juga dalam perjanjian Hudaibiyyah, beliau memerintahkan kepada ‘Aliy bin Abii Thaalib –رضي الله عنه- untuk menulis, memulai isi perjanjian dengan bismillaahirrahmaanirrahiim. Maka, itu adalah suatu perkara yang disunnahkan di dalam syari’ah. Karena itu para ‘ulamaa –رحمهم الله- sepakat untuk memulai karangan-karangan mereka, karya-karya mereka dengan bismillaahirrahmaanirrahiim. Kalau membaca dimulai dengan ucapan bismillaahirrahmaanirrahiim, maka itu artinya, “Dengan nama Allaah yang maha pengasih lagi maha penyayang, saya mulai membaca.” Kalau dia berjalanpun demikian. Demikian pula dalam seluruh amalannya.

Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhaab –رحمه الله- berkata,

“Ketahuilah, sesungguhnya Pembatal-pembatal Keislaman itu ada sepuluh pembatal.”

Menyebutkan kalimat sepuluh di sini bukan pembatasan. Tidaklah dibatasi pembatal keislaman itu hanya sepuluh. Pembatal keislaman itu banyak. Namun, Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhaab –رحمه الله- di sini menyebutkan pembatal-pembatal keislaman yang paling banyak terjadi, dan paling banyak dilakukan di masa beliau. Ini diterangkan oleh beliau sendiri di akhir risaalah, dan beliau mengatakan bahwa ini termasuk perkara yang paling besar bahayanya, dan yang paling banyak orang terjatuh di dalamnya.

Para ‘ulamaa telah mengarang karya-karyanya tersendiri atau telah menyebutkan di dalam buku-buku Fiqh bab khusus yang diberi judul dengan nama ‘Baabul Murtad’ (Bab Orang yang Keluar dari Agama). Ini menunjukan bahwa seorang muslim itu kadang dihukumi keluar dari agama apabila ia melakukan perkara-perkara yang bisa membatalkan keislamannya, dan adanya orang yang murtad ini disepakati oleh para ‘ulamaa. Di dalam Baab Murtad itu disebutkan banyak perkara yang merupakan pembatal keislaman, tidak hanya sekedar sepuluh saja, bahkan lebih dari itu. Namun sekali lagi, di sini Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhaab –رحمه الله- hanya menyebutkan yang terpenting dari sepuluh itu.

⚠️ Sebelum kita mulai menjelaskan Sepuluh Pembatal Keislaman ini, berhubung karena masalah yang kita jelaskan adalah pembatal keislaman yang kaitannya adalah memberikan hukum kepada seseorang bahwa dia bukan muslim lagi, sudah batal keislamannya, dia sudah kaafir, keluar dari agama, maka di sini sebagai pendahuluan, butuh diberikan beberapa dasar dan pijakan di dalam masalah menjatuhkan hukuman pengkafiran atau menetapkan bahwa orang ini batal keislamannya.

⚠️ Sebab masalah ini termasuk masalah yang sangat penting. Dan berbicara tanpa ‘ilmu dalam masalah ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Karena itu, butuh diuraikan beberapa pendahuluan di sini sebelum kita menjelaskan Sepuluh Pembatal Keislaman tersebut. Pendahuluan-pendahuluan ini berkaitan dengan pengkafiran, mengeluarkan seorang muslim dari keislamannya, menyatakan bahwa ia telah batal keislamannya.

 

👉 Pendahuluan yang pertama

                Perlu diketahui bahwa mengkafirkan seorang Muslim adalah perkara yang sangat riskan. Artinya, seorang Muslim harus berhati-hati di dalam perkara tersebut. Sebab orang yang tergesa-gesa mengkafirkan tanpa haq, tanpa kebenaran, tanpa ‘ilmu, maka ini artinya, ia telah berbuat dosa terhadap dirinya dan terhadap agamanya. Maka tidak sepantasnya seseorang masuk ke dalam masalah ini lalu memberikan hukum bahwa orang itu kaafir, kecuali dengan kejelasan yang sangat terang, dengan daliil yang sangat kuat. Karena Rasuulullaah –صلّى الله عليه و سلّم- bersabda dalam sebuah hadiits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhari dan Imaam Muslim –رحمهما الله-,

“Siapa yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai Kaafir’, maka kalimat ini harus ditanggung oleh salah seorang dari keduanya. Kalau kalimat itu benar (penggunaannya pada orang tersebut), maka tidak ada masalah. Tapi kalau tidak benar, maka kalimat itu akan kembali kepadanya.”

Maka perlu diketahui bahwa masalah ini (menghukumi seseorang itu kaafir) bukan masalah yang kecil. “Ini pembatal keislaman, ini membatalkan keislaman, masalah ini membatalkan keislaman.” Tapi apakah orang-perorangnya langsung dihukumi batal keislamannya? Ini butuh pembahasan tersendiri dengan ‘ilmu yang kuat, kejelasan yang kuat di dalam masalah tersebut. Kita tidak boleh berbicara tanpa ‘ilmu.

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ


“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) mempersekutukan Allaah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) membicarakan tentang Allaah apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al A’râf: 33).

Kita dilarang berbicara tanpa ‘ilmu. Allaah –سبحانه وتعالى- berfirman,

 وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, mata hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (Al Israa: 36).

               

Dan juga Allaah –سبحانه وتعالى- berfirman,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kedustaan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah tidak akan beruntung. Itu hanya sekedar perhiasan yang sedikit, dan kelak mereka akan mendapat siksaan yang pedih.” (An Nahl: 116-117).

Maka berbicara tanpa ‘ilmu adalah perkara yang sangat berbahaya. Bahkan Ibnul Qayyim –رحمه الله- menyebutkan bahwa dosa yang paling besar secara mutlak adalah berbicara tanpa ‘ilmu. Kenapa? Karena kesyirikan itu juga muncul karena berbicara tanpa ‘ilmu. Maka secara khusus di sini, mengkafirkan, atau menghukumi seorang muslim batal keislamannya ini hendaknya dibangun di atas ‘ilmu syari’ah. Tidak boleh seseorang tergesa-gesa di dalamnya. Sebab menghukumi, mengkafirkan, membatalkan keislaman ini masalah yang sangat riskan sekali. Hendaknya seseorang berhati-hati di dalamnya.

Orang yang menjatuhkan vonis kaafir itu diterima kalau munculnya dari ‘ulamaa yang memang sudah kuat dasar pengetahuannya, dasar ‘ilmunya. Namun, kalau ia melakukan hal-hal tersebut tanpa ‘ilmu, inilah yang berbahaya, dan diperingatkan sangat keras di dalam syari’at. Juga para ‘ulamaa –رحمهم الله- berkata bahwa terlalu banyak mengkafirkan itu tidak terpuji secara mutlak. Tiap kali ada orang yang berbuat begini, ini kaafir, itu kaafir, Si fulan kaafir. Secara mutlak berbuat seperti itu adalah tercela. Seseorang hendaknya berhati-hati dalam masalah ini, sebab masalah ini adalah masalah yang berkaitan dengan dasar-dasar syar

👉 Pendahuluan yang kedua

Perlu diketahui bahwa sahnya pengkafiran, menjatuhkan hukum kaafir itu adalah hak Allaah dan hak RasuulNya. Karena itu, tidak boleh seseorang menjatuhkan hukum kaafir hanya dengan hawa nafsunya atau karena dia bersemangat. Tapi penjatuhan hukum pengkafiran, membatalkan keislaman itu semuanya harus dengan daliil-daliil dari Al Qur`an dan hadiits. Bukan hanya sekedar merasa ini tidak baik, ini adalah jelek, lantas dia mengkafirkan orang tersebut. Tidak! Tapi hukum kaafir itu sesuai dengan tuntunan syari’ah.

Misalnya, ada seorang anak berzina dengan ibunya. Ini adalah perkara yang sangat tercela dalam diri manusia, dan manusia yang sehat pasti benci akan perkara ini. Namun, kebencian kita terhadap perkara tersebut tidak boleh sampai mengatakan bahwa orang tersebut kaafir, walaupun perbuatan yang dia lakukan betul-betul perbuatan yang keji dan tercela. Kenapa? Sebab hukum syari’at tidak memberikan hukum bahwa dia kaafir. Maka bukan akal yang dipakai di sini, bukan pula semangat atau hawa nafsu, tapi yang dipakai adalah daliil-daliil dari Al Qur`an dan Assunnah.

Kalau ada yang mengingkari suatu perkara dalam agama, maka kadang itu dikafirkan dengannya. Seperti misalnya, ada seseorang yang mengatakan, atau mengingkari tentang disunnahkannya bersiwak. Apa itu bersiwak? Bersiwak adalah membersihkan gigi atau mulut dengan menggunakan batang kayu siwak, atau menggunakan alat yang semisal dengan nash; misalnya pasta gigi ataupun yang lainnya. Ini sunnah hukumnya dalam syari’at. Hukum syar’i ini, hukum sunnah ini, kalau ada yang mengingkarinya atau ada yang menentangnya, maka dia dihukumi kaafir. Kenapa? Sebab dia mengingkari suatu hukum yang telah tegak nashnya dalam hadiits Rasuulullaah –صلّى الله عليه و سلّم-.

Jadi, yang dipakai di sini untuk memberikan hukum bukanlah perasaan, bukan pula adat-istiadat, atau kebiasaan. Tapi yang dipakai untuk memberikan hukum adalah daliil dari Al Qur`an dan Sunnah Rasuulullaah صلّىاللهعليهوسلّم. Inilah yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim –رحمه الله- dalam Nihaayah beliau. Ibnul Qayyim –رحمه الله- berkata,

“Pengkafiran adalah hak Allaah –تعالى-, kemudian hak Rasul-Nya. Dengan hukum syar’i tetapnya pengkafiran itu, BUKAN dengan ucapannya Si anu maupun Si anu. Siapa yang Rabbul ‘aalamiin (Allaah –تعالى-) dan hambaNya (Rasuulullaah –صلّى الله عليه و سلّم-) telah mengkafirkannya, maka orang tersebut dihukumi sebagai kaafir.”

Ini ketentuan di dalam syari’ah, bahwa pengkafiran adalah hak Allaah Ta’aalaa dan hak Rasuul-Nya. Mengatakan ‘ini batal keislamannya’, ‘ini pembatal keislaman’ adalah hak Allaah –تعالى- dan hak Rasuul-Nya.

👉 Pendahuluan yang ketiga

Perlu diketahui bahwa tingkatan atau derajat pembatal-pembatal keislaman itu bertingkat-tingkat dan bercabang-cabang, sebagaimana keimanan itu bertingkat-tingkat dan bercabang-cabang. Ada yang derajatnya di derajat Islaam, ada yang di derajat iimaan, ada juga yang di derajat ikhsan (muraqabah); dan ini yang paling tinggi derajatnya. Yaitu kalau dia menyembah Allaah –تعالى- dalam kehidupannya, dia merasa seakan-akan dia diawasi oleh Allaah –سبحانه و تعالى-. Ini derajat muraqabah.

Dan pengkafiran juga bercabang-cabang, sebagaimana iimaan itu bercabang-cabang. Cabang keimanan itu banyak. Ada shalaat, zakaat, puasa, menyambung silahturrahiim, menyingkirkan gangguan dari jalan, rasa malu, menolong saudara, meringankan beban qaum muslimiin, dll, itu adalah cabang keimanan. Demikian pula kekafiran; ada tingkatan-tingkatannya, dan ada cabang-cabangnya. Sebab dalam Al Qur`an, Allaah –سبحانه و تعالى- berfirman,

 إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ

“Sesungguhnya annasi itu adalah menambah kekufuran.” (At Taubah: 37)

Annasi dalam pengertian orang ‘Arab adalah memundurkan bulan-bulan haram ke waktu tertentu yang mencocoki mereka. Maka kebiasaan mereka ini oleh Allaah –سبحانه و تعالى- dikatakan bahwa itu adalah tambahan di dalam kekufuran. Ini menunjukan bahwa kekufuran itu bertingkat-tingkat. Dan juga Allaah –سبحانه و تعالى- berfirman,

الَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ اللّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَاباً فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُواْ يُفْسِدُونَ

“Orang yang kaafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allaah, maka Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan…” (An Nahl: 88).Ini menunjukan bahwa tingkatan siksa itu berbeda-beda. Ada yang siksaannya keras, ada juga yang lebih keras lagi di atasnya. Dan juga Allaah –سبحانه و تعالى- berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munaafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang  paling bawah di neraka…” (An Nisaa: 145).

Orang kaafir asli di dalam neraka, tetapi orang munaafiq berada di bawahnya lagi, sebab dia tahu kebenaran, tetapi kaafir terhadapnya. Maka kekufuran itu bertingkat-tingkat dan bercabang-cabang sebagaimana keimanan itu bertingkat-tingkat dan bercabang-cabang pula.

👉 Pendahuluan yang keempat

Bahwa seseorang itu harus membedakan antara perbuatan dan pelaku. Jadi, dalam memberikan hukum kaafir atau hukum membatalkan keislaman itu HARUS dibedakan antara perbuatan dan pelakunya (dibedakan antara jenis perbuatannya dan orang yang melakukannya). Contohnya: perbuatan menyembelih untuk selain Allaah –سبحانه و تعالى- dihukumi sebagai syirik akbar. Jadi bedakan di sini, antara perbuatannya menyembelih, dengan pelakunya (orang yang melakukan hal tersebut).

Para ‘ulamaa menetapkan hukum kekafiran pada perbuatan, KALAU memang daliil menunjukan hal itu. Jadi, kalau ada perbuatan kekufuran—ini misalnya menyembelih kepada selain Allaah, itu bernadzar kepada selain Allaah, bernadzar di kuburan untuk penghuni qubur, atau itu berdoa kepada selain Allaah—maka perbuatannya ini (berdoa kepada selain Allaah, bernadzar kepada selain Allaah) semuanya langsung diberi hukum: PERBUATAN itu adalah kesyirikan dan kekafiran, pembatal keislaman. Itu hukumnya. Langsung. Tetapi orang yang melakukannya, apakah dia dikafirkan? Belum tentu. Jadi, perbuatannya dianggap kufur dan kesyirikan, KALAU daliil menunjukan hal itu, tetapi orangnya belum tentu dihukumi bahwa dia kaafir. Adapun pelakunya, tidak boleh dikafirkan kecuali dengan dua syarat:

Syarat yang pertama: menunjukan bahwa perbuatan yang dia lakukan adalah kekafiran.

Syarat yang kedua: ketika dia dikafirkan, maka harus telah terpenuhi syarat-syarat, dan hilang darinya penghalang-penghalang.

Yang ingin ditekankan di sini, bahwasanya kita harus membedakan antara perbuatan dan pelaku di dalam mengkafirkan (dibedakan antara perbuatannya dan pelakunya). Kita globalkan pendahuluan yang keempat ini dengan satu kalimat: “Tidak semua orang yang terjatuh melakukan perbuatan kekufuran dihukumi kaafir, namun ada ketentuan-ketentuan tersendiri di dalam syari’ah.”

👉 Pendahuluan yang kelima

Dalam menjatuhkan hukum pembatal keislaman (mengkafirkan seseorang keluar dari keislaman) ini harus dibedakan antara ahkamuddunya wal akhirah (hukum di dunia dan hukum di akhirat). Sebab tidak semua orang yang dikatakan kaafir di dunia, di akhirat dikatakan juga dia pasti penduduk neraka. Belum tentu. Harus dibedakan bahwa hukum di dunia itu berbeda dengan hukum di akhirat. Ini ditunjukan oleh sebuah hadiits yang diriwayatkan oleh Imaam Ahmad, dan selainnya rahimahumullaah, bahwa ada empat orang datang kepada Allaah –سبحانه و تعالى- untuk berhujjah pada hari kiamat. Yang satunya tuli, kemudian yang satunya lagi adalah orang gila, kemudian yang ketiga adalah orang yang tua bangka, dan tidak bisa berpikir lagi (sudah pikun), dan yang keempat adalah orang yang hidup di masa fathrah (masa yang tidak diutusnya nabii dan rasuul di masa itu). Maka datanglah orang yang tuli berkata, “Wahai Allaah, rasuul datang membawa agama, tapi saya tidak bisa mendengar (maksudnya tidak tahu kebenaran, jadi minta keringanan).” Orang yang gila juga bicara seperti itu, “rasuul datang, tapi saya tidak waras.” Dan seorang tua yang sudah pikun berkata, “Wahai Allaah, rasuul datang menda’wahpun, saya sudah pikun.” Dan orang yang hidup di masa fathrah juga berkata seperti itu. Maka orang-orang yang seperti ini tempatnya di Al A’raaf, diantara surga dan neraka. Mereka akan diuji dengan sebuah neraka, mereka disuruh masuk ke dalamnya. Kalau dia mentaatinya, maka dia akan masuk ke dalam neraka tersebut, padahal ternyata di dalamnya adalah surga. Kalau dia tidak taat, maka dia dimasukan ke dalam neraka.

Orang-orang yang hidup sebelum nabii diutus sebagai rasuul, atau di masa fathrah (tidak ada rasuul yang diutus), di dunianya dihukumi kaafir, bukan muslim. Mereka tidak boleh dikatakan muslim, namun dihukumi kaafir. Adapun di akhirat, hukumnya kembali kepada Allaah –سبحانه و تعالى-. Maka harus dibedakan antara hukum di dunia dan hukum di akhirat. Ini termasuk masalah-masalah penting yang perlu diketahui di sini sebagai pendahuluan.

[Bersambung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s